“Taman Sriksetra: Representasi Harapan Kesejahteraan Sriwijaya abad ke-7 M”

Taman umumnya dipahami sebagai tempat yang diasosiasikan dengan aktivitas rekreasi dan kebahagiaan. Taman memiliki berbagai fungsi, seperti fungsi sosial, ekonomi, ekologis, maupun edukatif. Menurut Laurie (1994 dalam Hariyono 2010), secara etimologis, istilah taman atau garden merujuk pada sebidang lahan yang memiliki batas dan dirancang untuk menghadirkan kegembiraan. Keberadaan taman sebagai ruang yang dirancang telah dikenal sejak masa lampau. Salah satu contohnya adalah Taman Sriksetra yang dibangun pada masa Sriwijaya abad ke-7 M. Pembangunan Taman Sriksetra disebutkan dalam prasasti Talang Tuwo (606 Saka/684 M) peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Isi prasasti Talang Tuwo menyebutkan pembangunan Taman Sriksetra atas perintah Sri Baginda Sri Jayanasa. Pembangunan taman tersebut bertujuan untuk menopang kehidupan seluruh makhluk serta mendatangkan kebahagiaan bagi mereka semua. Dengan demikian, Taman Sriksetra tidak hanya dapat dipahami sebagai lanskap fisik yang dirancang untuk mendukung kehidupan. Taman tersebut juga dapat dimaknai sebagai representasi harapan kesejahteraan pada masa Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 M. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk fisik Taman Sriksetra dalam Prasasti Talang Tuwo serta menganalisis nilai non-fisiknya sebagai representasi harapan Sri Jayanasa untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Sriwijaya pada abad ke-7 M.
Pembangunan Taman Sriksetra disebut dalam Prasasti Talang Tuwo dengan beberapa deskripsi fisiknya, seperti dalam kutipan isi prasasti berikut:

“Tahun Saka 606, hari kedua paruh terang bulan Caitra: pada saat itulah taman ini (yang dinamai) Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat Sri Baginda: Semoga segala yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga taman-taman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya…” (Coedès & Damais, 1989). Berdasarkan isi prasasti tersebut dapat diidentifikasi deskripsi fisik Taman Sriksetra yang ditanami berbagai jenis tanaman, seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu, berbagai macam pohon buah-buahan, serta beberapa tanaman berupa bambu haur, waluh, dan pattum. Menurut Siregar (2018), tanaman bambu haur, waluh, dan pattum merupakan tanaman herba pendukung keperluan rumah tangga. Selain itu, prasasti juga menyebutkan adanya bendungan dan kolam-kolam yang berfungsi sebagai penyedia serta sarana pengelolaan air. Kombinasi jenis tanaman dan infrastruktur air pada Taman Sriksetra menunjukkan bahwa pembangunan taman ini menyesuaikan kondisi ekologis wilayah Sriwijaya yang berupa lahan basah. Penanaman pohon palem sesuai untuk daerah rawa yang rentan banjir serta cocok untuk menjaga kesuburan tanah. Bendungan dan kolam-kolam berfungsi untuk mendukung kepentingan distribusi air pertanian serta mencegah banjir pada musim hujan (Siregar, 2018).

Deskripsi fisik Taman Sriksetra menunjukkan bahwa pembangunan taman tersebut bertujuan untuk menyediakan ruang yang dapat menopang kebutuhan hidup masyarakat Sriwijaya. Namun, pembangunan Taman Sriksetra ini tidak hanya bersifat material, melainkan juga mengandung nilai non-fisik berupa harapan raja terhadap kesejahteraan kolektif. Lombard (2008) menjelaskan bahwa taman di Asia Tenggara, khususnya di wilayah Jawa, tidak hanya dapat dipahami melalui nilai estetikanya sebagai tempat kegembiraan. Taman juga memiliki makna filosofis tertentu. Dalam konteks masa Kerajaan Sriwijaya, makna filosofis tersebut dapat dilihat pada Taman Sriksetra yang disebutkan dalam prasasti Talang Tuwo. Prasasti ini menyebutkan pembangunan taman yang disertai dengan doa-doa untuk kesejahteraan kolektif. Taman tersebut dibangun atas perintah Sri Jayanasa untuk kesejahteraan yang tidak terbatas bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi seluruh makhluk hidup. Konsep ini sejalan dengan ajaran buddha mengenai cita-cita Bodhisattva yang memiliki tekad untuk mencapai pencerahan. Namun, ia menunda pencapaian akhir demi membantu makhluk lain terbebas dari penderitaan (Prasetya, 2025). Doa yang tercantum dalam Prasasti Talang Tuwo juga menunjukkan bahwa pembangunan taman tersebut dilandasi nilai religius. Yenrizal (2018) menjelaskan bahwa pembangunan Taman Sriksetra dapat dimaknai sebagai wujud kepedulian dan kepatuhan raja terhadap ajaran Buddha untuk berbuat baik terhadap semua makhluk hidup. Dengan demikian, Taman Sriksetra tidak hanya dapat dimaknai sebagai lanskap fisik. Taman ini juga menjadi representasi harapan Sri Jayanasa terhadap kesejahteraan masyarakat Sriwijaya abad ke-7 M.

Berdasarkan kajian terhadap isi prasasti Talang Tuwo, Taman Sriksetra tidak hanya dapat dipahami sebagai lanskap fisik yang dirancang untuk menopang kebutuhan hidup. Taman tersebut juga menjadi representasi harapan Sri Jayanasa terhadap kesejahteraan masyarakat Sriwijaya pada abad ke-7 M. Konsep tersebut selaras dengan ajaran agama Buddha untuk mengupayakan kebaikan bagi seluruh makhluk hidup. Dengan demikian, Taman Sriksetra dapat dipahami sebagai ruang yang memiliki fungsi material sekaligus nilai non-fisik. Pembangunan taman ini mencerminkan upaya Sri Jayanasa dalam mewujudkan kehidupan sejahtera pada masa Sriwijaya abad ke-7 M. Kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap sejarah tidak terbatas pada nilai fisik dan material saja. Sejarah juga perlu dipahami melalui nilai non-fisik dan simbolik yang merefleksikan pandangan hidup masyarakat pada masa lampau.

Daftar Rujukan

Coedès, G., & Damais, L.-C. (1989). Kedatuan Sriwijaya: Penelitian tentang Sriwijaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Hariyono, P. (2010). Konsep Taman Kota pada Masyarakat Jawa Masa Kini. Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal, 2(3), 01-03.

Lombard, D. (2008). Gardens in Java. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Prasetya, B. A. (2025). Ajaran Agama Buddha Mahayana dalam Kakawin Kunjarakarna. Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama (Dharma Edukasi), 1(2), 133-142.

Siregar, S. M. (2018). Talang Tuo Inscription: The Management of Environmental in Sriwijaya Period. Indonesian Journal of Environmental Management and Sustainability, 2(3), 80-83.

Yenrizal, Y. (2018). Makna Lingkungan Hidup di Masa Sriwijaya: Analisis Isi pada Prasasti Talang Tuwo. Jurnal Aspikom, 3(5), 833-845.

Oleh : Olivia Nur Suwandi (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top