Tradisi Jawa Timur yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi
Di tengah derasnya arus modernisasi, tidak banyak tradisi yang mampu bertahan tanpa kehilangan ruhnya. Namun di sejumlah daerah Jawa Timur, khususnya di Pujon dan sekitarnya, sebuah ritual sederhana tetap hidup sampai saat ini yaitu brokohan sapi sebuah tradisi syukuran saat seekor sapi melahirkan. Meski terdengar sederhana, brokohan menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat Jawa yang tidak lekang oleh waktu.
Nilai Gotong Royong yang Terkandung dalam Tradisi Brokohan Sapi
Gotong royong antar tetangga khususnya ibu-ibu selalu terbentuk ketika brokohan sedang berlangsung. Mereka bekerja sama membantu shohibul hajat menyiapkan segala macam keperluan. Mulai dari berbelanja ke pasar, memasak, hingga pembuatan tumpeng yang digunakan untuk kenduren. Ketika memasak sangatlah harmonis sohibul hajat dibantu tetangga membuat menu yang beragam yang disajikan di tumpeng mulai dari ayam goreng, mie goreng, sambal goreng tempe kentang, sambal goreng kecambah tahu, tempe goreng, tahu goreng, sayur urap dan sebagainya. Hal ini membuat suasana semakin harmonis karena para tetangga berkumpul saling bercengkerama. Biasanya sesudah masakan matang ibu-ibu langsung menata nasi dan berbagai macam lauk tersebut di dalam tampah untuk dijadikan tumpeng. Selain di dalam tampah ada pula yang ditaruh dalam wadah rege (besek plastik) atau besek anyaman bambu dibagikan ke tetangga sekitar dan saudara dekat.
Makna Filosofis dan Simbol Syukur dari Tradisi Brokohan Sapi
Dalam masyarakat Jawa, hubungan antara manusia dan hewan ternak bukan hanya bersifat ekonomi, tetapi juga spiritual. Kelahiran seekor sapi dianggap sebagai anugerah yang patut disyukuri sehingga di beberapa daerah masih dilaksanakan tradisi brokohan sapi, yaitu ritual kecil berisi doa, makanan simbolis, dan perlengkapan adat. Tradisi ini menjadi bentuk syukur, permohonan keselamatan bagi induk dan anak sapi, serta harapan akan rezeki yang melimpah.
Salah satu unsur penting dalam brokohan adalah sajian makanan, seperti nasi putih, nasi gurih, telur, urap atau sayur kluwih, bubur merah putih, dan minuman manis. Setiap makanan memiliki filosofi: kesucian, kemakmuran, kesuburan, keseimbangan, hingga harapan hidup yang “manis”. Selain itu, Pembagian makanan kepada tetangga menjadi simbol kebersamaan, memperkuat ikatan sosial, serta menumbuhkan semangat gotong royong.
Ritual brokohan juga diawali dengan kenduren atau doa bersama. Doa ini mencerminkan keyakinan masyarakat bahwa semua bentuk kehidupan adalah titipan Tuhan yang harus dijaga. Selain makanan dan doa, terdapat perlengkapan ritual seperti kendil, kembang setaman, janur kuning, uang logam, hingga asap kemenyan yang masing-masing melambangkan perlindungan, kesucian, harapan rezeki, serta penghormatan pada unsur alam. Jumlah perlengkapan biasanya ganjil karena dianggap membawa keberkahan. Ritual ini umumnya dilakukan langsung di kandang sebagai bentuk penghormatan kepada hewan.
Keseluruhan tradisi brokohan menegaskan nilai utama masyarakat Jawa: kebersamaan, syukur, keharmonisan dengan alam, serta penghormatan terhadap kehidupan. Tradisi ini tidak sekadar ritual budaya, tetapi wujud kearifan lokal yang mengajarkan kesadaran spiritual dan sosial. Di tengah modernisasi, brokohan tetap relevan karena mencerminkan cara masyarakat Jawa memahami dunia dengan hati yang tulus, penuh syukur, dan dekat dengan Sang Pencipta.
Tentang Harapan dan Masa Depan Tradisi Brokohan
Dalam tradisi brokohan ini, kita belajar hal penting yaitu rasa syukur tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita. Ketika “pedhet” lahir, masyarakat Jawa terkhususnya Jawa Timur akan melakukan brokohan sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan mereka terhadap setiap kehidupan, sekecil apa pun itu pasti akan memberikan makna kepada mereka. Tradisi brokohan sebenarnya sederhana tapi memiliki pesan moral yang sangat mendalam di mana manusia diajarkan untuk tidak lupa berterima kasih, bukan hanya saat mendapatkan hal yang besar, tapi juga dalam mendapatkan hal yang kecil. Tradisi brokohan juga menumbuhkan kesadaran bahwa hidup yang berharga bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang seberapa besar kita bersyukur atas setiap anugerah yang dititipkan kepada kita.
Harapan besar bagi tradisi brokohan sapi ini adalah agar tradisi ini tidak hanya sekadar menjadi kenangan dalam lembaran sejarah di tanah Jawa Timur ini, tetapi agar tradisi ini dapat tetap hidup dan bernapas di tengah kehidupan bermasyarakat. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi ini sangat perlu dijaga untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang dikandungnya tidak hilang begitu saja. Brokohan sapi mengajarkan kita tentang rasa syukur, kebersamaan dalam bermasyarakat, dan penghormatan terhadap kehidupan dan nilai-nilai yang sesungguhnya akan selalu relevan di setiap zaman. Tradisi ini bukan hanya tentang kelahiran seekor anak sapi, tetapi tentang lahirnya rasa syukur, kasih, dan kebersamaan manusia dengan alamnya. Diharapkan para generasi muda dapat mengenal dan mencintai tradisi ini bukan hanya sebagai ritual turun-temurun yang wajib dilaksanakan, tetapi sebagai bagian dari jati diri dan warisan budaya Indonesia yang patut dibanggakan.
Melalui pendidikan tentang kebudayaan, kegiatan masyarakat, dan dukungan dari pemerintah daerah, harapannya tradisi brokohan sapi ini dapat terus dilestarikan dan dikembangkan dengan cara yang kreatif tanpa harus menghilangkan makna aslinya. Misalnya, dengan menjadikannya agenda dari budaya tahunan, dokumentasi visual tentang tradisi tersebut, atau festival-festival yang ada di desa yang bisa mengangkat nilai-nilai lokal. Dengan begitu, tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat tumbuh menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bersama. Semoga tradisi brokohan Sapi tetap menjadi simbol kehangatan, keharmonisan antara manusia, hewan, serta alam semesta, tradisi ini adalah warisan berharga yang harus terus hidup dalam setiap generasi. Sebab selama manusia masih tahu berterima kasih atas kehidupan, selama itu pula tradisi brokohan sapi akan tetap hidup, berdenyut lembut di antara kearifan dan kehangatan budaya yang ada di Jawa Timur.
Ayudia Putri Hadianto, Cloriendza Earliene, Dava Aditiya Pratama, Daud Pandapotan Samosir, Ayudea Kasih Gracia Pramudhito
Universitas Brawijaya




