“Karakteristik Makam Hias Pada Kerajaan-Kerajaan Aceh”

Penggunaan kaligrafi Arab pada nisan menjadi tradisi baru umat Islam pada masa Kesultanan Aceh setelah runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai. Nisan dan kompleks makam dihias dengan corak islami untuk menunjukkan status sosial tokoh yang dimakamkan, seperti tokoh ulama, bangsawan, hingga Sultan. Secara historis, perkembangan seni kaligrafi di Aceh tidak dapat dipisahkan dari proses Islamisasi yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Samudera Pasai hingga berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Seiring menguatnya kekuasaan politik dan jaringan perdagangan internasional, pengaruh budaya Islam semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat. Menurut Nuralia (2017), kaligrafi mencerminkan kemampuan umat Islam mengembangkan seni tanpa menampilkan representasi makhluk hidup secara realistis. Huruf Arab kemudian menjadi media ekspresi estetika sekaligus spiritual, terutama ketika diwujudkan dalam bentuk epigrafi pada nisan dan bangunan makam.

Dalam tradisi masyarakat Aceh, makam bangsawan dan sultan dikenal dengan istilah kandang. Mengacu pada pendapat Denys Lombard (dalam Herwandi, H. & Yusdi, M, 2017), kompleks makam ini biasanya menggunakan bentuk jirat, yaitu struktur makam berbentuk persegi panjang yang dihias secara tiga dimensi. Pada bagian jirat dan nisannya sering dipahatkan ayat Al-Qur’an, zikir, doa, serta syair pujian kepada tokoh yang dimakamkan. Secara religius, kaligrafi tersebut menghadirkan pesan wahyu dalam bentuk visual yang indah dan membangun suasana sakral di lingkungan makam. Secara tipologis, nisan-nisan di Aceh pada abad ke-15 hingga ke-17 memiliki beberapa bentuk khas.

Tipe Plak Pleng berkembang sejak masa Kerajaan Lamuri hingga awal abad ke-16 dengan bentuk relatif sederhana. Menurut Fitra, Arif Ade (2023) Tipe Nisan Plak-pleng diambil dari nama seorang raja dari Aceh “Raja pelak-pleng”, juga mempunyai arti beragam hias. Sebaran nisan Plak-pleng ditemukan pada tiga wilayah di Aceh Besar dan Banda Aceh salah satunya yaitu, Teluk Pancu. Nisan Plak-pleng memiliki tiga bentuk yang berbeda pada mahkota nisan, mahkota dengan bentuk kubah masjid, bentuk atap bertingkat, dan tidak bermahkota. Di Teluk Pancu hanya ditemukan nisan Plakpleng yang tidak memiliki mahkota. Motif-motif yang terukir pada nisan membuat nisan ini diyakini sebagai nisan peralihan dari masa pra-islam ke islam seperti, motif teratai, sulur-suluran, mawar.

Kemudian juga terdapat nisan Aceh sayap-bucrane, berkembang di Kesultanan Samudra Pasai pada abad ke-13, yang terlihat pada nisan makam Sultan Malik As-Shaleh. Nisan tersebut merupakan tipe nisan Aceh jenis pertama (sayap-bucrane) yang baku atau standar, baik dari segi ukuran, bentuk, maupun ragam hiasnya. Ragam hias nisan yang terdapat pada sayapnya biasanya memiliki ornamen dengan bentuk pola tanduk atau sayap pada bagian kanan dan kiri, bagan atas tersusun tiga tingkat dengan tinggi berkisar 80-150 cm (Hoop, 1949, dalam Inagurasi Hari L, 2017). Batu nisan pada Sultan Malik As-Shaleh terdiri 3 tingkat yaitu pertama melengkung atau bertanduk, kedua dan tiga berbentuk kubah hingga meruncing ke atas bagaikan menara mesjid Usman, U., & Akob, B. (2019). Ornamen yang terlihat pada nisan tipe sayap terdapat bentuk segi tiga berderet pada bagian dasarnya, garis tepi pada bagian tepi tanduk dan bahu di kanan kiri, sedangkan garis-garis silang dan inkripsi kaligrafi Arab pada bagian tengah. Nisan Aceh jenis sayap-bucrane mengalami perkembangan pada abad ke-15 dengan ukuran yang lebih besar tetapi sayap kanan dan kirinya pendek lalu tambahan ornamen tombak bermata tiga yang disebut Trisula.

Nisan tipe gada ini adalah merupakan tipe yang umum, pemakaian tipe gada bahkan dikenal sejak awal kedatangan Islam dan masih digunakan sampai saat ini. Tipe gada dimaksud meliputi tipe gada dengan penampang bulat, persegi enam atau persegi delapan. Penggunaan tipe gada mengikuti kebiasaan yang berlaku umum pada suatu masa. Tren penggunaan nisan tipe gada bervariasi, mengikuti perkembangan yang berlaku di suatu tempat. Dengan kata lain nisan dengan pola hias mewah berawal dari jenis nisan tipe sederhana.

Kehadiran ayat Al-Qur’an, zikir, dan doa yang dipahatkan pada nisan menunjukkan bagaimana seni kaligrafi menjadi sarana visual untuk menghadirkan nilai-nilai religius dalam ruang pemakaman. Dengan demikian, perkembangan tipologi nisan seperti tipe Plak-pleng, sayap-bucrane, dan gada memperlihatkan dinamika seni dan budaya masyarakat Aceh dari masa awal Islam hingga masa Kesultanan Aceh. Ragam bentuk dan ornamen yang digunakan menunjukkan adanya perpaduan antara unsur lokal dengan pengaruh budaya Islam yang datang melalui proses Islamisasi dan jaringan perdagangan internasional. Dengan demikian, kaligrafi Arab pada nisan tidak hanya menjadi peninggalan arkeologis, tetapi juga sumber sejarah yang penting untuk memahami perkembangan agama, seni, dan struktur sosial masyarakat Aceh pada masa lampau.

Daftar Pustaka

Annisa, A. (2023). Pengaruh Ilmu Kaligrafi Arab dalam Akulturasi Budaya Nusantara. Shaf: Jurnal Sejarah, Pemikiran Dan Tasawuf, 1(1), 47-57.
Fitra, A. A. (2023). IDENTIFIKASI NISAN PLAK-PLENG DI KAWASAN TELUK PANCU, KABUPATEN ACEH BESAR, PROVINSI ACEH (Doctoral dissertation, Jurusan Sesa).
Herwandi, H., & Yusdi, M. (2017). Karakter Lokal Pada Artefak Seni Makam Berhias di Nanggroe Aceh Darussalam (Abad 13-18 M). In Paper pre-sented at Internasional Seminar Pen-guatan Kebudayaan Lokal held by Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (IKADBUDI), Unhas, Makasar (pp. 17-19).
Nuralia, L. (2017). Kaligrafi Islam pada dinding masjid Kuna Cikoneng Anyer-Banten: kajian arti dan fungsi. Berkala Arkeologi, 37(1), 85-100.
Usman, U., & Akob, B. (2019). Gedong Pasai Aceh Utara Pusat Ekskavasi. SEUNEUBOK

Oleh : Ariesta Rizky (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top