Bayangkan sebuah pedang katana terayun di Banda Neira pada Mei 1621, bukan untuk melindungi sang tuan, tetapi untuk memanfaatkannya sebagai sarana untuk mengambil keuntungan dari bisnis rempah-rempah. Pemimpin Belanda JP Coen menyewa puluhan serdadu bayaran dari Jepang di pelataran Benteng Nassau untuk mengeksekusi 44 “Orang Kaya”, sebutan bagi para saudagar dan pemimpin adat Banda yang menentang monopoli VOC (Alwi, 2010). Karena menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan dagang dapat mengirimkan tentara dari seberang lautan untuk menghancurkan kedaulatan masyarakat lokal, peristiwa ini merupakan titik balik sejarah penting. Sangat penting untuk memahami tragedi ini karena ia menunjukkan sisi kelam kerja sama antarbangsa di abad ke-17, di mana kehidupan manusia dan sistem sosial bangsa dikorbankan demi kendali monopoli perdagangan.
Kehadiran samurai di Banda bermula setelah perang saudara Jepang berakhir pada awal abad ke-17. Pos dagang VOC di Hirado kemudian merekrut banyak prajurit yang kehilangan majikan mereka (ronin) sebagai tentara bayaran. Sebanyak 100 orang ronin tiba di Banda Neira pada 27 Februari 1621 bersama dengan 13 kapal besar, 3 kapal kecil, 6 perahu layar, dengan pasukan tentara sebanyak 1.665 orang eropa, dan 286 tawanan asal Jawa sebagai buruh kapal. Coen juga menyertakan 1 orang penerjemah asal Hitu-Ambon, pangeran Tipul, yang bertugas sebagai negosiator (Alwi, 2010)
Setelah pengejaran yang memakan waktu hampir satu bulan, J.P. Coen akhirnya berhasil mengumpulkan 44 tokoh Orang Kaya (OK). Mereka ditangkap karena dianggap paling berbahaya dan dituduh sebagai otak di balik upaya makar terhadap pemerintah kolonial VOC. Berbekal tuduhan yang sama sekali tidak berdasar tersebut, sebuah persidangan sepihak pun tetap dilanjutkan. Eksekusi dimulai dari delapan tokoh utama OK. Tanpa belas kasih, para ronin mengayunkan pedang samurai mereka dan memotong tubuh kedelapan tokoh tersebut hingga terbelah dua. Tidak berhenti sampai di situ, kepala mereka dipenggal dan badan mereka kembali dibelah menjadi empat bagian. Potongan-potongan kepala yang telah terpenggal itu kemudian ditancapkan pada ujung-ujung bambu. Pada akhirnya, 36 tokoh OK lainnya juga dieksekusi dengan nasib yang serupa (Farid, 2018).
Sinaga et al. (2025) menjelaskan bahwa diperkirakan 90 persen penduduk asli Banda meninggal dunia atau terpaksa meninggalkan wilayah mereka sendiri. Genosida Banda adalah salah satu genosida pertama yang tercatat dalam sejarah kolonial Eropa di Asia. Itu menghancurkan populasi asli dan menghancurkan sistem sosial dan budaya yang telah ada selama berabad-abad. Tragedi di Banda Neira pada Mei 1621 adalah peristiwa titik balik sejarah yang menunjukkan sisi buruk kekuasaan monopoli perdagangan VOC. JP Coen, pemimpin Belanda, mengirimkan armada besar ke Banda, termasuk 100 tentara ronin Jepang yang dibayar. Coen berhasil menangkap 44 orang, juga dikenal sebagai “Orang Kaya” Banda, setelah pengejaran selama satu bulan atas tuduhan makar yang tidak masuk akal. Para ronin mengeksekusi 8 tokoh utama secara sadis dengan membelah tubuh mereka, memenggal kepala mereka, dan menancapkan kepala mereka di ujung bambu. 36 tokoh lainnya mengalami keadaan yang sama.
Untuk memperoleh keuntungan dari bisnis rempah-rempah, para pemimpin Banda ini dihukum dengan pedang katana. Peristiwa ini menyebabkan 90 persen penduduk asli Banda meninggal dunia atau terpaksa meninggalkan wilayah mereka. Pada akhirnya, peristiwa ini, yang dianggap sebagai salah satu genosida pertama dalam sejarah kolonial Eropa di Asia, menghancurkan populasi asli Banda, serta sistem sosial dan budaya yang telah bertahan selama berabad-abad.
Daftar Pustaka
Alwi, D. (2010). Sejarah Banda Neira (Ed. rev.). Pustaka Bayan.
Farid, M. (2018). Genosida 1621: Jejak berdarah J.P. Coen di Banda Naira. Dalam M. Farid (Ed.), Prosiding Seminar Nasional Banda Neira 2018 (hlm. 113–121).
Sinaga, R., Lirinza, A. Z., Yanti, D. D., Hulu, E. M. W., & Sigiro, L. T. (2025). Dari perlawanan ke penaklukan: Strategi VOC dalam menguasai Banda Neira dan konsekuensi jangka panjangnya. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4), 337–341.
Oleh : Bagus Prasetyo (Universitas Negeri Malang)




