Dalam perdagangan di Nusantara, rempah-rempah menjadi komoditas utama perdagangan. Salah satunya adalah lada (Piper Ningrum) yang begitu diminati oleh bangsa Eropa maupun Timur Tengah. Bagi masyarakat Eropa, lada tidak hanya menjadi komoditas perdagangan, tetapi juga simbol kemewahan dan kekayaan yang menunjukkan status sosial bangsa Eropa pada masa itu. Lada awalnya berasal dari daerah Ghat Barat di India dan mulai masuk ke Nusantara melalui Jawa dan Sumatra pada abad ke-6. Masuknya lada ke Nusantara berawal dari para pedagang Arab dan Persia ke Banten sehingga Banten menjadi salah satu daerah penghasil lada. Pada abad ke-7 awalnya lada dikenal dengan nama “merica” yang berasal dari bahasa Sanskerta (Ashanty, 2024).
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan tujuan mengkaji perdagangan rempah utamanya lada dalam ekonomi-politik VOC di Batavia pada abad ke-16 hingga abad ke-17. Pada awal Masehi, Ptolomeus sebenarnya telah membuka jalan pengetahuan untuk menuju ke kepulauan rempah-rempah yang dianggap sebagai imajinasi untuk Eropa. Meskipun terdapat keraguan dari Ptolomeus untuk menyeberangi Samudera Hindia yang dianggap tertutup (Fadly, 2019).
Perdagangan lada di Jambi pada abad XVI-XVII ditulis oleh Anastasia Wiwik Swastiwi (2010) dalam bukunya “Jambi Dalam Lintasan Sejarah Melayu (Abad I-XVII)”. Disebutkan bahwa jauh sebelum kedatangan Belanda tahun 1615, Jambi sudah menjadi penghasil Utama ladaMenginjak awal abad ke-17, Jambi ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negara. Pedagang Inggris dan Portugis lebih dahulu datang namun tidak diizinkan membuka kantor dagangnya di Jambi. Lada di Jambi dihasilkan oleh daerah hulu. Pengiriman lada sering terganggu karena sulitnya akses dari hulu ke hilir. Tertundanya pengiriman disebabkan oleh rakit yang digunakan sebagai alat angkut membawa lada hanya dapat melewati sungai dengan kondisi air yang tinggi. (Arman, 2018)
Perdagangan lada di Lampung ditulis oleh Iim Imadudin dalam bukunya yang berjudul “Lada di Lampung dalam Tiga Masa (1653-1930).” Lampung sebagai penghasil lada berada di dalam pengaruh Banten, VOC, dan pemerintah Hindia Belanda. Lampung mengekspor 12.920.475 kg lada hitam ke luar negeri dan berbagai wilayah di Hindia Belanda yakni Jawa berjumlah 2.886.430 kg dan ekspor di wilayah lainnya 8.543 kg sehingga bertotal sekitar 2.894.973 kg. Namun, pada tahun 1930 perkebunan lada terserang penyakit kuning yang disebabkan oleh kondisi tanah yang kurang subur karena kekurangan pupuk sehingga mengalami kekeringan. Hal ini berakibat turunnya produksi dan perdagangan lada di daerah Lampung, karena lada Lampung hanya mampu bertahan selama 15 tahun. Pemeliharaan yang kurang berhati-hati juga menjadi penyebab dari turunnya kualitas produksi. (Masroh, 2015)
Perdagangan lada di Sunda ditulis oleh Ashanty Thania Fitriansyach dalam jurnal berjudul “Perdagangan Lada di Sunda Abad XVI”. Sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis, Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan di mana kapal-kapal dari Nusantara, Eropa, dan Asia berlabuh. Lada yang diekspor dari Sunda dianggap memiliki kualitas yang unggul dibandingkan lada yang berasal dari Cochin, India. Selain lada, wilayah ini juga dikenal sebagai produsen cabai Jawa dan buah asam yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan kapal-kapal dagang yang berlabuh. Aktivitas perdagangan di Sunda tak hanya mencangkup rempah-rempah, beras, dan cabai namun juga mencangkup perdagangan budak dan emas.
Belanda memberi wewenang kepada VOC selaku perusahaan yang memang bergerak di bidang perdagangan untuk memperluas wilayah kekuasaannya, VOC diberi kebebasan dalam pertahanan militer dan politik. Belanda memberi hak kedaulatan kepada VOC untuk membangun benteng-benteng, mengerahkan dan merekrut serdadu, serta mengikat perjanjian dengan para raja di Nusantara. Persaingan dagang di Nusantara begitu sengit mengharuskan pemimpin VOC perlu melakukan kebijakan demi memperkuat kongsi dagang dengan memindahkan pusat dan markas dagang VOC dari wilayah Timur menuju ke wilayah Barat (Batavia). Pemindahan ini didasari oleh turunnya harga jual rempah-rempah dalam perdagangan dunia yang beralih ke perdagangan beras dan kayu yang dihasilkan di Pulau Jawa. VOC yang awalnya berfokus pada komoditi rempah kini beralih ke komoditi lain juga seperti beras, kain, dan lada. Kota pelabuhan awalnya tidak diberi nama Batavia melainkan Jayakarta. Batavia sendiri adalah nama yang diberikan oleh belanda setelah kemenangan mereka mengusir Inggris dari wilayah ini. Kantor administrasi VOC yang awalnya hanya pelabuhan kecil menjadi pelabuhan dengan pusat perdagangan antar negara yang semakin maju. Tidak hanya memasarkan barang-barang dari Nusantara ke Eropa tetapi juga mengumpulkan modal di wilayah Asia. (Dewi, 2023)
Kesimpulannya, lada merupakan salah satu komoditas utama yang diminati oleh bangsa Eropa. Di Indonesia sendiri terdapat tiga penghasil utama lada, yakni Jambi, Lampung, dan Sunda. Jambi telah menjadi salah satu penghasil lada terbesar jauh sebelum kedatangan Belanda, hal ini dituliskan. Lampung yang berada di dalam kekuasaan Banten, VOC, dan pemerintah Hindia Belanda juga merupakan pengekspor lada yang besar Lampung mengekspor 12.920.475 kg lada hitam ke luar negeri dan berbagai wilayah di Hindia Belanda yakni Jawa berjumlah 2.886.430 kg dan ekspor di wilayah lainnya 8.543 kg sehingga bertotal sekitar 2.894.973 kg. Namun, pada tahun 1930 perkebunan lada terserang penyakit kuning yang disebabkan oleh kondisi tanah yang kurang subur karena kekurangan pupuk sehingga mengalami kekeringan. Sunda sejak jatuh ke tangan Portugis dianggap sebagai penghasil lada dengan kualitas unggul dibandingkan lada yang berasal dari Cochin. Setelah kepindahan pusat VOC dari wilayah Timur ke wilayah Barat yang didasari oleh turunnya harga jual rempah-rempah dalam perdagangan dunia yang beralih ke perdagangan beras dan kayu yang dihasilkan di Pulau Jawa. VOC yang awalnya berfokus pada komoditi rempah kini beralih ke komoditi lain juga seperti beras, kain, dan lada.
Daftar Pustaka
Arman, Dedi. 2018. Perdagangan Lada di Jambi Abad XVI–XVIII. Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya. https://media.neliti.com/media/publications/292654-perdagangan-lada-di-jambi-abad-xvi-xviii-34cf26e5.pdf
Fitriansyach, Ahmad Taufik. 2024. Perdagangan Lada di Sunda Abad XVI. Nuansa: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam. https://www.researchgate.net/publication/387770326_PERDAGANGAN_LADA_DI_SUNDA_ABAD_XVI
Masroh, Laelatul. 2015. Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816–1942. Sejarah dan Budaya. https://share.google/r3WgUYNgMkLkS4Nhq
Dagh-Register Gehouden in ’t Casteel Batavia. Arsip VOC. https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=mdp.39015020146026&ui=embed&seq=30
Sabrina, Dewi Ayu, dkk. 2024. Batavia dalam Rongrongan Kolonialisme Belanda melalui VOC. PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah.
https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/periode/article/view/44815/17382
Vinckboons, Johannes. View of Batavia. Abad ke-17.
Oleh : Latisya Az Zahra (Universitas Negeri Malang)




