“Dari Budak ke Komunitas: Keroncong Sebagai Warisan Budaya”

Keroncong merupakan salah satu bentuk kebudayaan fisik yang lahir dari komunitas Mardijker, yaitu kelompok masyarakat keturunan budak yang dibebaskan di Batavia pada masa kolonial. Musik ini menjadi simbol percampuran budaya, karena memadukan unsur Portugis, lokal Nusantara, dan pengaruh Barat, sehingga mencerminkan identitas sosial serta ekspresi estetik Mardijker dalam kehidupan sehari-hari. Apakah benar musik keroncong membawa stigma kelas sosial rendah, sehingga butuh waktu yang cukup lama sebelum diterima sebagai musik nasional. Pemahaman masyarakat mengenai musik keroncong pasti berbeda-beda yang dimana menyesuaikan perkembangan zaman, awalnya masyarakat paham bahwa keroncong ini hanyalah hiburan semata yang kemudian berubah seiring zaman berkembang. Musik keroncong berasal dari musik Portugis musik ini diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga pada abad ke-16, musik keroncong menurut Antonio Pinto De Franca (1985) yang disebut fado, berasal dari istilah Latin yang berarti ‘nasib’. Pada masa itu Portugis melakukan ekspansi ekonomi yang menuju ke Asia Tenggara.

Musik keroncong merupakan musik yang memiliki karakter unik karena bisa menyatu dengan kebudayaan-kebudayaan Indonesia, dibuktikan dengan berkembangnya musik keroncong di beberapa kota Indonesia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa keroncong bukan sekadar musik hiburan, melainkan medium akulturasi yang mempertemukan pengaruh Portugis dengan identitas Nusantara. Dari komunitas marginal di Batavia hingga panggung nasional, keroncong menegaskan dirinya sebagai musik lintas kelas dan lintas budaya yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Musik dan Identitas Simbolik Mardijker

Keroncong memang lahir dari komunitas marginal sehingga tidak heran jika awalnya dianggap musik kelas bawah. Musik keroncong berkembang seiring dengan munculnya kelompok mardijker, komunitas Mardijker adalah kelompok mantan budak Hindia Belanda, Bengal, Arrakis, Malabar, dan pantai Korsika yang ditangkap di Maluku selama perang dengan Spanyol dan Portugis yang diberikan kemerdekaan dengan syarat memeluk agama Kristen. Awalnya, mereka hanya bekerja untuk makanan dan pakaian, kemudian menerima upah berdasarkan perilaku baik, sehingga mendapatkan uang untuk membebaskan diri mereka sendiri (Heryanto rt al., 2021). Ketika laskar Inggris di Batavia hadir komunitas mardijkers tidak diberikan kesejahteraan, hingga akhirnya kehidupan mardijkers menjadi miskin. Kehidupan mereka yang tidak ada perubahan dan semakin sengsara membuat komunitas mardijkers dibubarkan, dengan alasan mereka terbuai akan komunitas mereka dan tidak menyadari situasi akan berubah, menggantungkan harapan pada santunan gereja, tidak memiliki keahlian khusus yang dapat diandalkan, tidak memiliki jiwa kewirausahaan untuk hidup secara mandiri. Krontjong, yang berasal dari Portugal, saat ini merupakan musik serenata yang setengah sentimental dan setengah indah, tentang kerinduan cinta di malam tropis yang diterangi bulan. Ciri khas awal keroncong terlihat dari penggunaan alat musik dawai seperti ukulele (cavaquinho), gitar akustik, biola, cello, kontrabas, dan suling. Irama yang lembut dengan pola ritmis berulang menghasilkan bunyi “crong-crong” yang kemudian menjadi asal nama keroncong. Awalnya dimainkan dalam lingkup komunitas kecil, keroncong perlahan menyebar ke Jawa dan menjadi hiburan populer di kalangan masyarakat urban. Seiring waktu, keroncong mengalami transformasi. Pada abad ke-19, musik ini berpadu dengan tradisi lokal. Memasuki abad ke-20, keroncong semakin dikenal luas sebagai musik nasional, dengan tokoh-tokoh besar yang mempopulerkannya hingga ke panggung internasional. Kini, keroncong dianggap sebagai warisan budaya Indonesia yang terus dilestarikan, meski harus bersaing dengan genre musik modern.

Perkembangan Keroncong Tugu

Dari hal tersebut karena perkembangan musik keroncong dengan munculnya kelompok Mardijkers, akibat dari komunitas mardijkers musik portugis tersebar ke Batavia yang kemudian melahirkan genre Krontjong Toegoe atau Keroncong Tugu. Keroncong Tugu merupakan bentuk akultari budaya Portugis dengan budaya lokal yang berkembang di Kampung Tugu. Tetapi musik keroncong ini tidak berkembang lama cenderung cepat dan digemari komunitas etnik asal Banda. Menurut J.S. Brandts-Buys (1921), populasi musik ini menimbulkan dampak negatif hingga muncul istilah ‘buaya keroncong’ dituju pada para pemusik keroncong yang berkelana dengan penampilan dan sepak terjang mereka yang meresahkan masyarakat, tidak diherankan jika sempat dilarang tampil di sebuah kota semasa pemerintah Hindia Belanda. Jadi memang keroncong hadir dari masyarakat kelas sosial rendah yang hanya berstatus sebagai tawanan yang dibebaskan dan musiknya awalnya hanya dikenal dimasyarakat sekitar bukan pada golongan atas, yang kemudian mereka kembangkan dan memulihkan citra musik keroncong yang layak tampil.

Keroncong pernah mengalami masa keemasan dan sangat populer dikalangan masyarakat muda, kemudian muncul banyak acara-acara musik keroncong. Antusias masyarakat juga menjadi pendorong musik keroncong dikenal hingga pelosok-pelosok. Musik keroncong mengalami kemunduran akibat peran dari produser musik yang enggan untuk memunculkan atau memasarkan musik keroncong, yang dimana produser dapat mengetauhi musik mana yang dapat diminati dan dinikmati oleh masyarakat. Akibatnya warisan budaya ini nyaris musnah dan generasi yang baru tidak mengetauhi sama sekali mengenai warisan budaya yang dibawa portugis ke Indonesia yang menjadikannya sebagai musik nasional.

Sumber Rujukan

Delpher (1929) lets over Krontjong platen! https://resolver.kb.nl/resolve?urn=ddd:011235153:mpeg21:a0048
Ganap, V. (2006) Pengaruh Portugis pada Musik Keroncong. Vol. VII No. 2 / Mei – Agustus 2006.
Ganap, V. (2011) Krontjong Toegoe. BP ISI, Yogyakart
Sari, D. R. (2015) Perkembangan Musik Keroncong di Surakarta Tahun 1960-1990. Volume 3, No 2, Juli 2015
Zandra, R. A., Rustopo (2020) Politik dan Situasi Sosial dalam Sejarah Keroncong di Indonesia

Oleh : Leylia Mutiara Devina (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top