Author name: admin

Artikel/Opini

“Di Balik Kesunyian Bromo, Ada Kekhidmatan Yang Menyatu Dengan Lantunan Doa Para Leluhur”

Di balik hamparan lautan pasir yang membentang luas dan megahnya Gunung Bromo yang selama ini menjadi ikon pariwisata Jawa Timur, tersimpan sebuah ritual sakral yang telah diwariskan lintas generasi. Ritual tersebut adalah Yadnya Kasada, tradisi tahunan masyarakat Suku Tengger yang menjadi wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi sekaligus penghormatan kepada leluhur atas kehidupan dan hasil bumi yang mereka peroleh. Demi menjaga kekhidmatan prosesi ini, kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara mulai 30 Mei pukul 09.00 WIB hingga 2 Juni 2026 pukul 10.00 WIB, sehingga masyarakat adat dapat menjalankan seluruh rangkaian upacara tanpa gangguan aktivitas wisata. Penutupan ini menjadi bukti bahwa di balik keindahan alam Bromo yang memikat jutaan wisatawan, terdapat nilai-nilai budaya dan spiritual yang masih dijaga dengan penuh penghormatan oleh masyarakat Tengger.

Artikel/Opini

“Pancasila Dan Pertanian Ramah Lingkungan: Bukan Sekadar Teori Di Ruang Kelas”

Pertanian dan Tantangan Lingkungan

Kerusakan lingkungan akibat praktik pertanian konvensional semakin menjadi perhatian. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan dapat menurunkan kualitas tanah, mencemari air, serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak hanya dituntut menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Artikel/Opini

“Batik Topeng Malangan: Menjadi Barang Fashion Di Industri Kain”

Pemilihan motif batik topeng:wajah asli Kota Malang

Kota Malang merupakan kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Malang, dengan destinasi yang sering dipilih oleh masyarakat Indonesia. Menurut wijaya et al. 2023, Pada tahun 2016, ada sekitar 9.535 Wisatawan mancanegara serta 3,9 juta wisatawan nasional yang mengunjungi kota Malang. Selain itu, kota Malang merupakan salah-satu Kota yang menyimpan kekayaan sejarah dan warisan budaya. Salah satu wujud warisan dari budaya Malang yaitu batik tulis Malangan, dengan representasi media seni yang menunjukan visual dari corak dan motif pada kain. Batik tulis Malangan memiliki motif dan pewarnaan yang memiliki makna di dalamnya, dengan diantaranya ada Tugu Malang, singa, bunga teratai, dan yang paling umum topeng Malang (Fillahnda, 2022).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bu Aulya, pemilik toko batik, motif batik Malangan sudah menjadi ikon batik dengan batuan peran pemerintah kota Malang pada tahun 2016. Hal ini berkaitan dengan tradisi di Kota Malang yang masih erat dengan tari Topeng Malangan. Dikenal sebagai item budaya yang hadir setiap acara formal, tarian, dan souvenir khas daerah, Itu salah satu sebab mengapa batik di Malang menghilight motif topeng sebagai wajah ikonik di Kota Malang. Hal tersebut tidak lewat dari kontribusi pengrajin batik yang bekerja sama dalam mengembangkan ide motif topeng Malang.

Artikel/Opini

“Makna Lompat Batu Di Pulau Nias Dalam Era Modern Antara Simbol Kejantanan Dan Atraksi Wisata”

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Budaya menjadi identitas suatu daerah sekaligus mencerminkan nilai sosial masyarakatnya. Salah satu budaya yang masih dikenal hingga saat ini adalah Fahombo Batu atau lompat batu dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Tradisi ini menampilkan aksi melompati susunan batu setinggi kurang lebih dua meter oleh para pemuda Nias. Pada masa lalu, Fahombo Batu memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat Nias. Tradisi ini digunakan sebagai simbol keberanian, kedewasaan, dan kesiapan seorang laki-laki dalam menghadapi peperangan. Selain itu, kemampuan melompati batu juga menjadi bentuk penghormatan sosial bagi pemuda yang berhasil melakukannya. Tradisi ini lahir dari kondisi kehidupan masyarakat Nias yang dahulu sering menghadapi

konflik antarkampung sehingga diperlukan latihan fisik dan mental bagi para pemuda. Namun, perkembangan zaman membawa perubahan terhadap keberadaan Fahombo Batu. Saat ini, tradisi tersebut lebih sering ditampilkan sebagai atraksi wisata budaya untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pergeseran fungsi ini menunjukkan adanya perubahan makna dari simbol budaya menjadi hiburan wisata dan komoditas ekonomi. Menurut Lase et al. (2021), tradisi Hombo Batu telah mengalami perubahan fungsi akibat pengaruh modernisasi dan pariwisata. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, tradisi termasuk dalam objek pemajuan kebudayaan yang perlu dilindungi dan diwariskan. Akan tetapi, di era media sosial saat ini, Fahombo Batu lebih sering dikenal melalui konten wisata dibandingkan nilai filosofisnya. Banyak generasi muda hanya memahami tradisi ini sebagai pertunjukan budaya tanpa mengetahui sejarah dan makna aslinya.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ishak Putra Telaumbanua, David Charles Telaumbanua, Anelius Hulu, Gatilina Tafonao, Primus Ndruru, dan Peres Laoli, sebagian besar responden menyatakan bahwa Fahombo Batu sekarang lebih dikenal sebagai atraksi wisata dibandingkan simbol kejantanan atau tradisi pendewasaan laki-laki. Bahkan, beberapa responden mengaku belum pernah mendengar secara langsung penjelasan mengenai Fahombo Batu sebagai simbol kesiapan perang pada masa lalu. Oleh karena itu, artikel ini membahas makna asli Fahombo Batu, perubahan fungsi tradisi tersebut di era modern, pandangan generasi muda terhadap keberadaannya, serta relevansinya sebagai identitas budaya masyarakat Nias saat ini.

Artikel/Opini

“Grebeg Pancasila: Tradisi yang Menghidupkan Pancasila atau Sekadar Seremonial?”

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan budaya populer, berbagai tradisi lokal di Indonesia menghadapi tantangan dalam mempertahankan makna dan eksistensinya. Tidak sedikit tradisi budaya yang pada akhirnya hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial tahunan tanpa pemahaman mendalam terhadap nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Padahal, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sarana pembentukan identitas, karakter, dan nilai kehidupan masyarakat.
Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga saat ini adalah Grebeg Pancasila yang diselenggarakan setiap tahun di Kota Blitar untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebagai kota yang memiliki keterkaitan erat dengan Bung Karno, pelaksanaan Grebeg Pancasila tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah lahirnya dasar negara Indonesia.

Artikel/Opini

“Pandangan Generasi Muda Terhadap Tradisi Selametan Sebagai Warisan Budaya Lokal”

Makna Selamtean Bagi Generasi Muda

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Masuknya budaya luar melalui media sosial, perubahan gaya hidup, hingga meningkatnya kesibukan generasi muda membuat sebagian tradisi mulai jarang dilakukan. Salah satu tradisi yang masih bertahan di beberapa daerah adalah tradisi selametan. Tradisi ini dikenal sebagai kegiatan berkumpul masyarakat untuk berdoa bersama, mengungkapkan rasa syukur, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Selametan biasanya dilakukan dalam berbagai momen seperti syukuran rumah, kelahiran, tahlilan, hingga acara adat tertentu.
Bagi sebagian orang, tradisi selametan mungkin terlihat sebagai budaya lama yang mulai tertinggal oleh zaman. Namun, di balik kesederhanaannya, selametan memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan masyarakat di tengah kehidupan modern yang semakin individualis. Kehadiran selametan mampu menciptakan suasana kebersamaan, mempererat hubungan antar tetangga, serta menjadi sarana untuk menjaga rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Tidak heran jika sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi tersebut hingga sekarang.

Artikel/Opini

“Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional Khas Malang di Tengah Gempuran Makanan Modern Pada Mahasiswa di Lingkungan Universitas Brawijaya”

Eksistensi Jajanan Pasar Tradisional Khas Malang di Lingkungan Kampus

Observasi dilakukan di kawasan Jalan Veteran, tepatnya di sekitar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Pada lokasi tersebut terdapat seorang pedagang jajanan pasar tradisional yang berjualan secara berkeliling di area kampus pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 16.00–17.00 WIB, dan terkadang berpindah lokasi ke area perpustakaan Universitas Brawijaya.
Pedagang tersebut menjual berbagai jajanan pasar tradisional seperti cenil, klepon, lupis, donat, serta sate-satean. Berdasarkan hasil wawancara singkat, pedagang mulai berjualan di lingkungan Universitas Brawijaya sejak 23 Desember 2023 setelah masa pandemi COVID-19. Sebelumnya, beliau telah berjualan jajanan tradisional di Pasar Kota Malang selama kurang lebih 60 tahun. Enam puluh tahun berjualan bukan hal yang mudah, apalagi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Sebagian besar pembeli merupakan mahasiswa karena lokasi penjualan berada di dalam lingkungan kampus. Saat observasi berlangsung, terlihat beberapa mahasiswa berhenti untuk membeli jajanan sambil berbincang dengan pedagang. Meskipun jumlah pembeli belum seramai café atau tempat makan modern di sekitar kampus, keberadaan jajanan pasar tradisional masih cukup menarik perhatian mahasiswa.

Artikel/Opini

“Pelestarian Permainan Rakyat Sebagai Upaya Memperkuat Nilai Persatuan dan Kepedulian Sosial”

I. Pendahuluan
Sore hari di lingkungan perumahan atau desa sekarang rasanya jauh lebih sunyi dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Dulu, suara anak-anak bermain di lapangan kecil depan rumah terdengar hampir setiap sore. Ada yang berlari sambil memainkan gobak sodor, ada yang tertawa saat kalah main congklak, atau duduk serius di depan congklak. Tidak ada ponsel, tidak ada headset, yang ada cuma suara tawa dan sesekali tangis karena jatuh. Sayangnya, suasana seperti itu sekarang mulai jarang ditemukan. Sekarang, halaman-halaman itu sepi, anak-anaknya ada di dalam, masing-masing menatap layar, duduk berdampingan tapi pikiran mereka melanglang buana ke Land of Dawn atau medan perang Battle Royale. Bukan salah siapa-siapa memang, zaman berubah dan mereka wajar mengikuti. Dunia digital memang membawa banyak kemudahan, tetapi di sisi lain perlahan menggeser budaya bermain tradisional yang dulu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Esai ini mencoba menelusuri kenapa permainan rakyat itu penting, apa hubungannya dengan nilai-nilai Pancasila dan kepedulian sosial, dan apa yang seharusnya dilakukan agar warisan budaya ini tidak benar-benar punah ditelan zaman.

Artikel/Opini

“Seberapa Sering Kita Tertawa Di Dalam Grup Chat Tanpa Sadar Sedang Melukai Seseorang?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan, sampai kita membayangkan apa yang bisa terjadi di balik layar sebuah grup WhatsApp mahasiswa yang tampak biasa. Sebuah grup percakapan yang awalnya dibuat untuk koordinasi akademik, perlahan berubah menjadi ruang yang memuat komentar vulgar, mengobjektifikasi, dan merendahkan martabat sesama mahasiswa maupun dosen perempuan. Skenario seperti ini bukan fiksi ia terjadi di berbagai kampus, dalam berbagai bentuk, dan lebih sering dari yang kita bayangkan. Yang membuat publik tertegun setiap kali kasus semacam ini mencuat bukan sekadar isi chatnya, melainkan kenyataan bahwa pelakunya adalah mahasiswa generasi yang justru sedang belajar tentang keadilan dan hak asasi manusia.
Namun sebelum kita menunjuk jauh ke sana, ada baiknya kita bertanya: apakah fenomena seperti ini benar-benar asing bagi kita?

Artikel/Opini

“Perkembangan Kerajinan Topeng Malangan sebagai Identitas Budaya Lokal”

Sejarah dan Latar Belakang Topeng Malangan

Topeng Malangan merupakan salah satu bentuk seni tradisional yang berkembang di wilayah Malang Raya, khususnya di Kabupaten Malang. Seni topeng ini erat kaitannya dengan pertunjukan Wayang Topeng Malangan yang mengangkat cerita Panji, yaitu kisah klasik Jawa yang populer sejak masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Dalam sejarahnya, Topeng Malangan berkembang sebagai media pertunjukan rakyat yang digunakan untuk menyampaikan pesan moral, pendidikan, dan nilai kehidupan kepada masyarakat. Tokoh-tokoh dalam cerita Panji diwujudkan dalam bentuk topeng dengan karakteristik tertentu. Setiap tokoh memiliki ciri khas yang dapat dikenali dari bentuk mata, hidung, warna, hingga ukiran wajahnya.
Kerajinan Topeng Malangan umumnya dibuat dari kayu sengon atau kayu pule karena mudah dibentuk dan memiliki tekstur yang ringan. Proses pembuatannya dilakukan secara manual mulai dari pemahatan, penghalusan, pewarnaan, hingga tahap finishing. Keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun oleh para pengrajin di desa-desa sentra budaya seperti Desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Topeng Malangan tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Malang. Keberadaan topeng ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Timur memiliki tradisi seni yang kaya serta mampu mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah perubahan zaman.

Scroll to Top