Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

Bantengan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Bantengan menjadi simbol perlawanan, keberanian, dan kekuatan alam. Masyarakat Malang menjaga kesenian ini sebagai bagian dari identitas lokal dan sering menampilkannya dalam acara adat, perayaan hari besar, maupun pentas budaya. Dengan kekayaan nilai dan ekspresi yang terkandung di dalamnya, Bantengan Malang menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang harus dilestarikan dan dikenalkan lebih luas kepada generasi muda.

Kesenian Bantengan, yang selama ini dikenal sebagai warisan budaya tradisional dari Malang, Jawa Timur, kini tengah mengalami dinamika yang menarik dan menuai perdebatan. Dari sebuah komunitas yang awalnya dibentuk oleh pendatang dari luar daerah, Bantengan kini berkembang pesat dan perlahan mengalami perubahan, terutama dalam aspek musik pengiringnya. Fenomena ini secara tidak langsung membuka ruang diskusi tentang bagaimana seni tradisional ini dapat bertahan dan beradaptasi di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya.

Perubahan yang paling kentara dalam perkembangan seni Bantengan adalah transformasi musik pengiringnya. Dari awalnya hanya menggunakan musik gamelan tradisional asli, kini muncul inovasi dengan menghadirkan musik remix dalam arak-arakan Bantengan. Momen arak-arakan yang diiringi musik remix bahkan sempat viral dan menarik perhatian luas serta tidak luput dari banyaknya khalayak yang memperdebatkan hal tersebut.

Fenomenaini,yang dikenaldenganistilah“mberot”,membawanuansabarudalampertunjukan Bantengan. Kini bantengan banyak dipentaskan dengan musik remix, lengkap dengan dentuman bass elektronik, irama cepat, dan juga cuplikan lagu-lagu populer yang viral di media sosial. Para penari tetap menggunakan kostum banteng, tetapi gerakannya cenderung lebih bebas, bahkan kadang menyerupai tarian jalanan atau pertunjukan hiburan modern. Popularitas Bantengan dengan musik remix membawa dampak positif yang jelas. Acara menjadi lebih meriah dan mudah diterima oleh berbagai generasi, terutama generasi muda yang membutuhkan hiburan modern. Hal tersebut cukup membantu dalam menjaga keberlangsungan kesenian Bantengan di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung.

Tren “mberot” ini muncul bukan tanpa sebab, tetapi ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh para pemain Bantengan melalui wawancara diantaranya yakni daya tarik bagi generasi muda, musik remix dianggap lebih mudah menarik perhatian generasi muda. Dengan aransemen yang

cepat dan energik, pertunjukan bantengan terasa lebih meriah dan terlebih lagi saat ini banyak konten kreator yang menyorot Bantengan tersebut sehingga lebih dikenal secara luas. Lalu untuk menghadirkan seperangkat gamelan beserta pengrawit asli, kiranya membutuhkan biaya yang cukup besar. Sebaliknya, musik remix cukup diputar melalui speaker dan saat ini juga banyak konten youtube yang membuat lagu-lagu remix Bantengan sehingga lebih murah dan praktis.

Namun, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa fenomena ini juga menimbulkan tantangan. Para pengrawit gamelan yang selama ini menjadi nyawa musik tradisional, perlahan kehilangan peran dan penghidupan karena dominasi musik remix yang lebih digemari dalam berbagai event karena lebih modern dan dapat memikat generasi muda. Pergeseran ini menimbulkan kekhawatiran akan punahnya keahlian gamelan dan hilangnya nilai-nilai tradisional asli yang melekat pada kesenian Bantengan. Apakah kehadiran musik remix dalam Bantengan merupakan bentuk pembaruan yang relevan atau justru pergeseran nilai yang mengikis makna dan jati diri asli dari kesenian itu sendiri?

Selain itu, gamelan dan Bantengan ini tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga berfungsi sebagai media spiritual. Ritme gamelan yang diyakini membantu proses kesurupan atau “kalap” dalam pertunjukan, dan saat ini musik digantikan dengan remix yang bersifat modern, membuat dimensi sakral tersebut menghilang. Dalam konteks ini, ketika seni tradisi seperti Bantengan lebih mengutamakan daya tarik visual dan kehebohan musik, alih-alih menjadi ekspresi budaya yang memiliki nilai, Bantengan berisiko berubah menjadi sekadar tontonan massal yang kehilangan kedalaman makna dan identitas aslinya.

Meskipun banyak kekhawatiran muncul, tidak semua bentuk pembaruan harus ditolak mentah-mentah. Justru dalam dunia seni, inovasi adalah salah satu cara agar kesenian tetap hidup. Dengan pendekatan yang bijak, pembaruan justru bisa menjadi jalan untuk merawat tradisi. Beberapa seniman telah membuktikan bahwa gamelan bisa dikolaborasikan dengan musik remix tanpa mengorbankan nilai-nilai dasarnya.

Dalam praktiknya, pertunjukan bantengan bisa dibagi menjadi dua sesi yakni satu sesi dengan gamelan dan sesi lainnya dengan musik remix. Strategi ini sangat bijaksana karena mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai tradisional dan kebutuhan hiburan modern. Dengan cara ini, semua pihak-baik pengrawit gamelan maupun remix dapat memperoleh ruang berkarya yang adil dan saling melengkapi.

Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat ini posisi pengrawit gamelan semakin terpinggirkan, dengan semakin sedikitnya tawaran pekerjaan akibat menurunnya permintaan pasar. Tidak hanya berdampak pada pergeseran nilai-nilai dalam kesenian tradisional, kondisi ini juga menimbulkan tekanan ekonomi bagi para pengrawit yang mulai kehilangan sumber penghidupan. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi pengrawit akan punah,

dan seni gamelan yang menjadi ruh pertunjukan tradisional seperti Bantengan akan benar-benar kehilangan tempatnya di tengah masyarakat.

Lalu apakah musik remix dalam Bantengan merupakan pergeseran nilai atau pembaruan tidak bisa dijawab secara hitam-putih. Dalam praktiknya, fenomena ini menunjukkan adanya dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang kompleks. Jika hanya mengejar popularitas sesaat, kesenian tradisional berisiko kehilangan jiwanya. Namun jika perubahan dilakukan dengan pengetahuan dan penghormatan terhadap tradisi, maka pembaruan bisa menjadi jalan untuk menghidupkan kembali seni yang hampir padam.

Kita tidak perlu menolak musik remix sepenuhnya, tetapi kita perlu bijak dalam menempatkannya. Tradisi bukan berarti membekukan masa lalu, melainkan menjadikannya pondasi untuk melangkah ke masa depan. Kesenian Bantengan pun layak mendapatkan ruang pembaruan yang tetap berpijak pada nilai-nilai luhur yang membesarkannya.

Selain itu, penting juga untuk terus mendorong kolaborasi antara musik remix dan pengrawit gamelan, agar tidak ada pihak yang merasa tersisih dan semua dapat memperoleh kesempatan yang adil dalam berkarya. Kolaborasi ini juga dapat menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi serta memperkuat solidaritas antar pelaku seni. Dengan begitu, pertunjukan bantengan bisa tetap lestari dan relevan di tengah masyarakat modern. Karena pada akhirnya, bentuk pertunjukan bisa menyesuaikan selera jika bersifat formal dan sakral, maka gamelan lebih cocok digunakan, sementara untuk keperluan hiburan dan menarik perhatian generasi muda, musik remix atau “mberot” lebih diminati.

Jadi kesenian Bantengan memang tidak akan pernah luput dari perubahan, kita sebagai generasi muda tentunya berkewajiban untuk melestarikan dan memberikan ruang kepada masing-masing versi bantengan, bantengan tradisional dan “mberot” yang merupakan inovasi perkembangan zaman. Karena keduanya lahir dari kebudayaan lokal masyarakat dan keduanya lahir dari semangat yang sama yakni keinginan untuk mengekspresikan identitas dan melestarikan budaya lokal.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top