Keanekaragaman kuliner di Malang bukan hanya menjadi pelengkap pariwisata, tetapi telah menjelma sebagai cermin identitas budaya masyarakatnya. Di kota yang berhawa sejuk ini, makanan bukan sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari pengalaman hidup yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari cita rasa tradisional seperti rawon, orem-orem, sate kelinci, hingga tempe mendol yang kerap muncul di meja makan warga lokal, semuanya mencerminkan akar sejarah dan kedekatan masyarakat Malang dengan hasil bumi dan tradisi leluhurnya. Di sisi lain, perkembangan zaman juga membawa gelombang kreativitas baru melalui hadirnya kafe, restoran tematik, dan street food modern yang menawarkan berbagai inovasi rasa. Menariknya, perkembangan ini tidak serta-merta menggeser kuliner tradisional, melainkan membentuk ekosistem kuliner yang beragam dan saling melengkapi. Meski begitu, penting bagi kita untuk merenungkan bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan pelestarian. Jika tidak disertai kepedulian, ada risiko bahwa makanan khas yang menjadi identitas Malang justru tersisih oleh tren sesaat. Karena itu, peran masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk memastikan kuliner tradisional tetap hidup dan relevan—baik melalui edukasi, festival kuliner, maupun dukungan bagi UMKM lokal. Pada akhirnya, keanekaragaman kuliner di Malang bukan hanya soal banyaknya pilihan makanan, tetapi tentang bagaimana rasa-rasa tersebut mempertahankan cerita, nilai, dan kebanggaan yang membuat Malang berbeda dari kota lainnya.
Keunikan bahan dan proses pengolahan tradisional
Orem-orem khas Malang memiliki ciri khas yang membedakannya dari hidangan lain seperti lontong sayur atau opor. Keistimewaannya tampak pada bahan isian, karena orem-orem hanya menggunakan tempe dan tauge, sedangkan lontong sayur umumnya berisi aneka jenis sayuran. Kuahnya juga berbeda, orem-orem memakai santan yang dicampur kecap sehingga menciptakan rasa yang unik. Perbedaan lain terlihat pada jenis lontong yang digunakan, orem-orem memakai lontong atau ketupat yang dibungkus daun kelapa, sementara lontong sayur menggunakan daun pisang. Dalam pembuatannya, bahan pokok orem-orem adalah tempe dan santan. Untuk mempertahankan rasa aslinya, dengan tetap memakai takaran bumbu yang sama dan tidak mengurangi bahan, meskipun harga kebutuhan dapur meningkat, agar cita rasa khasnya tetap konsisten.
Nilai-nilai kearifan lokal dalam orem-orem
Di sebuah sudut kecil Kota Malang, hidangan bernama orem-orem masih tetap setia disajikan meski tak banyak orang lagi yang mencarinya. Sekilas ia tampak sederhana tempe, tauge, santan, dan sedikit bumbu dapur namun di balik kesederhanaan itu tersimpan makna yang pernah begitu penting bagi masyarakat.
Dulu, orem-orem hadir di setiap hajatan dan syukuran keluarga. Ia bukan sekadar makanan, tetapi simbol kebersamaan. Semakin banyak orang berkumpul, semakin nikmat orem-orem disantap seolah rasa hidangan ini memang diciptakan untuk dinikmati bersama, bukan sendirian.
Bahan-bahan lokal yang digunakan mencerminkan karakter masyarakat agraris Malang menghargai hasil bumi, memanfaatkan apa yang ada, dan menjadikan makanan sebagai bentuk syukur, bukan pameran kemewahan. Orem-orem mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana tetap bisa bermakna.
Kini, hanya lima atau enam warung yang masih menjualnya. Langka bukan karena tak berharga, tetapi karena tak banyak yang menjaga. Di tangan mereka yang tetap memasaknya, orem-orem menjadi semacam warisan, bukan hanya kuliner, tetapi juga ingatan tentang cara hidup yang dulu dijalani.
Mungkin orem-orem tidak sepopuler bakso atau rawon. Tetapi bagi mereka yang memahami maknanya, setiap suapan adalah cerita tentang keluarga, tradisi, dan rasa syukur yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Tantangan Modernitas: Maraknya Kafe dan Pergeseran Tren Kuliner
Kota Malang kini dipenuhi kafe baru dengan konsep kreatif dan gaya visual yang mengikuti arus anak muda. Namun bagi penjaga orem-orem, perubahan itu bukan ancaman. Mereka memilih tetap fokus pada rasa, bukan tren. Kafe boleh berganti konsep setiap tahun, tetapi kualitas masakan rumahan yang konsisten selalu punya tempat di hati pelanggan. Tidak perlu meniru gaya modern atau menambahkan gimmick, kekuatan orem-orem justru terletak pada kesahajaan yang membuatnya bertahan puluhan tahun.
Orem-Orem sebagai Pusaka Kuliner yang Harus Dijaga
Ketika kafe dan makanan kekinian mendominasi perhatian publik, ada kekhawatiran bahwa orem-orem bisa hilang perlahan. Namun bagi para peracik orem-orem, cara melestarikannya bukan dengan terjebak pada ketakutan atau ikut-ikutan mengejar viralitas. Mereka memilih tetap menjaga rasa dan kualitas, karena itulah yang membuat pelanggan kembali. Konsistensi dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap arus cepat modernitas. Selama racikan bumbu tetap terjaga, selama pelanggan masih bisa merasakan kekayaan santan dan tempe goreng khasnya, orem-orem tidak akan benar-benar hilang. Ia tetap hidup melalui ketulusan orang-orang yang meracik dan menikmatinya.
Indah Adinda Kirana Eka Saputri, Indi Binta Assofia, Jesischa Dewi Nggebu, Khanza Zalfa Herlisa, Kalila Putri Mahfuri
Universitas Brawijaya




