Kampung Heritage Kayutangan tidak hanya menjadi destinasi wisata popular di Kota Malang, tetapi juga menjadi bukti bagaimana kesadaran masyarakat mampu mampu menghidupkan kembali nilai sejarah dan budaya. Saat berbincang dengan Mila Kurniawati sebagai ketua Pokdarwis Kampung Heritage, tergambar jelas perjalanan Panjang yang membentuk kampung ini hingga dikenal luar seperti sekarang.
Dari Kampung Tematik hingga Lahirnya Gerakan Pokdarwis
Pokdarwis atau kelompok sadar wisata kerap disamakan dengan pengelolaan destinasi wisata. Di Kota Malang sendiri, konsep kampung tematik telah berjalan hamper tiga bulan sebelum Kayutangan mulai diangkat. Tercatat ada 23 kampung yang memiliki Pokdarwis aktif. Gagasan kampung tematik di Malang berangkat dari keberhasilan Kampung Warna-warni, yang dianggap menjadi titik awal kebangkitan wisata kampung oleh Pemerintahan Kota. Melihatkan antusiasme itu, Kota Malang mengadakan Lomba Rancang Kampung 2016, dan Kayutangan ikut serta dengan mengangkat Kawasan makam sebagai kampung wisata religi. Namun kenyataannya, aktivitas keagamaan bukanlah pusat keunggulan kampung ini. Tradisi masih dijaga, tetapi aspek yang paling kuat justru terletak pada bangunan-bangunan tua, rumah tinggal, serta fasilitas peninggalan kolonial yang menjadi warisan utama. Dalam lomba gtersebut, Kayutangan meraih posisi peringkat 13 se-Kota Malang.
Kehadiran Inisiator dan Penguatan Konsep Heritage.
Tahun 2017 menjadi titik penting ketika kampung ini kedatangan para inisiator dari komunitas pecinta heritage dan media pariwisata. Mereka memperkenalkan konsep heritage sebagai warisan yang dapat terlihat dan dirasakan, terutama melalui arsitektur Kayutangan yang masih dipenuhi bangunan bersejarah. Bangunan-bangunan tersebut kemudian dipetakan secara sistematis, hingga pada 22 April 2018, Kayutangan resmi launching sebagai Kawasan wisata heritage. Kawasan yang terlibat meliputi RW 1,2,9, dan 10. Semua kegiatan awal dilakukan secara mandiri oleh warga, termasuk pendanaan event yang berasal dari patungan komunitas. Menjelang akhir 2018, Kawasan ini mulai meberlakukan tiket masuk sebesar Rp.5.000, setelah mendapat dukungan dari Bank Indonesia. Pada tahun inilah Kayutangan mulai dikenal lebih luas.
Puncak Popularitas 2019 dan Dampaknya
Tahun 2019 menjadi masa keemas an Kampung Heritage Kayutangan. Dalam satu bulan, jumlah pengunjung pernah mencapai 5.000 orang. Bahkan lampu-lampu hias pertama yang mempercantik Kampung dibeli mennggunakan kontribusi dari tiket pengunjung. Namun, banyak warga yang menggantungkan hidup pada sektor wisata ini harus menghadapi pukulan besar ketika pandemi Covid-19 melanda.Aktivitas berhenti, pengunjung menurun drastis, dan roda ekonomi lokal sempat terhenti.
Transformasi di Masa Pandemi
Pada tahun 2020, pemerintah memberikan bantuan khusus untuk menunjang pariwisata Kayutangan. Melalui program ini, Pembangunan berjalan lancar tanpa hambatan berarti: lampu-lampu jalan dipasang, fasilitas diperbaiki, dan masyarakat Kembali bergotong royong membangkitkan Kawasan. Dalam proses itu, muncul ketertarikan baru dari para pengunjung terhadap deretan kafe yang mulai tumbuh disekitar kayutangan sebagai kampung wisata. Perkembangan setelah pandemi berlangsung naik turun, namun perlahan kembali stabil.
Bangkit Sepenuhnya di Tahun 2023
Tahun 2023 menjadi masa kebangkitan penuh Kampung Heritage Kayutangan. Mereka Kembali aktif mengikuti ajang Anugerah Desa Wisata, yang dihadiri oleh Menteri Pariwisara dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Sejak saat itu, pengunjung dari berbagain daerah mulai berdatangan. Tentu saja, dinamika ini membawa dampak positif dan negatif. Peningkatan wisata berarti peningkatan ekonomi, tetapi juga menimbulkan masalah baru seperti kebisingan, sampah, dan perubahan perilaku sosial. Namun Pokdarwis dan masyarakat terus belajar dari setiap permasalahan yang muncul untuk menjaga keberlanjutan Kawasan.
Menjaga Warisan, Menjaga Kehidupan
Kampung Heritage Kayutangan adalah contoh bagaimana warisan bukan sekadar bangunan tua, tetapi ruang hidup yang dirawat bersama. Dari perjuangan warga yang patungan, bertahan ditengah pandemi, hingga bangkit Kembali melalui kerja kolektif, Kayutangan menunjukkan bahwa warisan budaya tetap bernapas selama ada masyarakat yang merawatnya. Kawasan ini tidak hanya menjadi saksi Sejarah colonial, tetapi juga bukti bahwa semangat komonitas dapat menghidupkan kembali cerita yang nyaris terlupakan.
Immel Silviani Fauziah, Khoirusifa Oktafiana, Kayla Fennisa Azarine, Kenar Magani, Alodia Sakura Sattar, Imelda Dessy Eka Putri
Universitas Brawijaya




