Pendahuluan
Strategi perlawanan adalah rencana terstruktur yang dirancang untuk melawan kekuatan penjajah atau musuh, yang meliputi aspek militer, diplomatic,ekonomi dan lain sebagainya guna untuk mencapai kemenangan atau minimal bertahan. Contohnya, strategi perang gerilya Cut Nyak Dhien di perang Aceh pada tahun 1880-an menguasai medan perang dengan menyamar kedalam hutan guna untuk mengelabuhi musuh dengan dukungan rakyat, atau perlawanan Tuanku Imam Bonjol dalam perang Padri sekitar 1830-an melalui boikot ekonomi dan jihad reformis (pemurnian ajaran islam). Di Indonesia, sebelum terjadinya kedua perlawanan diatas, Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645) menerapkan strategi tersebut lebih dulu terhadap VOC. Strategi masa lalunya mencakup serangan Batavia 1628-1629, blokade ekonomi, aliansi dengan kerajaan Islam, dan penguatan identitas Jawa-Islam melalui kalender Hijriah. Selain itu pula Sultan Agung menerapkan dua strategi yang sangat terkenal hingga saat ini yaitu, strategi invasi dan diplomasi.
Strategi Invasi Militer
Strategi pertama yang dilakukann oleh Sultan Agung adalah strategi militer melalui invasi langsung ke Batavia, pusat kekuasaan VOC di Jawa. Serangan pertama dilancarkan pada tahun 1628 ke Batavia, yang pada saat itu menjadi markas utama VOC di wilayah Nusantara. Dalam serangan ini, pasukan Mataram dipimpim oleh Tumenggung Bahureksa dari Kendal. Taktik utama yang digunakan adakah menyerang banteng VOC secara langsung. Namun upaya tersebut mengalami kegagalan total. Kegagalan ini disebabkan oleh beberapa fakor, seperti kurangnya persiapan logistik, persejantaan yang tidak sebanding dengan milik VOC, serta perjalanan yang sangat jauh dari pusat Mataram menuju banteng VOC yang ada di Batavia. Kondisi tersebut menyebabkan pasukan Mataram mengalami kesulitan dalam mempertahankan kekuatan mereka selama pengepungan.
Tidak menyerah dengan kegagalan yang pertama, Sultan Agung kembali melancarkan serangan kedua pada tahun 1629 dengan persiapan yang lebih matang. Ia memperbaiki strategi logistik dengan membangun lumbung-lumbung padi di berbagai wilayah yang dilewati pasukannya seperti di Tegal, Cirebon dan Karawang. Tujuan membangun lumbung ini adalah untuk memastikan pasukan Mataram memiliki persediaan makanan yang cukup selama perjalanan dan juga pengepungan. Selain itu juga Sultan Agung menerapkan taktik pengepungan darat terhadap Batavia dan mencoba memutus sumber air bersih bagi benteng VOC dengan membendung aliran sungai Ciliwung. Ia juga mengirim pasukan khusus untu membakar banteng VOC sebagai bagian dari strategi melemahkan pertahanan musuh. Meskipin begitu, strategi ini menunjukan perencanaan yang lebih sistematis, serangan kedua juga mengalami kegagalan. VOC berhasil mengetahui rencana tersebut dan membakar lumbung-lumbung padi milik Mataram di wilayah Karawang dan Cirebon. Selain itu, pasukan Mataram juga terkena wabah penyakit seperti malaria dan kolera yang semakin melemahkan kekuatan mereka.
Strategi Diplomasi
Selain menggunakan kekuatan militer, Sultan Agung juga menerapkan strategi diplomasi untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah menjalin hubungan dengan pemimpin keagamaan di Timur Tengah, yaitu Syarif Mekkah. Dari hubungan ini, Sultan Agung memperoleh legitimasi keagamaan dan menyandang gelar Sayidin Panatagama Khalifatullah. Gelar tersebut menegaskan posisinya tidak hanya sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai pemimpin agama bagi umat Islam di Jawa. Dengan legitimasi ini, Sultan Agung berusaha menyatukan rakyat Mataram untuk melawan VOC yang dianggap sebagai kekuatan asing non-muslim.
Di samping itu, Sultan Agung juga menjalankan diplomasi dengan penguasa lokal di berbagai wilayah Jawa. Ia berusaha menjalin aliansi dengan para raja kecil atau adipate agar bersedia berada di bawah kekuasaan Mataram. Namun, apabila mereka menolak untuk tunduk kepada Sultan Agung, maka Sultan Agung tidak segan untuk menggunakan kekuatan militer guna menaklukan wilayah tersebut. Pendekatan ini menunjukan bahwa kekuatan militer dan diplomasi sejalan beriringan dengan strategi politik Mataram. Dalam hubungan dengan VOC sendiri, Sultan Agung juga pernah mengirim utusan yang menuntut agar VOC mengakui kekuasaan Mataram dan bersikap sebagai pihak yang tunduk jika ingin berdagang di Jawa. Namun tuntutan ini ditolak oleh VOC, yang semakin memperburuk hubungan kedua belah pihak.
Kesimpulan
Perlawanan yang dipimpim Sultan Agung terhadap VOC menunjukan bahwa upaya mempertahankan kedaulatan tidak hanya dilakukan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui strategi diplomasi, ekonomi, serta penguatan internal kerajaan. Serangan ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 memang tidak berhasil mengalahkan VOC karena kendala logistik, persenjataan serta wabah penyakit yang melemahkan pasukan Mataram. Meskipun begitu, berbagai kebijakan yang dilakukan oleh Sultan Agung, seperti ekspansi wilayah serta diplomasi kepada sejumlah raja yang ada di pulau Jawa serta Timur Tengah, menunjukan kepemimpinan yang kuat dan visioner dalam menghadapi kekuatan kolonial. Oleh karena itu, meskipun tidaj berhasil mengusir VOC, perlawanan Sultan Agung menjadi simbol penting perjuangan kerajaan-kerajaan Nusantara dalam mempertahankan kedaulatan politik dari dominasi kolonial Eropa.
Daftar Pustaka
Carey, Peter. 2019. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785–1855. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500–1900: Dari Emporium Sampai Imperium. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ricklefs, M. C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi.
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto (ed.). 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Ricklefs, M. C. 2001. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press.
Oleh : Nara Amaury Zahi Jibran (Universitas Negeri Malang)




