Di salah satu sudut Museum Nasional Indonesia, ada sepotong batu andesit setinggi 118 sentimeter yang berdiri tanpa banyak bicara. Namun di balik penampilannya yang sederhana, batu ini menyimpan beban peradaban yang luar biasa. Namanya Prasasti Harinjing atau Prasasti Sukabumi ditemukan pada 1916 oleh W. Pet di lereng Gunung Kelud, Karesidenan Kediri, dan kini tercatat di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.173. Yang membuat prasasti ini begitu penting bukan sekadar usianya, melainkan apa yang ia wakili: piagam tertua yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Zoetmulder (1983) menegaskan bahwa tarikh 25 Maret 804 Masehi yang terukir di permukaannya menandai tonggak awal sejarah bahasa Jawa Kuno sebagai bahasa tulis tradisi yang kemudian melahirkan karya-karya sastra terbesar Nusantara.
Tiga Inskripsi dalam Satu Batu
Keistimewaan Prasasti Harinjing terletak pada strukturnya yang tidak lazim: satu batu memuat tiga inskripsi dari masing-masing zaman yang berbeda, dipahat pada keempat sisinya. Para peneliti menyebutnya Harinjing A, B, dan C bukan tiga prasasti terpisah, melainkan satu narasi panjang yang terikat oleh tanah sima dan kesetiaan lintas generasi. Harinjing A, yang tertua, bertarikh 25 Maret 804 Masehi (726 Saka). Isinya mencatat anugerah hak sima tanah bebas pajak dari maharaja Mataram Kuno kepada Bhagawanta Bari atas jasanya membangun dawuhan (bendungan) di Kali Harinjing untuk mengendalikan banjir lahar Gunung Kelud. Damais (1952) mencatat inskripsi ini sebagai salah satu dokumen tertua di Indonesia yang dapat dikonfirmasi waktunya dengan metode astronomi. Harinjing B (921 Masehi) memuat konfirmasi ulang hak sima oleh Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tulodong. Di sinilah nama “Kadiri” muncul untuk pertama kali dalam catatan tertulis. Stein Callenfels (1918) yang pertama mentranskripsikan prasasti ini dalam karyanya De Inscriptie van Soekaboemi menandai kemunculan nama itu sebagai temuan epigrafis sangat signifikan. Adapun Harinjing C (927 Masehi) memperbarui pengakuan tersebut keturunan Bhagawanta Bari masih setia merawat bendungan leluhur lebih dari seratus tahun setelah dibangun. Kusumastuti (2019) dari UGM menegaskan bahwa ketiganya merupakan satu kesatuan naratif yang berkesinambungan.
Rekayasa Pengairan Tertua di Jawa Timur
Dari sudut pandang sejarah teknologi, Prasasti Harinjing adalah dokumen rekayasa hidraulika tertua di Jawa Timur. Dawuhan yang dibangun Bhagawanta Bari bukan proyek sederhana ia adalah sistem pengendalian banjir sekaligus jaringan irigasi yang dirancang untuk merespons ancaman lahar Gunung Kelud. Christie (1992) menunjukkan bahwa bendungan-bendungan era Mataram Kuno mencerminkan kapasitas organisasional dan teknis yang tinggi, sekaligus memperlihatkan peran sentral penguasa dalam mengelola sumber daya air sebagai basis legitimasi politik. Prasasti Harinjing A juga mencatat keterlibatan seorang Tuha Kalang bernama Daman Wanua sebagai saksi peresmian proyek. Ini adalah rekam jejak tertua penggunaan istilah “Kalang” dalam sejarah tertulis Nusantara bukti bahwa proyek ini dikelola dengan manajemen teknis yang terstruktur. Nugroho dkk. (2018) menekankan bahwa hal ini memperlihatkan bagaimana birokrasi dan profesionalisme teknis sudah berkembang di era Mataram Kuno jauh sebelum pengaruh luar masuk. Yang paling mengagumkan: lebih dari 1.200 tahun kemudian, saluran air itu kini dikenal sebagai Kali Serinjing masih mengalir sepanjang 35 kilometer melintasi enam kecamatan hingga bermuara di Sungai Brantas.
Prasasti Harinjing dan Identitas Kediri
Kemunculan kata “Kadiri” di inskripsi B menjadi rujukan utama penetapan asal-usul nama Kediri. Nugroho dkk. (2018) mencatat bahwa etimologinya kemungkinan berakar dari kata “diri” dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti berdiri atau tegak sesuai konteks pembukaan wilayah baru pada abad ke-10. Tanggal 25 Maret 804 Masehi kini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri, sebuah keputusan yang sepenuhnya berpijak pada kajian epigrafi, bukan legenda.
Penutup
Prasasti Harinjing adalah bukti bahwa masyarakat Jawa Kuno abad ke-9 sudah memiliki sistem birokrasi, profesionalisme teknis, dan komitmen terhadap keberlanjutan yang jauh lebih matang dari yang sering dibayangkan. Tiga inskripsi di atasnya bukan sekadar catatan administratif ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan identitas kita hari ini.
Bhagawanta Bari membangun sebuah bendungan. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa namanya masih akan disebut seribu tahun kemudian, bahwa airnya masih akan mengalir, dan bahwa para ahli masih akan memperdebatkan setiap baris yang ia minta dipahatkan di batu andesit kaki Gunung Kelud. Tapi itulah yang terjadi. Dan selama Kali Serinjing mengalir dan para epigrafis membaca prasastinya, Bhagawanta Bari tidak pernah benar-benar pergi.
Daftar Pustaka
Christie, J. W. (1992). Water from the ancestors: Irrigation in early Java and Bali. Dalam J. M. Rigg (Ed.), The Gift of Water: Water Management, Cosmology and the State in South East Asia (hlm. 7–25). London: SOAS, University of London.
Damais, L. Ch. (1952). Études d’épigraphie indonésienne III. Bulletin de l’École Française d’Extrême-Orient, 46(1), 1–105. https://doi.org/10.3406/befeo.1952.5158
Kusumastuti, R. R. S. F. (2019). Prasasti Harinjing: Tinjauan kembali atas isi dan paleografi [Skripsi]. Yogyakarta: UGM. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/175535
Nugroho, L. A., Wuryani, E., & Sunardi, S. (2018). Kebijakan penguasa Jawa Kuno: Balitung dalam sebuah kajian epigrafi. Cakrawala: Jurnal Penelitian Sosial, 7(1), 65–82. https://doi.org/10.31291/jc.v7i1.520
Stein Callenfels, P. V. van. (1918). De inscriptie van Soekaboemi. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 58, 347–359. https://hdl.handle.net/1887.1/item:904855
Zoetmulder, P. J. (1983). Kalangwan: A survey of Old Javanese literature. The Hague: Martinus Nijhoff. https://brill.com/display/title/3695
Oleh : Jovi Al Amin (Universitas Negeri Malang)




