Kue Jadul Gak Pernah Viral, Tapi Selalu Ada Saat Perut Butuh Pelukan

Ditengah hiruk pikuk kampus, tampak sosok Mbah Sri yang duduk bersahaja di pinggir gerbang Veteran Universitas Brawijaya. Tak ada tenda, tak ada meja pajang, hanya sebuah keranjang dagangan dan selembar selemek lusuh yang ia gelar sebagai alas duduk di trotoar.  Setiap sore, Mbah Sri selalu singgah di tempat itu. Di usia senjanya, ia memilih berdagangan demi menyekolahkan anak cucunya.

Mbah Sri adalah contoh nyata bahwa zaman terus berubah, semangat dan keyakinan pada tradisi tak bisa begitu saja dipatahkan oleh modernitas. Di tengah gempuran fast food yang terys merambah disetiap sudut kota, Mbah Sri tetap bertahan dengan menjual klepon, cenil, lupis, jajanan tradisional yang sering dianggap kuno oleh sebagian kalangan.

Pada usia yang tak muda lagi, Mbah Sri tetap percaya diri. Ia tahu bahwa klepon yang ia jual bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal nilai. Setiap bungkus cenil yang ia jual adalah satu langkah untuk memastikan cucunya bisa lulus kuliah dan meraih masa depan yang lebih baik. Beberapa orang mungkin melihat jajanan ini sederhana. Namun bagi pelanggan Mbah Sri yang tak pernah sepi, selalu bisa merasakan setiap gigitan klepon yang manis dengan gula merah cair di dalamnya mengingatkan seolah membawa kembali kenangan akan rumah dan tradisi lama.

Berkat kegigihan Mbah Sri, ia bisa menyekolahkan cucunya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Meski usianya tak lagi muda, semangatnya tak pernah padam. Tanpa teriakan promosi, dagangannya selalu habis diserbu pelanggannya. Mahasiswa, dosen, hingga tukang ojek adalah pelangggannya. Setiap hari, dagangannya hapir tak pernah tersisa.

Meskipun terlihat sederhana, membuat klepon bukanlah proses instan. Dibutuhkan keterampilan dan ketelatenan dalam membuatnya. Seperti mempersiapkan gula, memilih ketan yang tepat, serta membungkusnya dengan daun pisang. Belum lagi pembuatan cenil dan lupis yang tak kalah memerlukan perhatian ekstra. Hal ini berbeda dengan proses pembuatan makanan cepat saji yang dapat disajikan dalam hitungan menit.

Keunggulan jajanan tradisional dibandingkan dengan makanan fast food terletak pada aspek tradisi, bahan alami, dan cita rasa yang otentik. Meski jajanan ini tidak bisa disimpan lama, hal ini justru menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Keterbatasan daya simpan ini menunjukkan bahwa makanan tradisional ini menggunakan bahan alami tanpa pengawet, yang memastikan kesegaran dan cita rasa otentik setiap kali disajikan.

Selain rasanya yang otentik, tekstur yang kenyal juga menjadi keunikan tersendiri pada klepon, cenil, dan lupis. Setiap gigitannya memberikan sensasi lembut namun padat. Keunikan tekstur inilah yang membuat makanan tradisional berbeda dari fast food. Sementara fast food seringkali seragam, cepat hancur, dan tidak memberikan sensasi yang mendalam.

Dan yang tak kalah penting, bahan yang digunakan dalam pembuatan makanan tradisional ini juga sangat sehat. Ketan sebagai bahan utama memiliki khasiat sebagai sumber karbohidrat yang baik, sehingga dapat memberikan energi tubuh tahan lama dan stabil. Hal ini membantu menjaga kadar gula darah agar tetap seimbang. Ketan juga mengandung serat yang dapat membantu melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit. Selain itu, gula merah yang digunakan sebagai isian klepon atau pelapis lupis dan cenil lebih alami dibandingkan dengan gula putih atau pemanis buatan yang sering digunakan dalam fast food. Gula merah juga mengandung zat besi dan mineral lainnya yang bermanfaat bagi tubuh, yang dapat membantu mencegah anemia dan membantu dalam pembentukan sel darah merah. Gula merah juga memiliki indeks glikemik (IG) yang lebih rendah dibandingkan gula putih. Artinya, konsumsi gula merah tidak akan mengakibatkan lonjakan gula darah yang cepat. Dengan segala manfaatnya, makanan tradisional ini bukan hanya lezat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top