Budaya memiliki peranan yang cukup penting dalam susunan masyarakat karena didalamnya terdapat nilai, simbol, dan kebiasaan yang membentuk pola perilaku serta cara pandang masyarakat. Kebudayaan dimiliki dan diwariskan secara turun temurun, Koentjaraningrat memaknai budaya sebagai keseluruhan dari hasil gagasan dan tindakan manusia yang dipelajari kemudian diwariskan. Budaya juga dapat digunakan sebagai sarana interaksi suatu kelompok dengan yang lainnya. Kemampuan budaya dalam menjangkau sejumlah besar orang yang kemudian dimanfaatkan sebagai media untuk diplomasi publik. Diplomasi menggunakan budaya adalah bentuk dari pertukaran gagasan, informasi, seni dan aspek budaya lainnya di antara bangsa-bangsa dan masyarakat dengan tujuan untuk mendorong mutual understanding (Bernadette dkk., 2022). Diplomasi budaya berbeda dari bentuk diplomasi lainnya karena memanfaatkan unsur budaya sebagai sarana pendekatan yang mengandung nilai simbolis dan bertujuan membangun kedekatan antara kedua belah pihak. Menurut (Goff, 2013), diplomasi budaya adalah bentuk dari soft power bukan hard power karena berfungsi sebagai daya tarik bukan paksaan. Sejak zaman dahulu diplomasi budaya telah diterapkan dalam pemerintahan tradisional di Indonesia. Kerajaan-kerajaan tradisional menggunakan identitas budaya mereka untuk menjalin kerjasama dengan kerajaan yang lainnya. Salah satunya adalah kerajaan Singhasari yang melakukan diplomasi budaya dengan kerajaan Melayu (Dharmasraya) lewat ekspedisi yang dilakukan oleh Singhasari pada abad ke-13 Masehi. Diplomasi budaya tersebut kemudian dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan pada tahun 1275 Masehi. Tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menjalin hubungan diplomatik dan mencegah serangan dari Kerajaan Mongol ke wilayah Asia Tenggara (Rahardjo dkk., 2018). Singhasari telah melakukan diplomasi budaya dengan mengirimkan Arca Amoghapasa sebagai bentuk kerjasama dengan kerajaan Melayu
Diplomasi Budaya Singhasari
Singhasari merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia yang berkuasa pada abad ke-13 Masehi. Puncak kejayaan kerajaan Singhasari terjadi pada masa pemerintahan Kertanegara (1268-1292). Bukti dari kejayaan Singhasari pada masa tersebut dapat dilihat dari gagasan perluasan Cakrawala Mandala hingga keluar pulau Jawa. Gagasan politik tersebut dimotivasi oleh keinginan Singhasari untuk membangun kerjasama dengan kerajaan Melayu dalam menghadapi ancaman dari Mongol. Dalam upaya mewujudkan hubungan tersebut, Singhasari memanfaatkan unsur budaya yang dimilikinya sebagai sarana diplomasi dengan kerajaan Melayu. Bentuk dari diplomasi budaya yang dilakukan Singhasari adalah dengan memberikan hadiah berupa Arca Amoghapasa dan saptartna (tujuh permata) yang dibawa dari Singhasari menuju Melayu (Rahardjo dkk., 2018). Pemberian hadiah tersebut juga menjadi bukti dari kebesaran dan kemajuan peradaban di Singhasari.
Pemberian hadiah merupakan bentuk dari diplomasi budaya dengan menggunakan soft power. Istilah mengenai soft power pertama kali dikenalkan oleh Joseph Nye, menurutnya aktivitas untuk mencapai kesepakatan tidak harus menggunakan kekuatan yang mengancam, melainkan bisa dilakukan dengan aktivitas yang menarik perhatian dari target, sehingga kesepakatan yang diperoleh merupakan keinginan mereka sendiri, bukan karena takut atau tidak punya pilihan (Trisni & Putri, 2023). Pemberian arca dan perhiasan tersebut disambut dengan sukacita oleh masyarakat Melayu.
Informasi mengenai Arca Amoghapasa ini tertulis dalam Prasasti Padang Roco yang ditemukan di Padang Roco, Sungai Langsat, Sumatera Barat. Prasasti yang berangka tahun 1208 Saka dan ditulis dalam aksara Jawa Kuno berbahasa Melayu kuno tersebut menjelaskan tentang Arca Amoghapasa yang dikirim dengan empat belas pengiringnya, beserta saptaratna (tujuh permata) sebagai hadiah dari Kertanegara kepada Mauliwarmadewa untuk didirikan di Dharmasraya (Melayu) (Trigangga dkk., 2015). Arca Amoghapasa tersebut memiliki kemiripan dengan arca-arca bergaya Singhasari yang dibuat pada abad ke-13 Masehi, selain keterangan yang tertera dalam Prasasti Padang Roco, gaya seni dari arca Amoghapasa juga sangat mendukung asumsi bahwa arca tersebut memang didatangkan dari Jawa. Berdasarkan informasi yang didapat dari prasasti dan arca tersebut, menunjukkan bahwa pengiriman arca dan permata dari Singhasari ke Melayu merupakan salah satu upaya Singhasari dalam strategi diplomasi budaya untuk membangun kerjasama dengan Melayu.
Diplomasi budaya yang dilakukan oleh Singhasari pada abad ke-13 Masehi tidak hanya didorong oleh kepentingan politik saja, melainkan juga melibatkan unsur budaya yang dimiliki oleh Singhasari sebagai sarana diplomasi mereka. Unsur budaya yang dibawa Singhasari adalah pengiriman arca Amoghapasa dan tujuh permatanya yang dikirim dari Jawa menuju Melayu. Pemberian hadiah tersebut merupakan bentuk dari soft power yang diterapkan Singhasari untuk menjalin kerja sama dengan kerajaan Melayu. Informasi mengenai pemberian arca Amoghapasa oleh Singhasari dimuat dalam Prasasti Padang Roco yang ditemukan di Padang Roco, Sungai Langsat, Sumatera Barat. Prasasti tersebut merupakan bukti bahwa Singhasari pernah datang dan menjalin hubungan kerja sama lewat ekspedisi yang mereka kirim ke Melayu.
Daftar Rujukan
Bernadette, S., Septiana, R., & Kusumawardhana, I. (2022). Music Matters: Diplomasi Budaya Indonesia terhadap Negara di Kawasan Pasifik Melalui ‘the Symphony of Friendship’ di Selandia Baru. Indonesian Perspective, 7(2). https://doi.org/10.14710/ip.v7i2.50779
Goff, P. M. (2013). Cultural Diplomacy. Dalam A. Cooper, J. Heine, & R. Thakur (Ed.), The Oxford Handbook of Modern Diplomacy (1 ed., hlm. 419–435). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199588862.013.0024
Rahardjo, S., Anggraeni, N., Nastiti, T. S., & Ramelan, W. D. (2018). Warisan Budaya Maritim Nusantara. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Trigangga, Wardhani, & W. Retno. (2015). Prasasti dan Raja-Raja Nusantara (Handari, Ed.). Museum Nasional Indonesia Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Trisni, S., & Putri, A. (2023). Diplomasi Publik dan Soft Power: Sama atau Berbeda? Andalas Journal of International Studies (AJIS), 12(1), 1. https://doi.org/10.25077/ajis.12.1.1-12.2023
Oleh : Widya Novita Ayu (Universitas Negeri Malang)




