Pendahuluan
Sejak awal abad ke-16, Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) telah mengagumi Makassar sebagai pelabuhan makmur dengan pedagang yang dikenal “hebat dan pemberani.” Namun, sejarah mencatat keruntuhan kejayaan ini bukan sekadar akibat dentuman meriam Cornelis Speelman, melainkan karena perpecahan internal di tanah Bugis. Dilema persaudaraan antara Gowa dan Bone menjadi celah bagi VOC untuk menghancurkan kedaulatan maritim Makassar yang berpusat di Somba Opu (1660-1669). Di satu sisi, Sultan Hasanuddin teguh mempertahankan perdagangan bebas, sementara di sisi lain, Arung Palakka memilih bersekutu dengan VOC demi membebaskan Bone dari dominasi Gowa. Essay ini akan menganalisis bahwa kekalahan Sultan Hasanuddin merupakan dampak kegagalan diplomasi internal dan eksploitasi konflik lokal oleh VOC. Pembahasan akan mengulas akar perseteruan Gowa-Bone, aliansi Arung Palakka-VOC, hingga jatuhnya Benteng Somba Opu sebagai titik akhir supremasi maritim Gowa di Nusantara Timur.
Kedaulatan Maritim Gowa dan Akar Perlawanan Rakyat Bone
Sultan Hasanuddin mewarisi kejayaan Gowa sekaligus ketegangan lama dengan Bone yang telah ditaklukan sejak masa ayahnya (Sultan Malikussaid) dan didampingi oleh Karaeng Pattingalloang sebagai penasehat yang cerdas dan bijaksana dan digantikan lagi oleh anaknya yaitu Karaeng Karunrung (Hamid, 2013). Keberanian Sultan Hasanuddin bukanlah sekedar heroisme buta, melainkan bukti bahwa dari sebuah prinsip hukum maritim yang melampaui zamannya. Di tengah arus ambisi VOC untuk menyeragamkan perdagangan di bawah kendali monopoli. Kesultanan Gowa-Tallo berdiri kokoh dengan doktrin “Tuhan menciptakan daratan untuk dibatasi, namun menciptakan laut untuk semua orang”. Filosofi ini menjadikan Makassar sebagai pelabuhan terbuka yang paling makmur di antara malaka dan maluku yang berpusat di pelabuhan Somba Opu yang di wilayah Timur. Bagi Sultan Hasanuddin, menolak monopoli rempah-rempah bukan hanya sekedar mempertahankan pundi-pundi kekayaan kerajaan, melainkan menjaga martabat kedaulatan laut Nusantara. Dari Ketegasan Sultan Hasanuddin inilah Belanda memberi julukan kepada Sultan Hasanuddin sebagai “Ayam Jantan dari Timur”.
Penderitaan rakyat Bone mencapai puncaknya pada 1660 saat mereka dipaksa kerja rodi menggali parit pertahanan Makassar di bawah perlakuan kasar pasukan Gowa. Menurut Darmawijaya (2017), kondisi tragis ini memicu kemarahan besar karena rakyat Bone diperlakukan sangat hina. Hal ini selaras dengan catatan dalam Lontara Bone (1330) yang mengisahkan bahwa rakyat Bone telah diperbudak selama 17 tahun, “noripopatana bone seppuluh pitu taung ittana”, terhitung sejak 1644 hingga 1661. Sebagaimana ditegaskan oleh Anawagis dkk. (2023), penindasan domestik yang berkepanjangan inilah yang akhirnya menjadi titik balik bagi Arung Palakka untuk mencari dukungan eksternal demi memulihkan martabat kaumnya.
Persekutuan Arung Palakka-VOC dan Runtuhnya Somba Opu
Arung Palakka mulai merencanakan pemberontakan pertamanya pada tahun 1660 sebagai reaksi atas penindasan dan kerja paksa yang dialami oleh rakyat Bone di bawah kekuasaan Gowa. Meskipun upaya awal ini berhasil memadamkan dan memaksanya untuk melarikan diri ke Buton dan Batavia, Arung Palakka tidak menyerah dan justru berhasil bekerja sama dengan VOC untuk melakukan serangan balik. Pada 24 November 1666, armada besar yang dipimpin Cornelis Speelman dan Arung Palakka bertolak dari Batavia dengan kekuatan yang sangat besar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Talik dkk, (2023) pasukan ini membawa ribuan prajurit gabungan Belanda dan pasukan pribumi dari Bone yang dipimpin Arung Palakka dan Ambon dibawah pimpinan Kapten Joncker. Walaupun Sultan Hasanuddin sempat memberikan perlawanan laut yang sengit hingga memaksa Belanda mundur sementara ke Buton, aliansi ini akhirnya meraih keunggulan strategis pada awal 1667 setelah dukungan dari pasukan lokal (Bone dan Soppeng) yang dipimpin Karaeng Bontomarannu membelot untuk meruntuhkan dominasi Kesultanan Makassar.
Puncak konflik ini mengakibatkan kekalahan besar bagi Kesultanan Makassar yang memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya pada 16 November 1667, yang mencakup monopoli VOC dan pengakuan kedaulatan kedaulatan Bone. Namun, sesuai dengan analisis Putri & Pane (2025) Sultan Hasanuddin tidak sepenuhnya menjalankan perjanjian tersebut karena dianggap mencederai kedaulatan rakyatnya, sehingga ia terus mengobarkan perlawanan gerilya. Hal ini memicu kemarahan dari pihak VOC dan Arung Palakka yang kemudian melakukan pengepungan total secara besar-besaran terhadap jantung pertahanan Makassar pada tahun 1668. Pertempuran yang sengit di darat dan di laut ini berakhir tragis bagi pihak Gowa dengan jatuhnya Benteng Somba Opu pada 12 Juni 1669. Bagi Boxer (1967), jatuhnya Somba Opu bukan sekadar kekalahan militer, melainkan runtuhnya simbol kebebasan maritim internasional di Nusantara Timur di mata dunia.
Kesimpulan
Akhirnya, tragedi di Tanah Bugis ini memberikan pelajaran pahit bahwa kedaulatan sebuah bangsa sering kali tidak runtuh karena serangan dari luar, melainkan karena keretakan dari dalam. Sultan Hasanuddin gugur sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan global, sementara Arung Palakka tetap menjadi sosok kompleks yang memperjuangkan kemerdekaan kaumnya di bawah bayang-bayang kolonial. Dilema yang terjadi di abad ke-17 ini membuktikan bahwa ketika persaudaraan terkoyak oleh dendam dan ambisi lokal, pihak asinglah yang akan selalu keluar sebagai pemenang sejati. Di balik julukan Ayam Jantan dari Timur, tersimpan kisah tentang laut yang pernah bebas, tanah yang terbelah, dan harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah persatuan.
Daftar Pustaka
Anawagis, F., Syukur, S., & Makkelo, I. D. (2023). Arus Balik Kekuasaan di Sulawesi Selatan Abad ke-17. JAWI, 6(2), 99-109.
Talik, K. G. P., & Widjayanto, J. (2023). Refleksi Srategi Perjuangan Arung Palakka Dalam Konteks Perang Semesta. Jurnal Elektrosista, 10(2), 211-222.
Putri, H., & Pane, S. M. (2025). Analisis Historis Tentang Perjuangan Sultan Hasanuddin Melawan VOC Di Sulawesi Selatan Tahun 1660-1669. MIND Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Budaya, 5(2), 235-242.
Hamid, A. (2013). Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka (huruf miring).Tanpa Penerbit. https://www.academia.edu/10747734/Sultan_Hasanuddin_dan_Arung_Palakka?
Pires, Tomé. (1944). The Suma Oriental of Tomé Pires: An Account of the East, from the Red Sea to Japan, Written in Malacca and India in 1512-1515.
Lontara Bone. (1330)
Boxer, C.R. (1967). Francisco Vieira de Figueiredo: A Portuguese Merchant-Adventurer in South East Asia, 1624-1667. Den Haag: Martinus Nijhoff.
Oleh : Muh Fajar Nur Hidayat (Universitas Negeri Malang)




