Kedatangan Bangsa Portugis bukan hanya sekadar menginginkan rempah-rempah yang dihasilkan Bumi Nusantara terutama di wilayah Maluku, namun nusantara memiliki beberapa faktor lain yang membuat Bangsa Portugis tertarik ke nusantara. Bangsa Portugis berusaha memonopoli seluruh aspek perdagangan di nusantara, namun apakah Portugis dapat memegang kendali total di Maluku?. Berbagai usaha yang dilakukan Portugis untuk mencapai tujuannya hingga terjadi pembunuhan Sultan Khairun sehingga memicu perlawanan rakyat yan nig dipimpin oleh Sultan Baabullah, Namun bagaimana Strategi yang digunakan oleh Sultan Baabullah dalam mengusir Portugis.
Faktor lain yang menyebabkan Portugis tertarik pada nusantara ialah wilayah strategis yan dimiliki nusantara, perspektif ini juga terkandung dalam sumber ilmiah Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680 karya Anthony Reid, yang menjelaskan bahwa periode ini adalah “Zaman Perdagangan” di mana Asia Tenggara bukanlah objek pasif, melainkan pemain kunci
yang sangat dinamis. Integrasi pasar ini menunjukkan bahwa Nusantara telah memiliki sistem ekonomi yang maju sebelum intervensi Barat mencoba mengubah aturannya menjadi sistem monopoli tertutup melalui pembangunan benteng-benteng dan perjanjian politik yang membatasi jalur dagang. Salah satu kekurangan dalam narasi sejarah populer adalah anggapan bahwa Portugis
memegang kendali total pasca-penaklukan Malaka tahun 1511. Realitasnya, Portugis di Nusantara sangat bergantung pada aliansi dengan kekuatan lokal untuk sekadar bertahan hidup. Dalam tesis Malacca Beyond European Colonialism (15th-17th Centuries), Daya Negri Wijaya mengkritik historiografi Eurosentris dengan menunjukkan bahwa kekuasaan Portugis bersifat hibrida dan sangat terbatas di luar tembok benteng mereka. Portugis sering kali terjebak dalam politik lokal yang tidak mereka mengerti sepenuhnya. Menurut A History of Modern Indonesia Since c. 1200 karya M.C. Ricklefs, ekspansi Portugis ke Maluku justru menyeret mereka ke dalam persaingan abadi antara Ternate dan Tidore. Portugis tidak bertindak sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai salah satu faksi yang harus terus-menerus bernegosiasi untuk mendapatkan akses ke pohon cengkih. Ketergantungan ini menciptakan kerentanan yang nantinya akan dieksploitasi secara cerdas oleh Sultan Baabullah.
Ketegangan mencapai titik puncak ketika Portugis menyadari bahwa kontrol mereka atas arus perdagangan tidak sepenuhnya efektif. Upaya mereka untuk memaksakan monopoli justru merusak otonomi ekonomi kerajaan lokal. Pembunuhan Sultan Hairun secara licik oleh Portugis di dalam benteng pada tahun 1570 sering kali dianggap sebagai penyebab tunggal perang. Namun, jika menggunakan kritik sumber yang mendalam, peristiwa tersebut sebenarnya berfungsi sebagai “katalis politik” yang menyatukan kemarahan rakyat atas ketidakadilan ekonomi yang telah berlangsung lama. Saya berpendapat bahwa perlawanan Baabullah bukanlah awal dari perlawanan aktor lokal, namun merupakan perlawanan yang paling terorganisir. jauh sebelumnya ada perlawanan dari rakyat Hitu. Buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (Edisi Pemutakhiran) mencatat bahwa Sultan Baabullah merespons peristiwa tersebut dengan melakukan konsolidasi militer yang luar biasa Ia tidak hanya memimpin Ternate, tetapi berhasil membangun aliansi regional yang luas. Kekuatan militer lokal di bawah Baabullah menunjukkan kapasitas logistik yang melampaui
kemampuan Portugis di Timur, yang saat itu sudah mulai mengalami krisis keuangan dan kekurangan personel. Pengepungan terhadap Benteng Sao Paulo yang berlangsung selama lima tahun (1570-1575) merupakan salah satu strategi blokade paling sukses dalam sejarah Nusantara. Baabullah tidak menggunakan serangan langsung yang gegabah, melainkan memutus seluruh jalur pasokan makanan bagi Portugis. Kemenangan ini, yang berakhir dengan pengusiran bangsa Portugis dari Ternate pada tahun 1575. Dalam Hikayat Ternate, kemenangan ini dirayakan sebagai puncak legitimasi politik Baabullah sebagai “Penguasa 72 Pulau”. Melalui sumber lokal ini, kita dapat melihat bagaimana identitas dan kedaulatan Ternate dikonstruksi melalui keberhasilan mempertahankan tanah air dari penyusup asing. Baabullah memastikan bahwa Ternate tetap menjadi pemain aktif dalam jaringan perdagangan global, bahkan setelah Portugis pergi, dengan tetap menjalin hubungan dengan berbagai bangsa pedagang lainnya.
Wilayah strategis untuk melakukan perdagangan yang dimiliki nusantara dan sumber rempah-rempah adalah kunci utama ketertarikan Portugis ke nusantara, namun dalam usaha memonopoli perdagangan, Portugis gagal dalam kendali total atas nusantara. usaha itu juga yang menimbulkan perlawanan rakyat, sehingga pada perlawanan Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis bahkan Ternate mencapai puncak kejayaannya
Daftar Pustaka
Daya Negri Wijaya, 2022, Malacca Beyond European Colonialism (15th-17th Centuries), Faculty of Arts University of Porto, Porto.
Manus, M.P.B., dkk., 2012, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV: Kemunculan Penjajah dan Antikolonialisme (Edisi Pemutakhiran), Balai Pustaka, Jakarta.
Reid, Anthony, 2011, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Yale University Press, New Haven.
Ricklefs, M.C., 2008, A History of Modern Indonesia Since c. 1200, Stanford University Press, California.
Putuhena, M. Shaleh (Penerjemah), 1980, Hikayat Ternate, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Oleh : Ali Rohmatulloh (Universitas Negeri Malang)




