Dalam beberapa tahun terakhir, saya sering merasa bahwa wayang, yang dulu menjadi denyut nadi kebudayaan Jawa dan Indonesia, perlahan berubah menjadi sekadar dekorasi atau pajangan. Wayang hanya terpampang megah di ruang-ruang pemerintah dan lobi hotel, tetapi kehilangan maknanya di kehidupan sehari-hari masyarakat. Wayang tampak hadir, tetapi sesungguhnya hanya absen. Kita seolah mencintai bentuknya, tetapi tidak benar-benar memeluk ruhnya. Dan dari situ, saya melihat sebuah krisis identitas yang diam-diam tumbuh di negeri ini.
Krisis identitas itu terasa terutama ketika generasi muda kini lebih akrab dengan karakterkarakter fiksi daripada tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna, Srikandi, atau Bima. Saya tidak menyalahkan teknologi atau budaya populer, tetapi saya sedih karena melihat betapa jarak antara masyarakat dan akar budayanya, yaitu wayang, semakin melebar.
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah berkata, “Bangsa yang kehilangan rasa terhadap sejarahnya adalah bangsa yang berjalan tanpa arah.” Kalimat itu terngiang disaat saya menyaksikan pergeseran minat terhadap budaya lokal. Wayang, yang dulunya menjadi sarana refleksi moral dan kritik sosial, sekarang lebih sering dijadikan ikon pariwisata ketimbang penuntun nilai.
Padahal, secara historis, wayang bukan sekadar pertunjukan seni. Wayang adalah medium komunikasi, pendidikan, bahkan diplomasi. Penelitian oleh Prabowo (2018), menunjukkan bahwa wayang berfungsi sebagai cultural devise yang membentuk imajinasi politik dan moral masyarakat Jawa selama ratusan tahun. Sementara itu, studi Wicaksono dan Retnaningdyah (2020), mencatat bahwa wayang mengandung pesan etika yang secara turun temurun membangun karakter kolektif, seperti gotong royong dan kesetiaan pada kebenaran. Kini, Pertanyaan yang mengusik saya sederhana. Jika nilai-nilai itu hilang, apa yang tersisa dari identitas bangsa ini?
Saya pernah menghadiri sebuah pameran budaya yang menampilkan berbagai tokoh wayang dari Mahabrata dan Ramayana. Semuanya ditata cantik di dinding kaca. Pengunjung, terutama anak muda, sibuk mengambil foto. Namun, ketika pemandu bertanya siapa yang mengetahui kisah di balik tokoh-tokoh, sebagian besar terdiam. Pada momen itu, saya sadar, bahwa kita hanya menyimpan wayang, tetapi tidak lagi membacanya. Kita memajang simbol, tetapi meninggalkan substansi.
Antropolog Clifford Geertz pernah mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar benda mati, tetapi “Jaringan makna yang harus terus ditafsirkan oleh manusia.” Jika proses penafsiran itu berhenti, budaya berhenti hidup. Dan ketika budaya berhenti hidup, identitas pun ikut rapuh. Alih-alih menjadi pedoman moral seperti masa lalu, wayang kini hanya diperlakukan sebagai ornament. Kita bangga memajangnya sebagai bukti bahwa kita “masih punya budaya,” tetapi pada saat yang sama tidak mengizinkannya bekerja membentuk karakter bangsa.
- Wayang kehilangan ruang dalam sistem pendidikan
Dalam kurikulum sekolah, wayang sering hanya disebut sebagai bagian kecil dari materi seni budaya atau Bahasa Jawa. Tidak ada ruang bagi siswa untuk benar-benar memahami apa itu wayang. Mereka mengetahui nama Arjuna, tetapi tidak memahami konflik batinnya. Mereka mengetahui Semar, tetapi tidak mengerti kritik sosial di dalamnya. Padahal, penelitian Sari dan Hidayat (2019) menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai wayang dalam pendidikan karakter mampu untuk meningkatkan empati, integritas, dan kemampuan refleksi moral pada siswa. - Pertunjukan wayang tidak beradaptasi dengan ekosistem media baru
Meskipun sudah ada dalang-dalang muda yang mencoba berinovasi, mayoritas pertunjukan wayang tetap bergantung pada pola tradisional yang tidak familiar bagi generasi digital. Maka dari itu, wayang tidak hadir di media yang menjadi pusat perhatian anak muda, seperti game atau webseries. Padahal, budaya populer tidak pernah menjadi musuh tradisi, yang menjadi musuh adalah stagnasi. - Distorsi cara kita merayakan budaya
Banyak negara memodernisasi warisan budayanya tanpa kehilangan jati diri. Seperti contoh, Jepang mengadaptasi samurai ke dalam anime dan game. India memproduksi banyak film adaptasi dari Mahabharata.
Kita? Kita lebih sering menjadikan wayang sebagai latar foto atau motif batik, tanpa menghidupkan narasinya.
Budayawan Sujiwo Tejo suatu kali mengungkapkan dalam sebuah diskusi publik, “Wayang itu bukan tontonan. Ia tuntunan. Tapi sekarang, masyarakat Cuma mau ditontonkan, bukan dituntun.” Ucapan itu memukul tepat di dada saya, mungkin juga di dada bangsa ini. Dalang Ki Purbo Asmoro juga pernah berkata, “Jika wayang hannya jadi dekorasi, maka kita sedang memutus tali ingatan kolektif kita sendiri.” Pernyataan tersebut terasa makin relevan di tengah modernisasi dan komersialisasi budaya.
Krisis identitas nasional bukan tentang kehilangan bahasa atau pakaian tradisional. Tetapi, hilangnya kemampuan untuk memahami diri sendiri melalui Sejarah panjang yang membentuk kita. Wayang sejatinya merupakan cermin perjalanan hidup manusia. Ketika cermin itu diabaikan, maka kita akan kesulitan untuk membaca diri sendiri. Kita menjadi bangsa yang modern secara material tetapi rapuh secara spiritual. Sosiolog Benedict Anderson berulang kali menyatakan bahwa identitas bangsa dibangun melalui imagined community, yaitu ruang imajinasi yang diciptakan melalui simbol, narasi, dan nilai-nilai bersama. Wayang adalah salah satu ruang imajinasi itu. Tanpa ia dihidupi, komunitas terbayang itu kehilangan fondasinya.
Menurut saya, kita tidak perlu memuja tradisi secara membabi buta, tetapi kita harus menghidupkan kembali hubungan organik dengannya.
- Mengintegrasikan nilai wayang ke dalam pendidikan modern
Bukan dengan menghafalkan tokoh, tetapi dengan membaca konflik moralnya. Tokoh wayang dapat dijadikan studi kasus etika, seperti film dan literatur modern. - menghadirkan wayang di ekosistem digital
Wayang tidak harus selalu dimainkan dengan durasi 8 jam semalam suntuk. Ia bisa hadir sebagai animasi, podcast cerita, atau bahkan game. - Memberi ruang pada seniman muda untuk menafsir ulang
Kita harus berhenti menganggap pembaruan sebagai ancaman. Justru kreativitas adalah cara tradisi hidup. Wayang pernah bertahan seribu tahun karena selalu menyesuaikan diri dengan zaman. - Mengembalikan fungsi wayang sebagai ruang refleksi
Daripada hanya memajangnya di kantor pemerintah, lebih baik memberi ruang diskusi, pertunjukan, dan interpretasi ulang. Wayang harus kembali menjadi tempat masyarakat bercermin, bukan sekadar hiasan dinding.
Dalam perjalanan Sejarah yang panjang, wayang telah melalui penindasan kolonial, revolusi politik, dan perubahan sosial yang masif. Tetapi yang paling membahayakan bukanlah acaman dari luar, melainkan pelupaan dari dalam. Jika kita terus membiarkan wayang hanya menjadi pajangan, maka suatu hari kita akan menyadari bahwa kita sedang berdiri di atas tanah yang tidak lagi kita kenali sebagai tanah sendiri. Bangsa ini tidak diminta untuk memuja tradisi, tetapi diminta untuk mengenal dirinya. Wayang adalah salah satu ointu untuk mengenal itu. Sayangnya, kita terlalu sering berjalan melewatinya tanpa menoleh. Dan saat itulah, identitas kita perlahan memudar, bukan karena dicuri bangsa lain, tetapi karena kita sendiri yang menanggalkannya.
Callista Azra Salsabila, Akhemad Nur Udin
Universitas Brawijaya




