Dalam hubungan internasional di zaman modern ini, geopolitik merupakan cara untuk dapat memahami bagaimana negara-negara berinteraksi, dan bekerja sama di tengah permasalahan-permasalahan global yang semakin memanas. Geopolitik, awalnya berfokus pada penguasaan wilayah dan sumber daya alam, kemudian semakin berkembang menjadi konsep yang mencakup aspek ekonomi, teknologi, keamanan, dan bahkan budaya. Song et al. (2016), studi geopolitik modern menekankan pentingnya pendekatan lintas disiplin untuk membaca pola-pola baru kekuasaan global yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga berwujud dalam bentuk penguasaan ekonomi, jaringan teknologi informasi, dan kendali atas narasi global. Di benua Asia sendiri, munculnya konsep Indo-Pasifik menjadi tonggak penting dalam perubahan orientasi geopolitik dunia. Konsep dari geopolitik ini menandai integrasi strategis antara Samudra Hindia dan Pasifik yang sebelumnya dianggap terpisah dalam tatanan geopolitik tradisional.
Indonesia merupakan negara yang berada di posisi strategis, karena berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, serta dua Samudra, yaitu Pasifik dan Hindia. Menurut Saputra dan Sudirman (2020), posisi Indonesia sebagai “titik tumpu geopolitik” menjadikannya sebagai pemeran utama dalam arsitektur Indo-Pasifik. Melalui kebijakan luar negeri bebas aktif, Indonesia berusaha
menjaga keseimbangan antara kekuatan besar dengan menolak terjebak dalam politik blok manapun dan memperkuat kerja sama regional di ASEAN. Akan tetapi, melakukan kebijakan tersebut tidak selalu mudah untuk diwujudkan. Hal ini dikarenakan meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, yang membuat Indonesia sering kali dihadapkan pada konflik kebijakan luar negeri, seperti menjaga netralitas atau memihak kepentingan ekonomi tertentu. (Zhang et al., 2024). mempertegas bahwa ketegangan geopolitik global, seperti perang Rusia-Ukraina, telah mengalihkan pola kerja sama internasional, termasuk dalam bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, pembahasan mengenai geopolitik Indo-Pasifik tidak hanya penting dalam kerangka akademik, tetapi juga memiliki relevansi sosial dan kultural. Karikatur ini dibuat sebagai media edukatif dan reflektif yang menjembatani pemahaman masyarakat terhadap isu-isu global. Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah strategis, baik secara geopolitik maupun geografis, harus bersikap tegas dan konsisten dalam melaksanakan politik luar negerinya.
Kondisi tersebut menjadi hal yang menjadikan kami membuat sebuah karikatur satir berjudul “Warung Geopolitik”. Karikatur ini menampilkan permasalahan global melalui percakapan sederhana antara dua orang di sebuah warung, kemudian menggambarkan isu-isu besar di dunia dengan logika keseharian yang lucu namun tajam. Kemudian, “Warung” dalam karikatur merupakan simbol ruang publik, tempat dimana orang-orang bisa membincangkan hal hal melalui sudut pandang mereka masing-masing. Melalui rumor dan sindiran, karya ini menampilkan kesetaraan antara kompleksitas diplomasi elit dan kesederhanaan pemikiran rakyat yang justru menjadi lebih jernih. Dalam cara menghibur, “Warung Geopolitik” mengajak pembaca untuk menyadari bahwa persoalan politik global bukan sesuatu yang jauh, tetapi turut mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Juliet Bella Ledy Merkhori, Auressia Putri Dwiningrum, Sarmiatun Alawiyah, Inas Nabilah Zahra Wahyudani, Gratianus Obring Taiwilang
Universitas Brawijaya




