Bahasa adalah bagian penting dalam identitas suatu bangsa. Kalimat ini sering terdengar, namun tidak semua orang memahami maknanya. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan nilai, cara berpikir, serta budaya suatu masyarakat. Indonesia memiliki beragam bahasa daerah, dan salah satu yang terbesar serta paling kaya adalah bahasa Jawa. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, bahasa Jawa menjadi sarana untuk berinteraksi sekaligus menunjukkan tata krama, etika, serta penghormatan. Hal ini terlihat dari adanya tingkatan bahasa seperti ngoko, madya, dan krama yang digunakan sesuai dengan situasi dan hubungan sosial.
Namun, perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi membuat posisi bahasa Jawa mulai terpinggirkan. Generasi muda di banyak daerah lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, media sosial, maupun lingkungan pergaulan (Andriyanti, 2020). Bahasa Jawa, terutama ragam krama, mulai dianggap sulit, tidak praktis, dan kurang relevan dengan kebutuhan modern. Padahal, bahasa Jawa krama mengandung nilai-nilai luhur mengenai kesopanan, penghormatan, dan tatanan sosial yang dulu sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa (Azizah et al., 2022).
Pergeseran penggunaan bahasa ini menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada kebiasaan berbicara, tetapi juga pada nilai budaya. Bahasa yang seharusnya menjadi simbol identitas kini mulai mengalami krisis. Fenomena ini terlihat jelas di Dusun Siroto, Kelurahan Susukan, Kecamatan Unggaran Timur, Kabupaten Semarang. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayah (2013) menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Jawa dalam keluarga, khususnya bahasa krama, semakin berkurang. Anak-anak dan remaja lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa ngoko, meskipun berbicara kepada orang tua.
Artikel ini bertujuan menganalisis dampak berkurangnya penggunaan bahasa Jawa dalam keluarga terhadap krisis identitas budaya generasi muda. Penurunan ini berpotensi melemahkan rasa bangga dan keterikatan generasi muda terhadap budaya Jawa. Melalui tulisan ini diharapkan muncul kesadaran tentang pentingnya peran keluarga dalam melestarikan nilai kesopanan dan identitas budaya Jawa agar tidak semakin tersisih oleh perkembangan modern.
Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Dalam masyarakat Jawa, bahasa menjadi cermin tata krama dan etika. Tingkatan dalam bahasa Jawa berfungsi menunjukkan hubungan sosial penutur dengan lawan bicara. Ketika seseorang berbicara dengan orang yang lebih tua, ia seharusnya menggunakan bahasa krama sebagai tanda hormat. Jika penggunaan krama hilang, maka sebagian nilai moral juga ikut menghilang. Di sinilah pentingnya mempertahankan bahasa Jawa dalam kehidupan keluarga.
Penelitian Hidayah (2013) di Dusun Siroto menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Jawa dalam keluarga mengalami penurunan cukup signifikan. Banyak anak dan remaja lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Ketika menggunakan bahasa Jawa, mereka lebih memilih bahasa ngoko yang sebenarnya kurang tepat untuk berbicara dengan orang tua. Hal ini mencerminkan perubahan pola komunikasi keluarga Jawa dan menurunnya penerapan nilai unggah-ungguh yang dulu sangat dijunjung tinggi.
Penyebab penurunan penggunaan bahasa Jawa dapat dilihat dari faktor internal dan eksternal. Dari sisi internal, minimnya upaya orang tua dalam mengenalkan bahasa Jawa kepada anak menjadi faktor utama. Banyak orang tua merasa bahwa bahasa Jawa krama terlalu rumit, sehingga tidak membiasakan anak menggunakan bahasa tersebut sejak kecil. Kesibukan orang tua juga membuat interaksi dalam keluarga berkurang sehingga pewarisan bahasa tidak berlangsung dengan baik. Anak yang tidak terbiasa mendengar bahasa Jawa krama sejak kecil akan menganggap bahasa tersebut asing dan sulit.
Dari sisi eksternal, lingkungan sosial dan media memiliki pengaruh besar. Bahasa Indonesia lebih dominan digunakan di sekolah dan tempat pergaulan. Media sosial, televisi, dan internet juga jarang menggunakan bahasa Jawa, sehingga anak-anak lebih familiar dengan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Akibatnya, bahasa Jawa dianggap tidak modern atau kurang menarik. Selain itu, pembelajaran bahasa Jawa di sekolah hanya berupa muatan lokal dengan waktu yang terbatas sehingga tidak cukup untuk membangun keterampilan berbahasa Jawa.
Data Kemendikbudristek menunjukkan bahwa bahasa daerah di Indonesia berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Sebanyak 11 bahasa daerah telah punah pada 2018–2021, 139 bahasa daerah terancam punah pada 2019, dan 24 bahasa lainnya mengalami penurunan jumlah penutur pada 2021. Menurut Baru et al. (2024), penutur aktif bahasa Jawa krama menurun sekitar 40% dalam dua dekade terakhir. Penurunan ini bukan hanya masalah bahasa, tetapi juga masalah identitas budaya.
Jika bahasa Jawa krama tidak lagi digunakan, nilai-nilai seperti andhap asor, tepo seliro, serta rasa hormat terhadap orang tua akan ikut terkikis. Anak-anak akan kehilangan simbol penghormatan yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Menurut saya, penurunan penggunaan bahasa krama bukanlah sekadar dampak modernisasi, tetapi tanda menurunnya kesadaran masyarakat terhadap identitas budayanya. Menjadi modern bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi mampu menyeimbangkan perkembangan zaman dengan pelestarian budaya lokal.
Keluarga seharusnya menjadi pihak yang paling berperan dalam mempertahankan bahasa Jawa. Orang tua dapat memulai dari kebiasaan kecil, seperti menggunakan bahasa krama ketika berbicara kepada anak untuk memberi contoh, atau membiasakan penggunaan bahasa krama dalam situasi tertentu di rumah. Dengan begitu, anak akan terbiasa mendengar dan memahami konteks penggunaannya.
Bahasa Jawa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan nilai sopan santun dan tatanan sosial masyarakat Jawa. Namun, keberadaannya semakin tergeser oleh penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama dalam keluarga. Penelitian di Dusun Siroto menunjukkan penurunan penggunaan bahasa Jawa krama yang merupakan simbol penghormatan kepada orang tua. Penyebab penurunan ini adalah kurangnya peran orang tua serta pengaruh lingkungan sosial dan media.
Penurunan penggunaan bahasa Jawa tidak hanya berdampak pada aspek kebahasaan, tetapi juga mengakibatkan melemahnya nilai moral dan budaya seperti rasa hormat dan unggah-ungguh. Oleh karena itu, keluarga perlu berperan aktif menjaga bahasa Jawa agar tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Melestarikan bahasa Jawa berarti melestarikan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas budaya masyarakat Jawa. Dengan membiasakan penggunaan bahasa krama dalam keluarga, generasi muda dapat tetap menghargai warisan budaya di tengah arus globalisasi.




