Bensin Sawit: Inovasi Energi yang Menguji Komitmen Pancasila
Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, aktivitas industri, transportasi, dan pembangunan ekonomi. Di tengah ketergantungan yang masih besar pada bahan bakar fosil, muncul dorongan untuk mencari sumber energi alternatif yang lebih berkelanjutan, aman, dan mampu memperkuat kemandirian energi nasional. Salah satu opsi yang banyak dibicarakan adalah pengembangan bahan bakar berbasis kelapa sawit, baik dalam bentuk biodiesel maupun inovasi bensin sawit. Indonesia memiliki peluang besar melalui inovasi bensin sawit seperti Benwit yang dikembangkan oleh ITS Surabaya menggunakan metode catalytic cracking dari CPO, dengan rendemen hingga 55% dan angka oktan 115. Menurut Ma’soem University, teknologi ini menjanjikan ketahanan energi nasional dengan memanfaatkan stok sawit melimpah, mengurangi impor BBM fosil, serta menghasilkan emisi lebih rendah dan minim limbah. Namun, dibalik potensinya, ekspansi sawit sering memicu ketimpangan-ketimpangan sosial-ekonomi, yang menguji sila-sila Pancasila yang berkaitan dengan alam dan generasi mendatang. Sebenarnya, apakah bensin sawit ini benar-benar langkah maju menuju kemandirian energi ataukah justru memperburuk krisis lingkungan yang telah lama melekat pada industri sawit di Indonesia?
Jalan Pintas Menuju Kemandirian yang Bijak dan Adil
Maraknya konflik Timur Tengah menyebabkan krisis bahan bakar melonjak. Indonesia tidak boleh lagi terus bergantung pada bahan bakar fosil luar. Harapannya Indonesia dapat membangun jalan alternatif untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Mandiri disini tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan global, tetapi juga berkomitmen terhadap nilai-nilai nasional. Inovasi bahan bakar sawit dapat menjadi wujud nyata dari manifestasi tersebut sekaligus merefleksikan nilai sila ke-3 pancasila. Menurut Rektor ITS, Bambang Pramujati mengatakan bahwa ini dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif dan membantu pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil di tengah krisis Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun, bahan bakar sawit ini harus memperhatikan aspek kebijaksanaan dalam mengelolanya dan keadilan bagi masyarakat, tidak boleh hanya mementingkan keuntungan finansial.
Mendorong kesejahteraan di masa depan, pengelolaan bahan bakar sawit perlu diperhatikan agar tetap berprinsip pada Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini sejalan dengan visi para mahasiswa ITS, dimana mereka mengembangkan bahan bakar sawit dengan mempertimbangkan Life Cycle Assessment (LCA) yang menghasilkan jejak karbon rendah. Residu gas dan limbah cair dari hasil produksinya dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar reaktor dan bahan bakar alternatif lain. Pentingnya inovasi ini juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan sehingga generasi selanjutnya dapat tetap merasakan lingkungan yang bersih dan sehat. Selain lingkungan, manusia juga perlu diperhatikan. Inovasi bahan bakar sawit harus menciptakan keadilan ekonomi bagi para petani agar tidak terus merasakan harga fluktuatif bahan bakar. Dengan itu, inovasi ini juga menjadi manifestasi nyata nilai keadilan sosial.
Dibalik Kesejahteraan Bahan Bakar Sawit
Salah satu persoalan mendasar terletak pada siapa yang benar-benar menikmati nilai tambah dari industri ini. Secara struktural, rantai industri sawit sebenarnya lebih menguntungkan pelaku besar yang memiliki akses terhadap modal, teknologi, dan kebijakan. Sementara itu, petani kecil sering kali hanya menjadi pemasok bahan mentah dengan posisi tawar yang lemah. Mereka tidak memiliki kendali atas harga, tidak terlibat dalam proses hilirisasi, dan rentan terhadap fluktuasi pasar. Dalam kondisi seperti ini, sulit untuk mengatakan bahwa pengembangan bahan bakar sawit benar-benar menciptakan kesejahteraan yang inklusif.
Dari perspektif sosial, perubahan struktur ekonomi desa yang terlalu bertumpu pada satu komoditas menciptakan ketergantungan yang berisiko. Ketika sawit menjadi satu-satunya sumber penghidupan utama, masyarakat kehilangan diversifikasi ekonomi yang justru penting untuk menjaga stabilitas jangka panjang. Dalam situasi tertentu, peningkatan permintaan untuk biofuel bisa mendorong ekspansi lahan yang tidak terkendali, seperti memperbesar potensi konflik agraria yang paling mendominasi di tahun 2024 sebanyak 75 kasus.
Lebih jauh lagi, terdapat dampak lingkungan yang tidak hanya berhenti pada isu ekologis, tetapi langsung berimbas pada kondisi masyarakat. Pencemaran air, penurunan kualitas tanah, dan gangguan kesehatan sebagai akibat dari aktivitas industri menjadi “biaya tak terlihat” yang jarang masuk dalam perhitungan ekonomi. Masyarakat di sekitar perkebunan dan pabrik sering kali harus menanggung konsekuensi ini tanpa kompensasi yang memadai.
Maka dari itu, kita harus melihat pengembangan bahan bakar sawit secara lebih kritis dan tidak semata-mata sebagai simbol keberhasilan pembangunan ekonomi. Kesejahteraan yang dihasilkan tidak boleh diukur hanya dari peningkatan produksi dan nilai ekspor, tetapi juga dari sejauh mana manfaat tersebut dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Tanpa perbaikan tata kelola, transparansi distribusi manfaat, serta perlindungan terhadap kelompok rentan, pengembangan bahan bakar berbasis kelapa sawit justru berisiko memperkuat ketimpangan dan menciptakan beban sosial-ekonomi baru di masa depan.
Menata Ulang Pengembangan Bensin Sawit agar Selaras dengan Pancasila
Penemuan Bensin sawit memang merupakan bentuk majunya IPTEK di Indonesia. Namun apakah penerapannya telah sepenuhnya sesuai dengan Pancasila? Penerapannya masih memerlukan koreksi. Seperti yang disampaikan oleh Meidyana (2026) dalam artikel Metronews, penemuan bensin sawit perlu dikaji lebih lanjut untuk skala penggunaan jangka panjang, terutama kesiapan industrialisasi dan efisiensi biaya agar pembiayaan tetap stabil.
Terlebih lagi hubungan industri dengan petani dan industri dengan lingkungan juga perlu perhatian khusus. Menurut Septiani, R., & Ni’mah, F. (2025) Perusahaan perlu mengadopsi prinsip 3P (People, Planet, Profit). Pendekatan yang mengedepankan keseimbangan aspek sosial, lingkungan dan keadilan adalah kunci untuk meredam konflik yang mungkin muncul. Selain itu optimalisasi limbah sawit dapat menciptakan pemerataan manfaat karena limbah dapat diolah menjadi biofuel, biogas, dan bioplastik. Sehingga tidak hanya industri sawit saja yang mendapat keuntungan tapi industri lainnya juga akan ikut naik produktivitasnya.
Tetapi hal terpentingnya adalah negara juga harus bisa membuat kebijakan sertifikasi seperti RSPO dan ISPO untuk melindungi petani kecil, mengatur tata kelola lahan yang sesuai dengan nilai kebijaksanaan dan mendukung petani kecil untuk bisa menciptakan sistem yang lebih adil. Pada akhirnya pemerintah-lah yang menjadi penentu apakah penemuan ini akan menjadi harapan atau ancaman bagi Indonesia sendiri. Maka, pemerintah diharapkan lebih adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan kedepannya, karena setiap keputusan kecil akan mempengaruhi masa depan Indonesia.
Daftar Pustaka
Bensin Sawit: Energi Terbarukan dari Produk Pertanian. (2026, 04 14). masoemuniversity.ac.id/.https://masoemuniversity.ac.id/artikel/bensin-sawit-energi-terbarukan-dari-produk-pertanian
Dampak Mandatori Biodiesel Sawit Bagi Perekonomian Daerah dan Pendapatan Rumah Tangga. (2023, November 27). PASPI. Retrieved
April 19, 2026, from https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/dampak-biodiesel-sawit/
ITS hasilkan bensin sawit efisien dukung kemandirian energi – ANTARA News Jawa Timur. (2026, April 7). Antara News jatim. Retrieved April 19, 2026, from https://jatim.antaranews.com/berita/1055201/its-hasilkan-bensin-sawit-efisien-d ukung-kemandirian-energi
ITS Kembangkan Metode Produksi Bensin Sawit yang Terukur dan Efisien – ITS News. (2026, April 7). Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Retrieved April 19, 2026, from
https://www.its.ac.id/news/its-kembangkan-metode-produksi-bensin-sawit-yang- terukur-dan-efisien/
Kebun Sawit, Solusi Energi Nabati atau Perusak Lingkungan? (2025, Desember 12). environesia.co.id.
https://environesia.co.id/blog/Kebun-Sawit-Solusi-Energi-Nabati-atau-Perusak- Lingkungan
Meidyana, A. (2026, April 12). Peneliti ITS Kembangkan Bensin Berbahan Sawit, Siap Diuji Nasional. metrotvnews.com. https://www.metrotvnews.com/play/KZmCQJnx-peneliti-its-kembangkan-bensin
-berbahan-sawit-siap-diuji-nasional
Muazam, A. R. (2025, Desember 18). Ekspansi Sawit Berisiko, Kaji Ulang Mandatori B50. mongabay.co.id.
https://mongabay.co.id/2025/12/18/ekspansi-sawit-berisiko-kaji-ulang-mandatori
-b50
Nduru, B. J. (2025). Ketimpangan Penguasaan Lahan dan Jerat Kemiskinan: Dampak Keberadaan Insdutri Ekstraktif (HTI dan Kelapa Sawit) di Provinsi Riau.
Perjalanan Panjang Biodiesel Sawit Indonesia dan Manfaat yang Diberikan. (2025, February 16). BPDP. Retrieved April 19, 2026, from https://www.bpdp.or.id/perjalanan-panjang-biodiesel-sawit-indonesia-dan-manfa at-yang-diberikan
Produksi Perkebunan Besar Bulanan Menurut Jenis Tanaman (Ribu Ton), 2025. (n.d.). bps.go.id.
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NzYxIzI=/produksi-perkebunan-besar
-bulanan-menurut-jenis-tanaman.html
Rendaniati, A. (2025, Desember 6). Konflik Agraria di Sektor Perkebunan Didominasi Kasus Kelapa Sawit pada 2024. data.goodstats.id. https://data.goodstats.id/statistic/konflik-agraria-di-sektor-perkebunan-didomina si-kasus-kelapa-sawit-pada-2024-8VMI
Saputra. (2026, April 7). ITS Dorong Kemandirian Energi Lewat Inovasi Bensin Biogasoline Sawit. memanggil.co. https://memanggil.co/news-31637-its-dorong-kemandirian-energi-lewat-inovasi-bensin-biogasoline-sawit
Sari, D. N., Zahara, D., Khairani, Z. Z., Purnama, I. A., & Manik, R. R. R. (2025). Dampak Ekonomi Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Pendapatan Petani Lokal di Desa Laut Tador. 6(12).
Septiani, R., & Ni’mah, F. (2025). Mewujudkan Keberlanjutan Perusahaan Kelapa Sawit Pendekatan Strategi Integratif dan Solusi Inovatif.
Tantangan Biodiesel Sawit. (2021, Maret 1). aprobi.or.id/. https://www.aprobi.or.id/tantangan-biodiesel-sawit/
Wahyu A., & Yusuf A. (2025). A Systematic Literature Review: Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit Dalam Sistem Biorefinery Sebagai Solusi Keberlanjutan Industri Sawit. Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian, 6(1), 1556–1564. https://doi.org/10.47687/snppvp.v6i1.189
Oleh : Berliana Dewinta Firza, Daniella Tiara Kurniatanti, Humairaa Syaira Zhillyani (Universitas Brawijaya)




