Budaya merupakan salah satu wajah penting suatu bangsa, namun tidak bersifat statis. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, budaya kerap tersamarkan oleh pengaruh asing yang datang silih berganti. Bagi Indonesia, kekayaan budaya tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga penanda identitas nasional yang meneguhkan jati diri bangsa. Keberagaman budaya, bahasa, dan suku menjadi fondasi persatuan Indonesia. Dalam konteks inilah pelajar dan sekolah memegang peran strategis, bukan hanya sebagai pewaris budaya, tetapi juga sebagai penjaga serta pembawa identitas bangsa ke ruang global. Peran tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Pendidikan bertujuan membentuk manusia yang merdeka dan berkepribadian nasional. Oleh sebab itu, ketika pelajar memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional, mereka sejatinya tidak hanya menampilkan kesenian, melainkan juga menjalankan misi pendidikan dalam menanamkan karakter, identitas, dan rasa kebangsaan.
Salah satu wujud nyata budaya Indonesia yang dikenal luas di dunia adalah Tari Saman. Tarian ini berasal dari masyarakat Gayo di Aceh dan memiliki ciri khas berupa gerakan cepat, serempak, dan sangat sinkron. Keunikan tersebut mengantarkan Tari Saman diakui secara internasional dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda pada tahun 2011. Di balik gerakan tangan, tepukan dada, dan hentakan kaki, terkandung filosofi kebersamaan yang kuat. Kekuatan lahir dari gerak bersama dalam satu irama. Jika satu penari saja melakukan kesalahan, keharmonisan tarian dapat terganggu. Nilai ini mencerminkan kehidupan bangsa Indonesia yang berdiri di atas keberagaman, tetapi tetap bersatu dalam semangat kebangsaan.
Sejarah Tari Saman juga menunjukkan dinamika budaya yang terus berkembang. Tarian ini berkaitan dengan tokoh Syekh Saman yang memperkenalkan nilai-nilai melalui syair dan gerak tubuh. Awalnya digunakan dalam konteks ritual masyarakat Gayo, kini Tari Saman berkembang menjadi media diplomasi budaya Indonesia di tingkat global. Salah satu buktinya adalah pertunjukan “10.001 Penari Saman” di Aceh yang menjadi simbol semangat kolektif sekaligus penguatan promosi budaya nasional. Di masa lalu, promosi budaya Indonesia di dunia internasional lebih banyak dilakukan melalui program resmi pemerintah. Namun saat ini peran tersebut juga dijalankan oleh pelajar dan institusi pendidikan. Mereka tidak hanya membawa ilmu pengetahuan, tetapi juga identitas bangsa.
Salah satu contoh konkretnya adalah Indonesia Cultural Festival 2025 di University of St. Andrews, Skotlandia, yang diinisiasi oleh mahasiswa Indonesia. Melalui kegiatan membatik, bermain angklung, pameran foto, serta penyajian kuliner khas seperti sate dan rendang, mereka memperkenalkan keindahan budaya Indonesia. Puncak acara diisi dengan penampilan Tari Saman yang memukau penonton melalui gerakannya yang cepat, kompak, dan penuh semangat. Bahkan salah satu penonton asal Inggris menyampaikan bahwa tarian tersebut tidak hanya indah, tetapi juga penuh makna. Hal ini membuktikan bahwa budaya mampu menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan. Fenomena tersebut sejalan dengan pandangan Akli (2017) yang menyebut mahasiswa internasional sebagai agen diplomasi budaya tidak resmi. Mereka menjadi penghubung antara negara asal dan negara tujuan melalui kegiatan sosial, seni, dan akademik. Fitriani (2020) juga menegaskan bahwa partisipasi pelajar dalam kegiatan budaya di luar negeri mampu membangun citra positif Indonesia melalui pendekatan yang humanis dan nonpolitis.
Dalam kajian hubungan internasional, budaya memiliki peran sebagai soft power, yaitu kekuatan nonmiliter yang memengaruhi negara lain melalui daya tarik nilai, budaya, dan moral. Konsep ini diperkenalkan oleh Joseph S. Nye yang menyebut bahwa soft power bekerja melalui ketertarikan, bukan paksaan. Budaya menjadi instrumen penting karena bersifat universal, mudah diterima, serta menyentuh emosi dan identitas masyarakat dunia. Melalui soft power, negara dapat membangun reputasi, memperluas pengaruh, serta memperkuat hubungan internasional. Korea Selatan, misalnya, memanfaatkan K-Pop, drama, dan kuliner sebagai sarana diplomasi. Indonesia pun memiliki potensi besar melalui keberagaman budaya untuk mengenalkan nilai toleransi, harmoni, dan keberagaman kepada masyarakat global.
Pelajar dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam konteks ini. Mahasiswa Indonesia di luar negeri memperkenalkan budaya melalui interaksi sosial, seni, dan kegiatan akademik. Sikap sopan, disiplin, serta kemampuan bekerja sama mencerminkan nilai luhur bangsa. Sementara itu, lembaga pendidikan dapat mendorong diplomasi budaya melalui program pertukaran pelajar, seminar internasional, dan kolaborasi akademik. Arismayanti (2017) menegaskan bahwa pembelajaran berbasis budaya mampu menumbuhkan kebanggaan nasional serta meningkatkan kesadaran global. Globalisasi membuka peluang kerja sama lintas budaya, tetapi juga berpotensi mengikis identitas lokal. Tantangan ini hanya dapat dijawab dengan peran aktif generasi muda. Ketika pelajar Indonesia menampilkan Tari Saman di Skotlandia, mengajarkan batik di Jepang, atau memainkan gamelan di Amerika, mereka sedang menjaga keberlanjutan budaya bangsa agar tetap hidup dan dihargai. Dampaknya sangat besar, mulai dari meningkatnya citra bangsa, terbangunnya hubungan antarnegara yang lebih hangat, hingga terbukanya peluang kerja sama di bidang budaya dan pendidikan.
Namun, pemahaman terhadap makna budaya yang ditampilkan tetap menjadi hal utama agar tidak kehilangan esensi. Selain itu, pertukaran budaya perlu disertai dialog lintas budaya, bukan sekadar pertunjukan satu arah. Rahmah (2023) menjelaskan bahwa pertukaran budaya yang efektif melibatkan interaksi timbal balik antara pelaku budaya dan penonton. Dukungan pemerintah dan lembaga pendidikan juga diperlukan dalam hal fasilitas, pelatihan, serta regenerasi seniman muda. Tari Saman bukan sekadar tarian, melainkan cerminan jati diri bangsa Indonesia yang harmonis, disiplin, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Ketika pelajar membawakannya di panggung dunia, mereka menjalankan diplomasi budaya yang tulus melalui seni, bukan politik. Sekolah dan universitas pun perlu menyadari bahwa mereka adalah pusat pembentukan karakter dan identitas budaya. Dengan dukungan kurikulum dan kolaborasi global, pelajar dapat menjadi agen budaya yang membawa pesan positif Indonesia ke dunia. Sebab sejauh apa pun langkah melangkah, akar jati diri tetap Indonesia, dan Tari Saman adalah salah satu nadinya.
Samuel Sitohang (Universitas Brawijaya)




