Sejarah Batik Malangan
Sejarah batik Malangan tergolong relatif baru, di mana perkembangan industri batik di Malang secara umum baru tumbuh sejak sekitar tahun 2000-an. Salah satu tokoh pembatik senior di daerah Malang adalah Eyang Pati dari kawasan Singosari. Selain itu, di wilayah Kota Malang sendiri, terdapat batik-batik yang lebih lama hadir seperti batik Celaket dan batik Blimbing, sedangkan di kabupaten ada batik Nrojo yang juga sudah eksis sejak lama.
Motif-motif batik Malangan banyak mengeksplorasi ikon-ikon khas Kota Malang, seperti motif Tugu Malang, berbagai ikon kota, tarian lokal, dan teratai. Menariknya, bila ditelusuri lebih dalam, ada motif kain tradisional yang terkenal dari Malang yaitu motif Kawung. Motif ini bahkan telah ditemukan pada arca-arca peninggalan Kerajaan Singosari, misalnya di arca Mahakala yang memiliki motif Kawung. Koleksi motif ini juga dapat ditemui, antara lain, di Museum Nasional di Jakarta.
Filosifis dari Batik Malangan
Seperti yang kita ketahui, pada dasarnya motif batik dan filosofi itu pasti akan saling berhubungan antara satu sama lain, terutama di batik khas Kota Malang ini, biasanya motif batik khas Malang ini cenderung mengambil dari segi-segi bangunan-bangunan yang terdapat di daerah Kota Malang itu sendiri.Hal ini di buktikan dikarenakan setiap bangunan-bangunan yang terletak di daerah Kota Malang itu mempunyai ciri khas dan juga sejarahnya masing-masing. Selain itu motif batik khas dari Kota Malang sendiri, dapat mengambil dari dewa-dewa yang berasal dari kerajaan singosari yang pernah berada tepat di daerah malang dan, sudah pasti memiliki filosofi yang diyakini oleh orang-orang lokal di daerah kota malang itu sendiri. Seperti contoh adalah batik bunga teratai, batik ini menggabungkan antara alam dan juga sejarah yang terdapat di Kota Malang.
Batik Bunga Teratai yang merupakan salah satu simbol Kota Malang, yang melambangkan keindahan serta kesuburan. Pada kisah cerita kuno hindu di era Kerajaan Singosari, bunga teratai merupakan salah satu jenis bunga tempat Dewa Wishnu, sebagai dewa pemelihata alam, bertahta. Makna yang terkandung dari bunga ini yaitu kearifan atau kebijaksanaan yang mengakibatkan kemakmuran bagi masyarakat yang dipimpinnya.
Filosofi lainnya dari warna bunga Teratai juga melambangkan spiritual. Seperti contoh Teratai Merah muda dan Teratai putih. Teratai merah muda adalah teratai tertinggi, sering dikaitkan dengan dewa tertinggi, Sang Buddha sendiri. Meskipun sering bingung denganteratai putih, itu adalah teratai merah muda yang melambangkan Buddha dimana teratai putih digunakan untuk tokoh-tokoh suci yang lebih rendah.Sedangkan Teratai putih melambangkan Bodhi (Sansekerta untuk pencerahan).
Ciri Khas dari Batik Malangan
Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas batik tersendiri dengan motif serta asal-usul yang berbeda-beda. Perbedaan motif pada batik di tiap daerah itu sendiri dapat menyatukan keberagaman budaya yang terdapat di Indonesia. Salah satunya adalah batik khas malang. Pada wawancara yang telah di laksanakan di dapatkan bahwa ciri khas pada batik malang tidak beda jauh dengan batik lainya ,batik malang terbilang batik yang cukup baru jadi pada proses pewarnanya menggunakan pewarna sintetis remasol,dan ada juga beberapa batik di kota Malang menggunakan pewarna alam namun untuk hasil tetap sama seperti tempat batik lainya
Menurut beberapa pendapat ciri khas batik malang yaitu “batik mengangkat Tugu Malang, singa, bunga teratai, dan Topeng Malang sebagai motif utama. Tugu berasal dari relief candi di Malang dan monumen kota Malang. Bunga teratai adalah bunga yang disukai kendedes dan tumbuh disekitar monument Tugu. Singa merupakan simbolis penduduk Malang, salah satunya supporter bola AREMA. Topeng Malang merupakan kebudayaan dan seni asli dari daerah Malang”.(Latief dan Sayatman.2019.)
“Motif yang menjadi ciri khas batik Malangan mengangkat tema dari relief candi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan atau identitas Kota Malang. Salah satu motif batik Malangan yang cukup populer adalah motif Bunga Teratai. Batik Malangan mempunyai tiga ciri pokok, yaitu tanahan atau dasar yang diambil dari relief Candi Badut, ragam hias berupa gambar tugu Malang diapit rambut singa, dan tumpal sebagai isen-isen berupa tiga sulur bunga yang membentuk sebuah rantai”.(Supriono,Y.P.2024.)
Perkembangan Batik Malangan
Batik Malang sendiri sebenarnya sudah ada dari zaman Kerajaan Singosari, akan tetapi pada masa itu orang-orang kurang memperhatikan pada pelestarian batik malang, sehingga membuatnya terabaikan dan terlupakan. Pada zaman itu sekitar tahun 1900-an, batik malang digunakan didalam beberapa upacara adat. Industri batik di Malang sendiri masih terbilang cukup baru yaitu sekitar tahun 2000-an, meskipun begitu masih ada pengrajin batik asli malang yang sudah cukup senior. Batik malang memiliki tipe yang berbeda-beda di setiap daerah nya, contoh nya di daerah Malang kota ada yang namanya batik Celaket dan batik blimbing sedangkan di daerah kabupaten ada yang namanya batik Druju.
Berdasarkan informasi yang di dapatkan pada wawancara, batik yang mereka buat sendiri itu memakai motif dari ikon-ikon kota Malang seperti tugu Malang, Balai kota, Tratai DLL. Ada motif yang di gunakan di wastra atau kain yang dari Malang bernama Kawung. Motif ada pada arca-arca peninggalan kerajaan Singosari contoh nya di arca Mahakala, Arca ini terletak di Museum Nasional yang berlokasi di jakarta.
Peran Batik Malangan dalam Proses Pelestarian Budaya
Batik memiliki peran penting dalam proses pelestarian budaya di Malang karena menjadi media yang mampu merepresentasikan identitas lokal melalui motif, warna, dan teknik pembuatannya. Motif khas Malang, seperti Batik Malangan yang memadukan unsur topeng Malangan, singa, teratai, dan ornamen candi, menjadi simbol kekayaan sejarah serta kearifan lokal masyarakat setempat. Melalui batik, nilai-nilai tradisi dan cerita masa lalu dapat diwariskan kepada generasi muda, sehingga tidak hilang ditelan modernisasi. Selain itu, keberadaan sentra batik dan kegiatan edukasi seperti workshop membatik turut mendorong masyarakat untuk mengenal dan mencintai budaya daerahnya. Tidak hanya berfungsi sebagai produk seni dan pakaian, batik Malang juga menjadi sarana penguatan ekonomi kreatif lokal yang pada akhirnya memperkuat keberlanjutan budaya Malang secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
Wijayaningputri, A. R., dan Regina, B. D. (2020). Visualisasi dan Makna Filosofi Motif Batik Teratai di Galeri Soendari
Berbasis Penguatan Pendidikan Karakter. Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Sekolah Dasar (JP2SD), 8(2), 148–156.
Latief,N.D. dan Sayatman.2019.Eksplorasi Desain Motif Baru Batik Kota Malang.Jurnal Sains Dan Seni ITS ,8(2),288-293.
Supriono,P.2024.The Heritage Of Batik Identitas Pemersatu bangsa.Yogyakarta:Penerbit Andi.
Syuliswati, A., Amalia, R., Nugrahani, N., Mulyono, I., Agustina, L. 2023. Pelatihan Pembuatan Batik Tulis Malangan
Untuk Meningkatkan Intensi Berwirausaha Pada Ibu-Ibu PKK RT 12 RW 09 Kelurahan Sawojajar. J-ABDIM, 10(1), 37.
Callista Aurellia Ramadhani, Calista Selvi, Bagus Yuda Wicaksono, Damar Fissa Putra, Defintaga Frederik
Universitas Brawijaya




