Selama berabad abad, sejarah kolonialisme Eropa di Kepulauan Indonesia telah memengaruhi kehidupan ekonomi dan politik di wilayah tersebut. Meskipun penelitian tentang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan pemerintah kolonial Belanda menjadi fokus utama historiografi Indonesia, kehadiran Inggris melalui British East India Company (EIC) juga memiliki peran penting. Setelah terusir dari banten pada tahun 1682, Inggris mulai memperkuat dominasinya di pesisir barat Sumatra, terutama di Bengkulu sejak tahun 1685. Hal ini menandai dimulainya periode kolonialisme Inggris terlama di wilayah Indonesia yang berlangsung hampir 140 tahun.
Tujuan Inggris di Bengkulu bukan hanya keuntungan ekonomi dari perdagangan lada melainkan juga untuk mempertahankan hegemoni dan prestise dalam persaingan dengan Belanda. Meskipun perdagangan lada sering mengalami defisit, Inggris secara sadar tetap bertahan di Bengkulu demi menjaga kekuasaan politik, bukan sekadar motif ekonomi. Lada di Bengkulu menjadi simbol kekuatan Inggris di tengah dominasi Belanda di Nusantara. Esai ini akan mengkaji alasan-alasan nonekonomi, terutama tujuan politik dan prestise kolonial, yang melandasi Inggris untuk menetap di Bengkulu sampai mereka menemukan Singapura sebagai basis baru yang lebih menguntungkan melalui Perjanjian London 1824
Melihat Bengkulu sebagai pelabuhan harapan yang memiliki kemampuan untuk memecahkan monopoli Belanda di Selat Sunda, langkah awal EIC di Bengkulu didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menjaga sumber lada. Inggris menerapkan kebijakan ekonomi yang ketat, termasuk sistem wajib tanam, mewajibkan setiap kepala keluarga menanam 2.000 pohon lada upaya EIC mencerminkan bagaimana kepentingan ekonomi dijalankan melalui kekuasaan politik. Pentingnya nilai strategis Bengkulu bagi Inggris terlihat dari besarnya investasi infrastruktur yang di tanamkan. Pembangunan Fort York yang digantikan oleh Fort Marlborough di tepi Pantai Tapak Paderi bukan sekadar pertahanan militer, melainkan berfungsi sebagai pusat administrasi logistik dan gudang penyimpanan lada. Benteng-benteng menjadi simbol kehadiran permanen Inggris di Nusantara, secara tidak langsung memberikan pesan politik kepada Belanda bahwa Inggris tetap memiliki pengaruh ekonomi yang kuat meskipun menghadapi berbagai kendala geografis.
Laporan internal EIC menunjukkan operasional di Bengkulu sering mengalami defisit karena biaya pemeliharaan infrastruktur dan administrasi yang tinggi dibandingkan pendapatan dari penjualan lada. Kondisi ini diperburuk oleh produktivitas rendah tanaman lada karena ketidaksesuaian lahan di beberapa wilayah dan petani lokal merasa terbebani oleh sistem paksa yang diterapkan Inggris, membuat target ekspor jarang terpenuhi. Selain itu, faktor non teknis seperti tata kelola internal dan masalah kesehatan menjadi hambatan besar bagi stabilitas ekonomi EIC. Tenaga kerja asal Eropa kerap terdampak wabah penyakit, ditambah lagi dengan praktik korupsi pejabat residen yang merugikan perusahaan. Ketidakpuasan ekonomi memicu konflik sosial dan perlawanan di Bengkulu, yang berujung pada pembunuhan Residen Thomas Parr pada tahun 1807. Setelah pemberontakan, EIC harus mengeluarkan biaya militer tambahan, yang semakin menguras uang perusahaan dan menjauhkan Bengkulu dari status kota yang menguntungkan.
Inggris mencoba variasi komoditas pada akhir abad ke 18 sebagai tanggapan atas kegagalan industri lada. Dari tahun 1796 hingga 1799, tanaman pala, cengkih, dan kopi mulai diperkenalkan. Setelah perubahan, status administratif wilayah juga berubah pada tahun 1785, Bengkulu sempat menjadi Keresidenan di bawah pengawasan Bengal. Upaya ini menunjukkan bahwa Inggris sedang mengalami perubahan, mencari model ekonomi yang lebih efisien di tengah penurunan nilai jual lada di pasar Eropa. Bukan kekalahan militer yang menghentikan Inggris dari Bengkulu, tetapi strategi ekonomi global Thomas Stamford Raffles. Inggris mencari basis baru di Selat Malaka yang lebih strategis karena Bengkulu terlalu terisolasi. Hasilnya adalah Singapura. Inggris akhirnya melepas bengkulu pada Perjanjian London tahun 1824. Keputusan ini menunjukkan bahwa, meskipun Bengkulu memiliki reputasi historis, masa depan ekonomi inggris bergantung pada jalur perdagangan bebas yang lebih aktif di utara.
Sejarah kehadiran EIC di Bengkulu menunjukkan kekuatan politik di tengah kegagalan ekonomi. Meskipun tujuan komersial yang besar ditunjukkan oleh kebijakan wajib tanam lada dan pembangunan infrastruktur, fakta finansial menunjukkan di Bengkulu lebih sering menjadi beban anggaran daripada sumber pendapatan. Ini menunjukkan bahwa imperium kolonial sering mempertahankan wilayah strategis untuk menjaga prestise dan kekuasaan di mata pesaing global daripada keuntungan finansial. Pandangan strategis Inggris tentang Asia Tenggara berubah ketika Perjanjian London 1824 mengakhiri kekuasaan Inggris di Bengkulu. Penyerahan Bengkulu kepada Belanda adalah pilihan logis untuk membantu Singapura dan Malaka menjadi pusat ekonomi baru. Pada akhirnya, transisi ini menunjukkan perasaan prestise lama di Bengkulu yang terisolasi dikalahkan oleh logika ekonomi modern yang mengutamakan jalur perdagangan bebas. Karena itu, sejarah EIC Bengkulu tetap menjadi catatan penting , bagaimana sebuah daerah dapat memiliki nilai politik yang lebih besar daripada nilai moneter sebelum akhirnya dikorbankan untuk visi ekonomi global.
Daftar Pustaka
Hidayat Taufik,Pratama Febta, (2026). BETWEEN PRESTIGE AND IMPORTANCE : THE REASON WHYTHE BRITISH EAST INDIA COMPANY SURVIVED IN BENGKULU, 1685-1825
Marsden, W. (2012). The history of Sumatra (Original work published 1783). Cambridge University Press.
Bastin, J. S. (1957). The native policies of Sir Stamford Raffles in Java and Sumatra: An economic interpretation. Oxford University Press.
Siddique, S., & Shotam, N. P. (1982). Singapore’s Little India: Past, present, and future. Institute of Southeast Asian Studies.
Oleh : Muhammad Zikhrul Fikri (Universitas Negeri Malang)




