“Tangki Kosong, Gelas Full”

Komik strip ini memberikan kritik sosial yang tajam terhadap dampak kebijakan energi terhadap bisnis swasta dan masyarakat luas. Penulis menggunakan kasus kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell sebagai contoh yang menggambarkan masalah tersebut. Panel pertama langsung membahas dampak manusiawi dari keputusan dalam bidang ekonomi makro. Ada seorang karyawan SPBU Shell yang terlihat murung karena pengumuman “STOK BBM KOSONG HABISTERJUAL,” lalu mengeluh, “Yah… PHK lagi…” Ini menunjukkan ironi yang menyakitkan, di mana kebijakan dari pihak berwenang—yang biasanya disampaikan dalam narasi tentang “stabilitas” atau “pengaturan kuota”—langsung memberi dampak negatif pada pekerja di tingkat operasional.

Saat para pemimpin sedang membahas isu impor dan aturan energi, di lapangan, para pekerja kecil justru menghadapi risiko kehilangan pekerjaan. Pesan utamanya adalah: ketidakpastian dalam kebijakan energi berarti ketidakpastian dalam penghasilan bagi masyarakat umum. Panel kedua terdapat Seorang pegawai berpakaian rapi menggenggam papan bertuliskan “Impor lewat Pertamina atau…” sementara di sampingnya, seorang mantan pegawai kini berjualan “Es Kopi” sambil berkata, “Kemarin isi tangki bensin, sekarang gelas kopi.” Hal ini menunjukkan perbedaan antara fokus pemerintah dan kebutuhan rakyat. Saat pihak berwenang terus berusaha mempertahankan kekuasaan dan membatasi pasar, para pekerja sudah terlebih dahulu terkena dampaknya danterpaksa beralih ke usaha lain, seperti menjual kopi. Narasi pemerintah tentang menjaga stabilitas justru membuat persaingan semakin buruk dan menghilangkan pilihan bagi pembeli. Kehilangan BBM Shell bukan hanya karena stok yang habis, tetapi juga menjadi tanda bahwa masyarakat mulai kehilangan kepercayaannya terhadap sistem yang lebih mementingkan dominasi daripada menyelesaikan masalah internal. Panel ketiga dan keempat menampilkan pemandangan SPBU yang ramai, namun bukan karena antrean bahan bakar, melainkan karena komunitas pemilik mobil mewah yang berkerumun membeli es kopi. Salah satu pengunjung mengatakan, “Lebih baik minum kopi dulu daripada mogok karena antre isi bahan bakar di sampingnya.” Panel keempat mendukung sindiran ini dengan salah satu pengunjung yang berkata, “Bahan bakar kosong? Minum kopi dulu saja.” Mobil mewah yang hadir dan ucapan pengunjung menunjukkan bahwa kalangan atas setia dan lebih suka Shell karena kualitasnya, baik dalam performa maupun efisiensinya, dibandingkan dengan merek lain. Mereka membeli kopi sebagai bentuk dukungan moral dan juga sebagai cara menunjukkan bahwa mereka masih akan memilih “pengalaman” Shell, meskipun dalam bentuk yang sederhana seperti kopi. Kalimat “Ngopi aja dulu” sebenarnya adalah sindiran ringan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai menghambat operasional SPBU swasta. Meski ada pembatasan, komunitas pengguna mobil mewah masih bisa menikmati merek Shell melalui kopi dan suasana nongkrong, menunjukkan bahwa pembatasan tidak berhasil menghilangkan loyalitas merek dan hak konsumen, terutama di kalangan kalang atas.

Reggynea Sura Febe Siregar, Tassya Khairani Erone, Norinda Marcela, Irma Wanina Hapsari, dan Ayuni Pragosa

Universitas Brawijaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top