Latar Belakang
Program kerja nasi darurat yang dijalankan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya memberikan bantuan kepada mahasiswa Ilmu Pemerintahan yang menghadapi situasi krisis. Program ini muncul sebagai respon terhadap keprihatianan sosial kepada mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan, sakit, atau kondisi darurat, yang membeuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Nasi Darirat berfungsi sebagai perlindungan, memastikan bantuan, menghindari isolasi, dan mendukung kelangsungan akademik. Program ini dirancang sebagai jaringan pengaman sosial untuk saling peduli dan meilbatkan mahasiswa sebagai aktor utama dalam pembangunan sosial. Secara ontologis, objek material penelitian ini adalah program Nasi Darurat sebagai kegiatan mahasiswa dan rasa empati melalui partisipasi mahasiswa dalam kegiatan sosial pemerintah, akibat kurangnya integrasi antara pendidikan akademik dan praktik lapangan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan empati dalam pembentukan warga negara yang responsif terhadap isu-isu sosial (Putnam, 2020).
Secara formal, penelitian ini menggunakan perspektif administrasi publik, khususnya tata kelola yang baik, di mana empati memainkan peran penting dalam pelayanan publik. Administrasi publik dipilih karena cocok untuk menganalisis dampak program sosial seperti empati melalui partisipasi warga, kebijakan sosial, dan pengembangan lokal, berbeda dengan psikologi yang berfokus pada individu. Penelitian ini menekankan struktur organisasi dan peran mahasiswa sebagai aktor tata kelola, memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pembentukan empati sosial, berbeda dengan pendekatan psikologis yang kurang bersifat institusional (Easton, 1965). Teori paling relevan adalah milik Robert Putnam, menjelaskan bagaimana jaringan sosial dan pertisipasi komunitas membangun modal sosial yang meningkatkan empati dan solidaritas. Teori ini cocok karena program ini melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan tata kelola, memperkuat ikatan sosial, dan lebih akurat daripada teori lain seperti Pasrtisipasi Elite, yang kurang menekankan pada empati. Tujuannya adalah menganalisis pegaruh program ini terhadap empati mahasiswa melalui lensa ilmu tata kelola, untuk memberikan rekomendasi kebijakan sosial dan program mahasiswa dalam membentuk warga negara yang empati di lingkungan akademis dan masyarakat.
Metode Penelitian
Dalam mini riset ini, peneliti menggunakan metode wawancara sebagai teknik utama untuk mendapatkan data. Wawancara dilakukan secara langsung kepada narasumber terkait topik, sehingga data bersifat faktual dan sesuai kondisi lapangan. Prosesnya semi-terstruktur dengan pertanyaan seperti:
- Apa definisi empati bagi Anda sebagai mahasiswa yang terlibat atau mengamati program ini?
- Bagaimana proses Anda memaknai interaksi antara mahasiswa dan penerima manfaat selama program berlangsung?
- Menurut Anda, apakah empati mahasiswa memang menjadi tujuan utama dari program ini, atau hanya dampak sampingan?
Namun, narasumber diberi ruang untuk menjawab bebas. Selama wawancara, peneliti mencatat poin penting dan merekam untuk akurasi. Data hasil wawancara dianalisis untuk mengidentifikasi pola, pemahaman, dan pandangan narasumber terkait tema penelitian.
Pembahasan
Pengaruh Program Kerja Nasi Darurat Sosial Lingkungan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya terhadap rasa empati mahasiswa dianalisis menggunakan indikator-indikator Teori Kapital Sosial Robert Putnam, yakni Kepercayaan (Trust), Norma Timbal Balik (Reciprocity), Jaringan Sosial (Bonding and Bridging Social Capital), Partisipasi Sipil (Civic Engagement), dan Kohesi Sosial.
Indikator Kepercayaan
Kelima narasumber memahami empati sebagai kemampuan merasakan dan peduli kondisi orang lain. Program ini membangun kepercayaan, di mana penerima merasa aman meminta bantuan, pelaksana yakin bermanfaat. Abdurroby menyebut empati sebagai sikap saling mengasihi dan membantu, Steven Elyeser sebagai sikap tanpa memandang latar belakang, fokus saling membantu sebagai makhluk hidup. Ini menunjukkan hubungan pelaksana-penerima didasari rasa percaya dan saling paham.
Indikator Norma Timbal Balik
Norma ini muncul dari mekanisme bantuan, di mana penerima diminta memberikan timbal balik sampah anorganik untuk pendanaan program. Ini bukan paksaan, melainkan kontribusi sukarela. Alysia Aulia menyatakan program ini melibatkan kesadaran lingkungan, bukan sekadar pemberian. Rizki menekankan tanggung jawab moral saling membantu, membuat program berkelanjutan dan memperkuat empati.
Indikator Jaringan Sosial
Program ini membentuk jaringan sosial kuat. Bonding terlihat dalam kerja sama erat staf magang dan pelaksana. Bridging muncul dari pertemuan mahasiswa berbagai latar belakang ekonomi. Rizki mengatakan program ini membuka wawasan tentang realitas teman, memperluas pertemanan dan hubungan sosial di kampus, bukan hanya bantuan nasi.
Indikator Partisipasi Sipil
Pelaksana terlibat aktif dalam pengumpulan sampah, pengelolaan dana, persiapan distribusi, dan interaksi langsung dengan penerima. Ini sesuai indikator Putnam tentang keterlibatan komunitas menunjukkan modal sosial kuat. Sandi menyoroti usaha bersama seperti mengumpulkan plastik, mengajarkan tanggung jawab sebagai bagian komunitas.
Indikator Kohesi Sosial
Meski ada perbedaan pendapat apakah empati tujuan utama atau dampak sampingan, semua narasumber sepakat program ini menciptakan suasana saling peduli, memperkuat solidaritas dan koneksi. Putnam menjelaskan kohesi muncul dari rutinitas kerja sama bermakna. Program ini membuktikan interaksi rutin meningkatkan empati dan kepedulian.
Program Kerja Nasi Darurat oleh Departemen Sosial Lingkungan Himap Fisip UB adalah inisiatif kompleks menanamkan empati dan kesadaran lingkungan. Berdasarkan wawancara dengan 5 narasumber (Kepala Departemen, Wakil Kepala, Kepala Pelaksana, dan 2 Staf Magang), program ini dianggap perwujudan empati melalui tindakan saling membantu, membersamai, meringankan beban mahasiswa krisis ekonomi. Interaksi melampaui distribusi makanan, menjalin silaturahmi manusiawi. Mekanisme uniknya mendorong timbal balik sampah anorganik sebagai pendanaan. Meski pandangan bervariasi tentang status empati, program ini menumbuhkan solidaritas dan kesadaran, bantuan sebagai wujud kebermanfaatan dari kepedulian sosial dan lingkungan. Intinya, empati sebagai dasar, kesadaran lingkungan sebagai mekanisme, kebermanfaatan sebagai tujuan.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa Program Kerja Nasi Darurat Sosial Lingkungan HIMAP FISIP UB memiliki pengaruh nyata dalam menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan kesadaran sosial lingkungan di kalangan mahasiswa. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pemberian bantuan makanan kepada mahasiswa yang membutuhkan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan nilai-nilai kemanusiaan melalui interaksi langsung, proses saling membantu, serta partisipasi aktif dalam kegiatan sosial lingkungan. Dari aspek ontologis, empati dan solidaritas mahasiswa muncul sebagai fenomena sosial yang terbentuk melalui pengalaman nyata, hubungan antar mahasiswa, dan dinamika kehidupan kampus. Dari sisi epistemologi, pemahaman tentang empati dibangun melalui wawancara dan pengalaman kolektif yang memperlihatkan bagaimana mahasiswa melihat, merasakan, dan menafsirkan kondisi sosial di sekitarnya. Sementara itu, dari perspektif aksiologi, program ini mengandung nilai moral yang kuat, mendorong sikap peduli, tanggung jawab sosial, dan praktik kebermanfaatan.
Daftar Pustaka
Easton, D. (1965). A systems analysis of political life. Wiley.
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Putnam, R. D. (2020). The upswing: How America came together a century ago and how we can do it again. Simon & Schuster
Gayatri Sofiyanti, Ghoitsa Zahira Shofa, Rachel Ananda Aurora
Universitas Brawijaya




