Pendahuluan
Jauh sebelum Raffles menjajah Nusantara, sesungguhnya Inggris sudah pernah mendatangi Nusantara pada abad ke-16, dimulai dari Francis Drake ke Maluku pada tahun 1579 untuk mencari rempah-rempah. Pada 1617, Inggris membentuk EIC ( East Indian Company ). Namun, Inggris baru benar-benar menguasai Nusantara pada saat Raffles berkuasa. Inggris berkuasabdi Nusantara hanya dalam kurun waktu sebentar,yaitu tahun 1811-1816, sebelum akhirnya dikembalikan lagi ke Belanda.
Pembahasan
Awal mula Inggris mulai menjajah Nusantara dimulai pada saat Napoleon berhasil menganeksasi Belanda pada menjelang akhir abad 18. Pada saat itu, Napoleon menguasai Belanda yang otomatis menyebabkan kekosongan kekuasaan di Nusantara pada waktu itu. Raffles melihat kekosongan kekuasaan di Nusantara sebagai peluang emas. Namun, Louis Napoleon tidak mmebiarkan hal itu terjadi begitu saja. Dia mengirimkan Gubjen Belanda bernama Herman Willem Daendels untuk mempertahankan Nusantara agar tidak jatuh ke tangan Inggris. Namun usaha itu sia-sia karena pengganti Daendels, yaitu Janssens kurang cakap dalam menangani masalah tersebut. Pada akhirnya, Raffles berhasil menguasai Batavia pada 1811 sekalifus memaksa Belanda menandatangani Rekapitulasi Tuntang yang berarti menandakan berakhirnya kekuasaan Belanda si Jawa sekaligus menjadi awal era Nusantara baru dimana mereka menjadi bawahan Inggris. Raffles pada waktu itu adalah suruhan daei Lord Minto, seorang Gubernur Jendral dari India yang berpusat di Kalkuta. Pada akhirnya, Nusantara benae-benar menjadi milik Inggris setelahnya. Nusantara saat itu dibagi menjadi 4 daerah administratif, terdiri dari daerah Malaka, Bengkulu, Jawa, dan Maluku. Di Sumatra, tidak ada perubahan berarti selama pemerintahan Raffles di Sumatra. Sultan Palembang terpaksa menyerahkan daerah Bangka Belitung yang merupakan daerah produksi Timah terbesar. Di Maluku, oranf-orang kebih menyambut positif akan kedatanfan Inggris di tanah Maluku karena sistem monopoli jauh lebih longgar dibandingkan masa Belanda, karena Inggris tidak punya kepentingan finansial untik menjaga daerah tersebut. Di Kalimantan & Sulawesi, pemerintahan Rafflez cenderung berdarah-darah karena mendapat perlawanan daei para pelaut baik dari Eropa atau dari Nusantara yang memiliki keuntungan dadi hasil menjual budak yang jelas tidak diinginkan Raffles. Di Batavia, Raffles berusaha memperbaiki kehidupan budak dengan memberikan pajak khusus & berbagai kebijakan lajn yang menekann perbudakan. Selain itu, Raffles juga memberikan kebebasan politik bagi raja-raja Jawa yang sebelumnya dirampas Belanda. Meski terkesan cukup baik, nyatanya yanf benar-benar berkesan dari Raffles hanyalah reorganisasi yanf dia lakukan terhadap pemerintahan-pemerintahn administrasi di Jawa yang itupun ada andil dari administrator Belanda. Bisa dibilanf, di bawah Pemerintahan Raffles, administrasi pemerintah sering banyak masalaj, seperti contohnya saat pasukan Britania Raya menyerbu Kraton Sultan,dll.
Sebenarnya, tujuan Raffles adalah perubahan administrasi besar-besaram daei sistem feodal me jadi pemerintahan modern, Raffles menginginkan pencabutan terhadap para bupati yang tersisa dan memhuat mereka hanya menjadi sekedar pejabat biasa di bawah administrator provinsi yang disebut residen. Namun, harus gagal karena ketidaksabaran Raffles dan pola pjkirnya yang skematik.
Selain itu, dia juga memperkenalkan sistem sewa tanah sebagai upaya reformasi pajak. Namun, kebijakannya yang satu ini juga mengalami masalah. Jika sistem oenyerahan paksa dihapus total, pemerintah kolonial juga akan kehilangan pemasukan. Selain itu, masyarskat pada masa iti juga belum mengenal soal uang kertas, kalau para petani disuruh membayar sewa fanah, mereka jufa harus belajar mengenal soal uanf dan bagaimana cara menabungnya. Petani desa lebih terbiasa barter atau sistem tradisional, bukan transaksi uang tunai atau perjanjian sewa formal, menimbulkan kebingungan.Petani desa lebih terbiasa barter atau sistem tradisional, bukan transaksi uang tunai atau perjanjian sewa formal, menimbulkan kebingungan.Petani dipaksa memikirkan banyak hal yang jelas bukannya merringkan beban, namun jusrru menambah beban petani. Selain itu,Kurangnya pegawai Eropa yang cakap untuk mengawasi pelaksanaan di lapangan menyebabkan pengawasan lemah dan potensi penyelewengan.Selain itu,Perbedaan kondisi tanah yang ekstrem dan kebiasaan petani yang sulit diubah menjadi hambatan besar. Belum lagi permasalahn lain seperti sulitnya mengukur luas tanah dan tingkat kesuburan secara akurat, jadi penentuan pajak menjadi tidak adil dan memberatkan petani.dan itulah beberapa hal dari kegagalan pemerinfahan Raffles, sehingga dalam dunia administrasi, kontribusi Raffles kuranf begitu berdampak.
Thomas Sramford Raffles, meski dalam beberapa hal dia cukup berkontribusi dimana dia bisa menemukan beberapa hal seperri bunga Rafflesia, candi, sekaligus penulis “The History Of Java” tidak dipungkiri dia memiliki banyak masalah, terutama dalam hal administrasi. Tujuan reformasi administrasi pemerintahan yang dia inginkan harus gagal karena ketidaksabadan Raffles sekaligus membuktikan Raffles cenderung kudanf beradaptasi dengan keadaan di sekitarnya. Dia terlalu memaksakan diei melakukan perubahany yanf justru berakhir gagal.
Sumber: Bernard H.M Viakke, Nusantara: Sejarah Indonesia, Gramedia, terbit pada 1943, lalu diterbitkan kembali oleh Gramedia pada 2008 & 2018.
Nadia Z.P, Kolonial Inggris di Tanah Jawa: Sebuah Sejarah Singkat, Diva Press, 2025.




