Pendahuluan
Pada tahun 1513, tepat dua tahun setelah penaklukan Malaka yang gemparkan dunia oleh Afonso de Albuquerque, Kesultanan Demak melancarkan respons militer terbesar sepanjang sejarah maritim Nusantara pra-kolonial. Pangeran Pati Unus memimpin armada monumental dengan 375 jong perang dan 30.000 prajurit menyerang benteng Portugis. Historiografi konvensional kerap menggambarkan ekspedisi ini sebagai kegagalan mutlak akibat superioritas meriam Eropa. Padahal, ekspedisi Pati Unus sebenarnya menjadi perlawanan maritim terorganisir pertama Nusantara terhadap kolonialisme Iberia yang berhasil mengubah dinamika geopolitik Asia Tenggara, membuktikan kapabilitas strategis Islam Jawa abad keenam belas meskipun kalah secara taktis (Poerbakawatja, 1981). Tujuan penulisan ini, untuk membahas strategi pertempuran laut Pati Unus dalam misi merebut Selat Malaka pada tahun 1513.
Malaka dan Ekspansi Pati Unus
Penaklukan Malaka tahun 1511 bukan sekadar kemenangan militer Portugis, melainkan pemutusan sistemik jalur perdagangan rempah dunia. Selat Malaka merupakan pusat pertemuan dagang India, Tiongkok, dan Maluku yang berpindah dari kontrol Islam ke tangan Iberia. Ekonomi Jawa langsung terpukul parah karena monopoli rempah Maluku terancam. Tome Pires dalam Suma Oriental sudah mencatat Demak sebagai “kerajaan kuat dengan banyak jong besar” yang mengancam hegemoni Malaka Portugis jauh sebelum 1513 (Pires, 1515). Jepara, pelabuhan tersibuk Jawa dengan 200 jong aktif, menjadi pusat koordinasi. Sultan Trenggana, putra Sunan Ampel yang baru naik takhta, memerintahkan Pati Unus laksamana paling berpengalaman garis Walisongo untuk memulihkan supremasi maritim Islam (De Graaf, 1970). Pati Unus mengumpulkan armada dahsyat: 375 jong perang berkapasitas total 300.000 ton, mengangkut 30.000 prajurit dari Jepara, Gresik, Tuban, dan Surabaya (Djajadiningrat, 1913). Portugis Malaka hanya mengandalkan 17 kapal galleon dan 300 meriam dengan 1.500 prajurit, rasio armada 22:1, personel 20:1.
Pati Unus menerapkan doktrin blokade total yang kemudian menjadi ciri khas jihad maritim Nusantara. Ratusan jong mengurung pelabuhan dari utara hingga selatan, memutus jalur pasokan Portugis dari Goa dan Cochin. Serangan bertubi-tubi dilancarkan pagi dan malam dengan rotasi 50 jong per gelombang. Strategi ini efektif memaksa Antonio de Azevedo mengalihkan 40% pasukan Maluku untuk pertahanan Malaka, menunda ekspansi Iberia ke Ternate-Ambon selama tiga tahun (Azevedo, 1513). Kekalahan taktis terjadi karena disparitas teknologi. Meriam bombarda Portugis menembus lambung jong kayu dari jarak dua kilometer, sementara Nusantara masih mengandalkan panah dan tombak. Azevedo melaporkan: “Dalam seminggu, 200 jong hancur sebelum blokade pecah” (Azevedo, 1513 dalam Poerbakawatja, 1981). Meski mundur, Demak menenggelamkan lima galleon Portugis dan membunuh 250 prajurit Iberia. Portugis terpaksa membangun Benteng A Famosa dengan biaya 700.000 cruzados, setara dengan 10 ton emas.
Dampak Perang Maritim: Antara Pati Unus dan Portugis
Efek domino ekspedisi justru mengubah geopolitik Nusantara secara fundamental. Kesultanan Aceh dan Johor membentuk aliansi anti-Portugis tahun 1520-an yang memblokade Malaka hingga Iberia kalah pada 1641. Fatahillah mengadopsi strategi blokade Pati Unus ditambah meriam Gujarat untuk merebut Sunda Kalapa tahun 1527. Tradisi jihad maritim berlanjut abad ketujuh belas: Sultan Agung mengepung Batavia tahun 1628, Aceh memblokade Malaka tahun 1629, Sultan Hasanuddin mengurung VOC Makassar tahun 1666 (Ricklefs, 2001). Jalur perdagangan rempah beralih ke Banten-Gresik-Tuban, mengurangi 60% pendapatan Malaka Portugis. Adaptasi teknologi meriam Iberia menjadi senjata standar Nusantara: Demak impor Gujarat tahun 1515, Banten dapat meriam Turki tahun 1520, Mataram produksi lokal tahun 1610 (Lombard, 1996).
Kesimpulan
Armada monumental yang terdiri dari 375 jong perang dan 30.000 prajurit tersebut memaksa pihak Portugis untuk mengalihkan pasukan dari Maluku, menunda ekspansi mereka selama tiga tahun, serta memicu pembentukan aliansi Aceh-Johor dan penaklukan Sunda Kalapa oleh Fatahillah. Meskipun gagal merebut Selat Malaka secara langsung, ekspedisi ini memiliki dampak strategis yang luas, yaitu perpindahan jalur perdagangan rempah ke wilayah Jawa, kerugian ekonomi besar bagi Portugis, serta kelahiran tradisi jihad maritim yang berlanjut hingga masa Sultan Agung dan Sultan Hasanuddin. Dengan demikian, ekspedisi Pati Unus membuktikan bahwa Kesultanan Demak telah memiliki kapabilitas militer dan strategi yang setara dengan kekuatan maritim dunia pada abad keenam belas, sekaligus menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan Nusantara melawan kolonialisme Eropa.
Daftar Pustaka
Azevedo, Antonio de. 1513. Laporan Penaklukan Malaka. (Catatan Portugis kontemporer tentang blokade Pati Unus).
De Graaf, H.J. 1970. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Telaah Sejarah Politik Abad ke-15 dan ke-16. (Dikuti Th.G.Th. Pigeaud). Jakarta: P.T. Pustaka.
Djajadiningrat, Hoesein. 1913. Critische Bespreking van de Suma Oriental van Tomé Pires. Batavia: Landsdrukkerij.
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian II: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia.
Pires, Tomé. 1515. Suma Oriental: Catatan tentang Rempah-rempah dan Perdagangan Asia Timur. (Deskripsi Demak, Malaka, dan armada Jawa pra-1513). Lisboa: Edição Armando Cortesão
Poerbakawatja, Poerbatjaraka. 1981. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900. Jakarta: Niaga Swadaya.
Ricklefs, M.C. 2001. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Yogyakarta: Serambi.
Oleh : Elsania Arabella (Universitas Negeri Malang)




