Krisis Literasi Indonesia: Potret yang Memprihatinkan
Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mengungkap realitas pahit: Indonesia berada di peringkat bawah dalam kemampuan membaca, dengan skor yang masih jauh di bawah rata-rata negara OECD. Yang lebih memprihatinkan, sekitar 50% siswa Indonesia usia 15 tahun belum mencapai kompetensi minimum literasi. Di tengah kondisi ini, muncul komunitas-komunitas seperti Laskar Belajar yang mencoba memberikan solusi dari tingkat akar rumput.
Data pendidikan nasional menunjukkan bahwa di berbagai wilayah urban padat di Indonesia, termasuk Malang, masih ditemukan sejumlah anak yang mengalami kesulitan dalam kemampuan literasi dasar. Kondisi ini semakin parah di lingkungan rusunawa, di mana akses terhadap buku dan pendampingan belajar sangat terbatas, dan tekanan ekonomi keluarga sering menjadi penghambat utama perkembangan pendidikan anak.
Motivasi dan Pendekatan Laskar Belajar
Berdasarkan hasil wawancara kami dengan pengurus komunitas, motivasi utama Laskar Belajar adalah “membagikan ilmu kepada anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan bersekolah di pendidikan yang layak”. Pendekatan yang mereka gunakan—”metode bermain sambil belajar”, ternyata sangat sesuai dengan kebutuhan anak-anak rusunawa.
Seorang pengurus menjelaskan: “Pengajar fleksibel, jika anak tidak tertarik dengan mata pelajaran yang dijadwalkan, bisa dialihkan ke pelajaran yang mereka minati. Pendekatan dimulai dengan mengobrol santai baru kemudian diajak belajar pelan-pelan.” Metode ini mengakomodasi kenyataan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu seringkali memiliki motivasi belajar yang fluktuatif akibat tekanan ekonomi dan lingkungan.
Tantangan dalam Membangun Komitmen
Tantangan terbesar yang diungkapkan pengurus adalah mempertahankan komitmen relawan. Salah satu pengurus menjelaskan bahwa “Dari sekitar 50 pengajar yang direkrut di awal, tidak semua bertahan karena berbagai alasan”. Fenomena ini mencerminkan realitas organisasi sukarela di Indonesia, di mana tingkat turnover relawan bisa mencapai 30-40%.
Namun, Laskar Belajar merespons tantangan ini dengan strategi humanis: pendekatan personal, merangkul, mendengarkan keluh kesah, dan memberikan solusi. Pendekatan ini sejalan dengan temuan penelitian tentang pendidikan komunitas yang menunjukkan bahwa dukungan emosional dan rasa memiliki merupakan kunci retensi relawan.
Sistem Operasional yang Inklusif
Yang menarik dari Laskar Belajar adalah keterbukaan rekrutmen pengajar. Seorang pengurus menyatakan: “Terbuka untuk semua jurusan. Syarat utamanya adalah niat, komitmen, memiliki empati terhadap anak-anak, dan mampu melakukan pendekatan yang baik.” Pendekatan inklusif ini memungkinkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu berkontribusi tanpa terhalang syarat formal.
Program ini beroperasi di 4 Rumah Belajar (Rumbel) yang tersebar di Malang, dengan jadwal tetap setiap Minggu pagi. Yang patut diapresiasi adalah beragamnya program tambahan yang dikembangkan—mulai dari Buka Bersama Ramadhan, lomba kemerdekaan, hingga outbound tahunan. Program-program ini tidak hanya memperkaya pembelajaran tetapi juga membangun ikatan sosial dalam komunitas.
Dampak dan Respons Masyarakat
Umpan balik dari orang tua peserta didik menunjukkan tanggapan yang sangat positif. Salah satu pengurus menambahkan: “Orang tua senang karena anak-anak mereka mendapatkan ilmu dan fasilitas pendidikan secara gratis dengan metode yang menyenangkan”. Meskipun ada ekspektasi yang terkadang terlalu tinggi dari orang tua, hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap program pendidikan komunitas.
Pengalaman Laskar Belajar sejalan dengan data tentang efektivitas pendidikan non-formal dalam menjangkau anak-anak yang tidak terlayani optimal oleh sistem pendidikan formal. Program seperti ini terbukti dapat meningkatkan partisipasi belajar dan kepercayaan diri anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Relevansi dalam Konteks Nasional
Dalam konteks rendahnya tingkat literasi Indonesia, gerakan seperti Laskar Belajar memiliki signifikansi strategis. Program pendidikan komunitas dapat menjadi pelengkap penting sistem pendidikan formal, terutama dalam menjangkau anak-anak di daerah padat penduduk dengan keterbatasan ekonomi.
Yang perlu diperhatikan adalah aspek keberlanjutan. Laskar Belajar, seperti banyak organisasi serupa, bergantung pada donasi dan pendanaan eksternal. Untuk itu, perlu dikembangkan model keberlanjutan yang lebih mandiri melalui kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.
Harapan dari Pinggiran Kota
Sebagai peneliti, kami melihat Laskar Belajar bukan sekadar kisah inspiratif, tetapi bukti nyata bahwa pendidikan berkualitas bisa hadir dalam kesederhanaan. Di tengah tantangan literasi nasional yang kompleks, gerakan-gerakan akar rumput seperti ini memberikan harapan konkret.
Penulis merekomendasikan beberapa hal untuk menguatkan pendidikan informal yang inklusif, antara lain: (1) Pengakuan formal terhadap kontribusi pendidikan komunita; (2) Dukungan kapasitas bagi pengelola program; (3) Integrasi data antara pendidikan formal dan non-formal; dan (4) Insentif bagi relawan pendidikan. Keempat hal tersebut perlu segera direalisasikan karena setiap anak yang belajar membaca di sudut rusunawa, sedang menulis halaman baru masa depan Indonesia.
Penulis: Mohamad Ridwan & Sondang Hayati Dermawan
Universitas Negeri Malang
#LaskarBelajar #LiterasiIndonesia #PendidikanNonformal #RusunawaMalang #Komunitaspendidikan




