Batavia adalah sebuah kota yang lahir pada tahun 1619, dalam peristiwa yang terbilang dalam hitungan bulan, dan memiliki pelabuhan kecil bernama Jayakarta berubah menjadi benteng kekuasaan Eropa yang paling kuat di Asia Tenggara. Bagi Belanda, Batavia bukan sekadar pusat perdagangan VOC, melainkan simbol mutlak Belanda, di mana segelintir orang Eropa mampu mengendalikan ribuan penduduk dari berbagai bangsa hanya dengan perencanaan kota yang cerdik, tembok kanal yang membagi ruang, dan aturan sosial yang sangat ketat. Kedatangan Belanda untuk menguasai Batavia bukan hanya penaklukan militer bukan juga untuk perdagangan saja , melainkan penciptaan sistem kelas, ruang, dan kehidupan sehari-hari yang dirancang agar dominasi Belanda tetap kuat meski mereka hanyalah minoritas kecil.
Pada 30 Mei 1619 Jan Pieterszoon Coen merebut Jayakarta, membakar kota, dan mendirikan Batavia sebagai pusat VOC. Exploiting the political instabilities of the region, Coen was able to easily take over the city in May of 1619 (Kehoe, 2015). Sultan Banten melihat VOC sebagai ancaman langsung terhadap monopoli perdagangan lada dan kendali atas pelabuhan penting tersebut. Mereka bersekutu dengan Inggris (pesaing utama VOC) untuk menyerang kapal-kapal Cina yang berdagang di Jayakarta, serta melancarkan serangan bersama armada Inggris. Coen juga mengalahkan armada Banten di pelabuhannya, memaksa Inggris mundur. Perlawanan Banten ini tercatat dalam laporan-laporan Coen sendiri serta laporan tahunan Batavia ke Amsterdam, yang menunjukkan ketegangan politik dan militer sejak awal pendirian kota kolonial. Coen menciptakan hierarki etnis: Belanda/Eropa di puncak, diikuti Eurasia, Cina, India/Moor, Jawa, dan budak terbawah. A 1673 survey showed some 27,000 people living within the city walls, of which approximately 2,000 were Dutch, 700 were Eurasian, 2,800 were Chinese, 5,000 were of Indian descent, 3,000 were from Java and the rest of the archipelago, and 13,000 were slaves of unnamed origin (Kehoe, 2015). Dominasi dijaga oleh sumptuary laws (Hukum Kemewahan): In 1647, such markers of status had been outlawed for all but the very highest-ranking Dutch East India Company (VOC) officers, namely the governor-general and his council—others could only use a parasol if holding it themselves (Kehoe, 2015). Serta Plakat 1680 larangan perhiasan emas/mutiara bagi non-elite (van der Chijs, 1885–1900).
Perencanaan kota berbentuk grid dengan kanal-kanal (seperti Tijgersgracht) dan tembok benteng tidak hanya untuk drainase dan pertahanan, tetapi juga untuk membatasi pergerakan antarkelas dan etnis dengan elite Belanda yang akan tinggal di blok-blok terbaik dekat kanal, sementara budak dan Cina yang lebih banyak di luar tembok atau kampung khusus. Segregation was codified by Batavia’s very form: the city’s plan separated populations with unbridged canals and city walls (Kehoe, 2015). Elite VOC menjalani kehidupan mewah bergaya Eropa yang diadaptasi tropis (rumah dengan gable Belanda, pesta, dan pamer status), namun sumptuary laws berulang kali dikeluarkan karena pelanggaran (seperti potret pejabat yang tetap memakai payung budak atau perhiasan terlarang). Kelas Cina jadi pedagang vital, budak tulang punggung tenaga kerja, membentuk masyarakat multikultural tapi hierarkis hingga abad ke-18. Di Sisi kelas Eurasia mereka mendominasi administrasi kantor VOC (60–80% personel pada periode VOC) dan menjadi tulang punggung operasional perusahaan (Raben, 2020). Sementara wanita Eurasia berperan vital sebagai istri elite Belanda, pengelola rumah tangga, dan jembatan jaringan patronase yang menyatukan masyarakat kolonial, sehingga kelompok ini tidak hanya bertahan tapi justru menjadi elemen kunci stabilitas sosial dan administratif kota (Taylor, 2009).
Kelas Sosial yang dibentuk oleh Belanda di Batavia pada Abad ke-17 merupakan pencapaian kolonial yang luar biasa sistematis yang dimulai dari penaklukan militer Jan Pieterszoon Coen pada 30 Mei 1619 yang membakar Jayakarta dan mendirikan Kasteel Batavia sebagai pusat kekuasaan VOC. Hal ini memicu perlawanan dari Kesultanan Banten yang bersekutu dengan Inggris namun berhasil dipatahkan melalui diplomasi pecah belah dan superioritas militer. Dari puing-puing kota itu Coen langsung membangun struktur kelas sosial baru yang sangat hierarkis dengan Belanda/Eropa di puncak, diikuti Eurasia, Cina yang sengaja diundang, India/Moor, Jawa/pribumi, dan budak sebagai lapisan terbawah. Adanya sebuah peraturan yang memperkuat perbedaan kelompok sosial ini yaitu sumptuary laws (Plakat 1647 tentang payung budak dan Plakat 1680 larangan perhiasan emas/mutiara) serta sensus tahunan 1673–1792 untuk pengendalian pajak dan keamanan. Dampaknya adalah terciptanya kota kolonial yang tersegregasi secara spasial melalui grid jalan dan kanal, kehidupan mewah elite Eropa yang dikontrol ketat, peran vital pedagang Cina, serta ketergantungan total pada tenaga budak, sehingga dalam waktu singkat Batavia bertransformasi dari pelabuhan kecil menjadi simbol dominasi Belanda yang tak tergoyahkan di Asia Tenggara hingga akhir abad ke-18, membuktikan bahwa penguasaan Belanai bukan hanya soal peperangan, melainkan penguasaan ruang, kelas, dan kehidupan sehari-hari.
Daftar Rujukan
Kehoe, M. L. (2015). Dutch Batavia: Exposing the hierarchy of the Dutch colonial city. Journal of Historians of Netherlandish Art, 7(1). https://doi.org/10.5092/jhna.2015.7.1.3.
Gooszen, Hans. “Population Census in VOC-Batavia, 1673–1792”.
Colenbrander, H. T. (Ed.). (1919–1953). Jan Pietersz. Coen: Bescheiden omtrent zijn bedrijf in Indië (7 vols.). Martinus Nijhoff.
van der Chijs, J. A. (Ed.). (1885–1900). Nederlandsch-Indisch Plakaatboek, 1602–1811 (17 vols.).
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Dagh-register gehouden int Casteel Batavia (31 vols.).
Coolhaas, W. Ph. (Ed.). (1960–1985). Generale missiven van gouverneurs-generaal en raden aan heren XVII.
Blussé, L. (1986). Strange company: Chinese settlers, mestizo women and the Dutch in VOC Batavia. Foris Publications.
Taylor, J. G. (2009). The social world of Batavia: Europeans and Eurasians in colonial Indonesia. University of Wisconsin Press.
de Haan, F. (1922). Oud Batavia (Vols. 1–2). G. Kolff & Co.
Raben, R. (1996). Batavia and Colombo: The ethnic and spatial order of two colonial cities, 1600–1800 (disertasi, Leiden University).
Oleh : Yohanes Gionathanael Seluru (Universitas Negeri Malang)




