Abad ke-16 menandai era ekspansi besar Eropa ke Nusantara, khususnya Kepulauan Maluku sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Kedatangan Portugis sejak 1512 tidak hanya didorong motif ekonomi (gold), melainkan juga semangat penyebaran agama Kristen Katolik (gospel) dan kejayaan kerajaan (glory), sesuai sistem Padroado yang diberikan Paus kepada Raja Portugal. Di tengah kekuatan Islam yang telah kuat di Kesultanan Ternate dan Tidore, penyebaran Katolik sering berbenturan dengan dinamika lokal. Misi Santo Fransiskus Xaverius pada 1546–1547 menjadi tonggak penting, meletakkan dasar kokoh bagi kehadiran Katolik di Indonesia Timur meskipun durasinya singkat.
Sebelum kedatangan Xaverius, benih Katolik telah ditanam sejak baptisan pertama oleh Pastor Simon Vaz di Mamuya (Halmahera Utara) tahun 1534, diikuti konversi sebagian bangsawan Ternate seperti Sultan Tabariji (1533–1534) dan komunitas kecil di Ambon sejak 1538. Namun, perkembangan lambat akibat minimnya pastor dan konflik dengan kelompok Muslim. Xaverius tiba di Hative Kecil, Ambon, pada 14 Februari 1546 setelah berangkat dari Malaka pada 1 Januari 1546. Selama sekitar 15 bulan, ia berkeliling Leitimor (Ambon Selatan) seperti Hative, Hukunalo, Hunut, Passo, Halong, Soya, Kilang, dan Ema; kemudian ke Seram, Nusa Laut, Ternate (Juli 1546) di Fort Sao Paolo, serta Moro (Morotai, Halmahera) dari September hingga Desember 1546. beliau kembali ke Ambon hingga Mei 1547 sebelum berangkat ke Malaka. Metodenya adaptif Beliau menghormati budaya lokal, memanfaatkan hubungan dengan raja-raja, membela penduduk dari penindasan Portugis, dan mempersiapkan katekis pribumi untuk keberlanjutan misi di tengah tantangan medan sulit, kendala bahasa, dan penolakan dari kelompok Muslim.
Santo Fransiskus Xaverius (1506–1552) adalah salah satu pendiri Serikat Yesus (Jesuit) bersama Ignatius Loyola. Sebagai wakil Raja João III Portugal dan utusan Paus, ia dikenal sebagai “Rasul Timur” karena misi evangelisasinya yang luas di Asia, termasuk India, Malaka, Maluku, hingga Jepang. Misi singkat Fransiskus Xaverius di Maluku pada abad ke-16 tidak hanya memperkuat penyebaran agama Kristen Katolik oleh Portugis di wilayah tersebut, melainkan juga meletakkan fondasi kokoh melalui pendekatan pendidikan yang inovatif, sehingga warisannya tetap terlihat dalam komunitas Katolik signifikan di pulau-pulau seperti Ambon dan Saparua hingga hari ini.Pendidikan menjadi salah satu pilar utama metode misionaris Xaverius, sejalan dengan semangat Jesuit yang menekankan pembentukan iman melalui pengajaran. Di Maluku, Beliau menerapkan pendidikan non-formal secara intensif dengan mengajar katekismus dalam bahasa Melayu sederhana menggunakan penerjemah lokal seperti Emanuel. Beliau mengumpulkan anak-anak dan orang dewasa untuk pelajaran iman dasar, doa, dan nilai Kristen, sering di jalanan atau desa-desa, serta membaptis ribuan orang sambil menanamkan pengetahuan agama secara langsung dan praktis. Pendekatan ini bersifat informal, adaptif terhadap budaya lokal, dan fokus pada katekisasi massal untuk membangun komunitas yang mandiri.
Selain itu, Xaverius memulai elemen pendidikan formal dengan membuka sekolah dasar bagi pribumi di berbagai tempat seperti Ambon dan sekitarnya. Sekolah ini mengajarkan membaca, menulis, serta doktrin Kristen, sekaligus mempersiapkan katekis lokal (guru agama pribumi) agar misi dapat berlanjut tanpa bergantung sepenuhnya pada misionaris Eropa. Ia juga membela dan mendidik anak-anak serta pemuda dari kelompok rentan, termasuk yang terdampak konflik atau penindasan, sehingga pendidikan menjadi alat pemberdayaan sekaligus evangelisasi. Pendekatan ini kontras dengan metode tentara Portugis yang sering represif, dan justru mendapat simpati masyarakat karena menekankan penghormatan budaya serta pembentukan karakter melalui pendidikan berkelanjutan.
Misi Santo Fransiskus Xaverius di Maluku abad ke-16, meski hanya berlangsung sekitar 15 bulan, berhasil memperkuat fondasi Katolik di tengah persaingan dengan Islam dan tantangan kolonial. Melalui pendekatan pendidikan formal (sekolah dasar dan persiapan katekis) serta non-formal (katekisasi langsung dan adaptif), Beliau tidak hanya membaptis ribuan orang, melainkan juga membangun komunitas yang bertahan hingga abad ke-17 dan seterusnya. Kisah ini mencerminkan wajah ganda kolonialisme Eropa semangat evangelisasi tulus bercampur ambisi kekuasaan. namun warisannya mengajarkan pentingnya dialog antaragama, penghargaan keragaman budaya, dan pendidikan sebagai sarana pembentukan iman yang inklusif, selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam identitas Indonesia modern.
Daftar Pustaka
Alputila, C. E. (2014). Pasang Surut Penyebaran Agama Katolik di Maluku Utara Pada Abad 16-17. Kapata Arkeologi, 10(1), 1–12.
Muller-Krüger, Th. (1966). Sedjarah Geredja di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit Kristen.
Prinada, Yuda. (2021, 25 Januari). Sejarah Proses Masuknya Agama Kristen Katolik ke Indonesia. Tirto.id.
Riyanto, Armada, CM. (2023). The Catholic Mission in Indonesia and Propaganda Fide – A Historical Overview. Hong Kong Journal of Catholic Studies, 14, 31-48.
Schurhammer, Georg. (1980). Francis Xavier: His Life, His Times (Vol. III). Rome: Jesuit Historical Institute.
Sihombing, Adison Adrianus. (2021). St. Fransiskus Xaverius: Misionaris, Teladan Iman dan Guru bagi Masyarakat Katolik. Jurnal Lektur Keagamaan, 19(2), 555-582.
Oleh : Mahendra Dwi Rofiqin (Universitas Negeri Malang)




