Pendahuluan
Kedatangan bangsa Belanda di Nusantara sendiri dimulai pada abad ke 16, lebih tepatnya pada 2 Juni 1596 melalui ekspedisi yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman. Kedatangan bangsa Belanda dilatarbelakangi oleh kepentingan perdagangan, khususnya rempah-rempah yang sangat bernilai di Eropa, seperti cengkih, lada, pala, dan lain-lain. Indonesia sendiri memiliki banyak sekali pelabuhan yang sering dikunjungi oleh para pedagang, baik itu pedagang dari eropa maupun pedagang dari kerajaan yang lain. Salah satunya adalah Kalimantan Selatan. Dengan pelabuhan terbesar adalah pelabuhan Patih Masih (Bandar Sari) yang dikuasai oleh Kesultanan Banjar. Orang Belanda menyebut Banjarmasin kemudian menjadi Bandermachsin, kemudian mengalami perubahan lafal menjadi Banjarmasin. Salah satu rempah yang sangat laku keras di Banjar adalah lada.
Potensi besar ini sebenarnya telah dicatat jauh sebelumnya oleh penjelajah Portugis, Tomé Pires, dalam Suma Oriental, Pires menyebutkan bahwa wilayah pesisir Kalimantan, yang ia identifikasi sebagai Tanjompura, memiliki pelabuhan-pelabuhan yang sangat aktif dalam perdagangan. Ia mencatat bahwa wilayah tersebut kaya akan madu, lilin, hingga emas, namun yang paling relevan adalah melimpahnya lada berkualitas baik yang sudah diperdagangkan ke luar wilayah. Catatan Pires ini membuktikan bahwa jauh sebelum ekspedisi Belanda, Kalimantan Selatan sudah menjadi titik strategis dalam perdagangan global, yang kemudian menjadi alasan utama kedatangan Belanda di Kalimantan Selatan. Namun, kehadiran Belanda pada 7 Juni 1607 tidak hanya membawa keuntungan bagi perdagangan mereka, kehadiran mereka juga turut membawa malapetaka bagi kesultanan Banjar. Tulisan ini akan mengkaji perkembangan perdagangan lada oleh Kesultanan Banjar di abad ke 17-18.
Kesultanan Banjar dan Perdagangan Oleh Belanda
Orang-orang Banjar terkenal sebagai orang-orang yang senang berdagang, hingga perdagangan di Kesultanan Banjar selama tahun 1800-1860 dikuasai oleh mereka daripada orang-orang asing yang kapal dan barang dagangannya lebih bagus dan beragam. Pekerjaannya berdagang keluar pulau atau negeri untuk mengekspor dan mengimpor barang. Klik atau ketuk di sini untuk memasukkan teks. Pelabuhan kesultanan Banjarmasin terlibat dalam jalur perdagangan maritim Asia Tenggara di awal abad ketujuhbelas. Masuknya pelabuhan Banjar dalam rute tersebut disebabkan kesultanan Banjar mulai dikenal sebagai produsen lada yang ditanam di daerah hulu- oleh para pedagang asing. Rempah-rempah, terutama lada, merupakan salah satu komoditas dagang yang sangat penting kala itu Klik atau ketuk di sini untuk memasukkan teks.
Penetrasi Eropa di Perdagangan Kesultanan Banjar
Dalam pengelompokan masyarakat ekonomi kesultanan Banjar, orang-orang yang melakukan kegiatan ekspor dan impor ini disebut sebagai saudagar. Dengan izin syahbandar dan sultan, mereka berangkat menuju Jawa, Ujung Pandang, Banten, Aceh, Andalas, Sulawesi, Semenanjung Siam dan Selon untuk menjual barang yang telah ia dapatkan dari pedagang lokal, dan kemudian ditukar dengan batu agiat merah, batu karang, candu, kain, garam, beras, perhiasan, gula, bawang, asam, ragi, kain (polos/batik), sarung, selendang, benang, barang-barang pecah belah, juga barang-barang dari kuningan dan tembaga. Klik atau ketuk di sini untuk memasukkan teks. Banjarmasin pada abad ke-16 belum dikunjungi orang-orang Eropa. Banjarmasin mulai dikenal oleh orang Eropa semenjak kehadiran orang Banjar yang datang ke Banten pada tahun 1596 untuk berdagang membawa beras, ikan kering dan lilin. Barang bawaan tersebut merupakan hasil penukaran barang-barang mereka yang berupa intan, emas dan hasil hutan.
Setelah pedagang Inggris meninggalkan Banjar pada dasawarsa ketiga abad ke-18, Banjar didatangi lagi pedagang Belanda. Sultan Tahlilillah dapat didekati oleh Belanda. Pada tahun 1734 diadakan suatu perjanjian di mana pedagang-pedagang Belanda diberikan fasilitas perdagangan. Pada masa awal, hidup matinya Belanda sangat bergantung pada sikap dan tindakan Sultan. Setelah setengah abad Belanda melakukan perdagangan di sana, muncul kesempatan untuk berkembang, yaitu adanya pertentangan di kalangan para bangsawan mengenai kedudukan Sultan, yaitu antara Pangeran Nata dan Pangeran Amir. Klik atau ketuk di sini untuk memasukkan teks.
Berdasarkan data 1747-1761 Belanda telah membawa lada dari Banjarmasin 83,276 pikul (20,819 ton) dan Cina lebih kurang 32,213 pikul atau 8.053,25 ton. Para penanam lada tidak dapat menentukan harga. Harga ditentukan oleh Sultan, Sultan membeli lada dari pedalaman sekitar 2 real Spanyol per pikul. Harga menjadi mahal ketika Sultan menjualnya kepada para pedagang Cina, yakni 8 real Spanyol per pikulnya. Keuntungan yang didapat dari perdagangan lada telah menjadikan Sultan dan para bangsawan cepat kaya.
Saat perang Banjar berkecamuk, perdagangan tetap berjalan seperti biasa, malah semakin membaik dengan adanya kapal-kapal uap yang beroperasi di sungai-sungai Kalimantan. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi saat perang hanya sedikit yang mengganggu jalannya aktivitas perdagangan. Contohnya pada penyerangan di gudang garam Pulu Petak yang menewaskan seorang letnan Belanda. Penyerangan ini membuat para pengurus gudang takut dan menutup gudangnya untuk sementara waktu, sehingga pasokan garam menjadi berkurang dan harganya mahal. Klik atau ketuk di sini untuk memasukkan teks.
Perang Banjar berakhir dengan kemenangan Belanda, yang imbasnya adalah pembubaran Kerajaan Banjarmasin oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1860. Sejak saat itu, wilayah Banjarmasin dan sekitarnya menjadi jajahan (koloni) Belanda dan tentunya akan membuat peredaran mata uang Belanda semakin marak sesuai dengan perkembangan perdagangan dan perekonomian yang terjadiKlik atau ketuk di sini untuk memasukkan teks.
Kesimpulan
Dengan melimpahnya produksi lada dan kekayaan alamnya membuat Kesultanan Banjar menjadi bangsa yang cukup dikenal oleh bangsa colonial, yang berakibat pada kedatangan mereka di Kalimantan Selatan. Keikutsertaan bangsa kolonial dalam aktivitas perdagangan Kesultanan Banjar telah membawa kemajuan dalam berbagai hal, yakni bertambahnya macam komoditi yang diperjualbelikan dan semakin lakunya lada. Namun, dibalik kemajuan tersebut, kesultanan malah semakin terpuruk. Kesultanan Banjar harus rela kehilangan tanah-tanah yang berpotensi tinggi mengisi kas negara, bahkan lebih parah lagi, kesultanan harus rela dihapuskan keberadaannya dari tanah Kalimantan, menyeret negerinya dalam kekacauan perang. Namun meski begitu, perdagangan masih berjalan dengan cukup lancar ditengah perang Banjar yang pada saat itu sedang berkecamuk.
Daftar Pustaka
Swardhani. R. E. 2017. Aktivitas Perdagangan di Kesultanan Banjar Tahun 1800-1860. Avatara, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 5, No. 3, Oktober 2017
Damayanti, V. D., Departemen, A., Lanskap, F., Pertanian, P., & Bogor, I. (2019). Identifikasi struktur dan perubahan lanskap Kota Banjarmasin di masa kesultanan (1526-1860). 5(2). Diambil http://ojs.unud.ac.id/index.php/lanskap
Poesponegoro. M. D., Notosusanto. N, 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 4 Kemunculan Penjajahan di Indo. Jakarta: Balai Pustaka
Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan, P., Faif Pasani, C., & Effendi, R. (2020). Awal Mula dan Perkembangannya Sampai Masa Kerajaan.
Bambang. S., 2012. Sekilas Tentang Penemuan Koin Belanda di Desa Mandala, Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sekilas Tentang Temuan Ribuan Koin Belanda di Desa Mandala, Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan 106-116
Pires, T., Cortesão, A., & Rodrigues, F. (2017). Suma oriental. Lisboa: Centro Científico e Cultural de Macau.
Oleh : Prabu Pasha Cahya Permana (Universitas Negeri Malang)




