Pendahuluan
Kepulauan Maluku sejak awal abad ke-16 sudah dikenal sebagai pusat produksi cengkih terbesar di dunia. Secara historis Maluku memiliki konsep Moluku Kie Raha yang merujuk pada 4 kerajaan besar yaitu : Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Tome Pires (1512) memahami Maluku sebagai wilayah penghasil cengkih yaitu: Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan dengan Ternate sebagai pulau terpenting. Pirres juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan harga yang sangat signifikan antara Malaka dan Maluku dimana harga 1 bahar cengkih lebih murah delapan hingga hampir sepuluh kali lipat di Maluku. Hal strategis ini yang kemudian menjadi daya tarik bagi Portugis. Kedatangan Portugis di Ternate pada awal abad ke-16 mulanya bersifat mutualistik.
Kesultanan Ternate menganggap Portugis sebagai mitra potensial untuk memperkuat posisinya secara politis dan meningkatkan kas kerajaan. Sedangkan Portugis menganggap kesultanan Ternate mampu memberikan akses langsung terhadap komoditas cengkih. Namun hubungan mereka sebagai mitra kemudian berubah menjadi musuh yang berpuncak pada pembunuhan yang Sultan Khairun oleh Portugis pada 1570. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan penyebab keretakan hubungan Portugis dan Ternate tidak sebatas akibat konflik personal namun juga disebabkan oleh intervensi politik Portugis dalam tubuh kesultanan dan upaya terstruktur mereka untuk mengendalikan perdagangan cengkih.
Hubungan awal Ternate dan Portugis
Kedatangan Portugis di Ternate pada 1512 yang dipimpin Fransisco Serrao disambut baik oleh penguasa Ternate, Sultan Bayan. Hal ini terlihat misalnya dari pemberian hak monopoli cengkih kepada Portugis. Pemberian hak monopoli ini didasarkan pertimbangan Sultan atas beberapa hal : Pertama, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan negara, karena Portugis bersedia membayar harga yang lebih tinggi dibandingkan pedagang Jawa, Arab, Cina, dan Melayu. Kedua, untuk memperkuat kekuatan Kerajaan Ternate dalam persaingannya melawan kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Hal ini karena memiliki mitra dari luar negeri dianggap lebih kuat dan handal dibandingkan mitra lokal, sebab mitra asing dari Portugis dilengkapi senjata modern seperti pistol, meriam, dan kanon.
Kepercayaan Sultan Bayanullah terhadap Portugis begitu besar, bahkan beliau mengirim surat kepada raja Portugis, Raja Manuel I untuk dibangunkan benteng yang hanya ada di Ternate dengan imbalan berupa pasokan cengkih setiap tahunnya. Tak hanya itu, Fransisco Serrao diangkat sebagai penasihat kerajaan, tak lama setelah kedatangannya. Pada tahun 1522, dibangunlah benteng pertama Portugis disana yaitu Sao Joao Bautista atau Nostra Senora del Rosario, namun seiring perkembangannya, nama Benteng Kastella dan Benteng Gamlama disematkan kepada bangunan tersebut. Benteng ini menjadi simbol kepercayaan penuh sultan beserta beberapa pejabat istana terhadap Portugis. Benteng ini dibangun atas perizinan pengasuh Kaicili Abu Hayat, yaitu Kaicili Darwis. Pembangunan benteng ini dimulai atas permohonan Antonio de Britto hingga Jorge de Kastro.
Pembangunan benteng ini digunakan Portugis sebagai tempat tinggal dan pos dagang. Sedangkan Ternate mengharap pembangunan benteng mampu melindungi mereka dari ancaman eksternal serta memperkuat kedudukan mereka di Maluku di tengah rivalitas yang cukup lama bersama Kerajaan Tidore
Awal mula rusaknya hubungan Portugis dengan Ternate
Portugis perlahan-lahan menyebarkan agama Kristen dan memperkuat kekuatan monopolinya dengan mengintervensi urusan politik kerajaan. Hal ini terlihat dari penurunan Raja Tabariji (1523-1535) dari tahtanya dan mengirimnya ke Goa yang dikuasai oleh Portugis. Di sana, ia memeluk Kristen dan mengambil nama Dom Manuel. Baru setelah dinyatakan tidak terbukti bersalah ia dikirim kembali ke Ternate untuk menduduki kembali tahtanya. Namun ia meninggal dalam perjalanan di Malaka pada tahun 1545. Sebelum meninggal, ia menyerahkan Pulau Ambon kepada Portugis yang menjadi bapak baptisnya, Jordao de Freitas. Begitupula dengan ibu Tabariji, Nukilla yang berpindah ke Kristen dengan nama baptis Donna Manuela.
Sebenarnya intervensi Portugis dalam pemerintahan sudah berlangsung cukup lama. Hikayat Jojau menjelaskan Portugis memfitnah Sultan Abu Hayat II terlibat atas kematian sultan pilihan Portugis. Hal ini menyebabkan Sultan Abu Hayat II dibuang dan wafat di Maluku. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Portugis secara aktif melakukan intervensi dalam tubuh Kesultanan untuk menyingkirkan penguasa yang mengancam kepentingan ekonomi mereka. Pasalnya, Abu Hayat II sendiri merupakan sultan yang gencar melawan monopoli Portugis. Pasca berakhirnya pemerintahan Tabariji, Ternate dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana, Sultan Khairun. Sultan Khairun menyatakan bahwa Ambon, Buru, Seram, dan pulau-pulau disekitarnya termasuk dalam wilayah Kesultanan Ternate. Sultan juga menambahkan bahwa Ternate bukanlah bagian dari Kerajaan Portugal. Hal ini membuat Portugis marah, mengingat Sultan Khairun bukanlah sosok yang mudah dikendalikan seperti Sultan Tabariji. Pada puncaknya, Sultan Khairun dijebak oleh Portugis dan tewas terbunuh di Benteng Kastella pada 28 Februari 1570. Hal ini tentu memicu kemarahan dari anak Sultan Khairun –Sultan Baabulah sehingga menginisiasi pengepungan Portugis di Benteng Gamlama selama 5 tahun dan berhasil memaksa Portugis menandatangani kesepakatan untuk meninggalkan Maluku.
Kesimpulan
Tranformasii hubungan Portugis dan kesultanan Ternate dari kawan menjadi lawan ternyata dipicu oleh akumulasi kemarahan sebagai manifestasi intervensi politik dan dominasi ekonomi yang dilakukan Portugis sejak lama. Meskipun awalnya Sultan Bayan menyambut dengan baik, namun perlahan monopoli Ini justru merugikan pihak Ternate. Hal ini juga diperkuat dengan upaya kristenisasi dan intervensi dalam internal kerajaan yang menunjukkan bahwa Portugis sudah melampaui batas. Pembunuhan Sultan Khairun pada 1570 hanyalah klimaks dari ketegangan yang selama ini ada di antara keduanya. Secara historis transformasi hubungan ini menunjukkan kolonialisme di Maluku dimulai melalui pendekatan mitra bukan militer namun secara bertahap timbul usaha untuk menguasai aspek-aspek lain. Dengan demikian dinamika hubungan ini menjadi bentuk representasi titik pertentangan antara kepentingan kolonial dan kedaulatan politik lokal.
Daftar Pustaka
Amirulloh, K. A. A. (2013). Hegemoni: Persaingan hegemoni cengkeh di Ternate sekitar abad 16 dan 17. AVATARA: e-Journal Pendidikan Sejarah, 1(1).
Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate. (n.d.). Sekilas jejak peninggalan sejarah purbakala di Kepulauan Maluku. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Faroek, M. A., & Khamary, R. M. (2021). Antologi cerita rakyat Tidore: Hikayat Jojau. Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Junaidi, M. (2009). Sejarah konflik dan perdamaian di Maluku Utara (Refleksi terhadap sejarah Moloku Kie Raha). Academica, 1(2). Direktorat Sosial Politik, Ternate, Indonesia
Pires, T. (1944). The Suma Oriental of Tome Pires (A. Cortesão, Ed.). Hakluyt Society.
Sinaga, R., Tampubolon, Y. L., Tarigan, G. P., Khalizah, N., & Rila, E. S. (2024). Penjelajahan samudera orang Portugis. AR Rumman: Journal of Education and Learning Evaluation, 1(2).
Yusup, J. (2020). Sultan Khairun: Sang mujahid yang cinta damai. Jurnal Pusaka, 1(1).
Oleh : Cayan Nur Khasanah (Universitas Negeri Malang)




