Sumber gambar: https://share.google/9XY3CdkjBzaAvyHil
LAMONGAN – Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi yang mengikis sekat-sekat sosial, masyarakat Kabupaten Lamongan, khususnya di wilayah Kecamatan Sugio, masih memegang teguh warisan leluhur yang sarat akan makna. Salah satu manifestasi budaya yang tetap eksis dan hidup di tengah masyarakat adalah Tradisi Kupatan (Lebaran Ketupat). Lebih dari sekadar ritual tahunan pasca-Hari Raya Idulfitri, Kupatan merupakan sebuah medium kultural yang efektif dalam merajut kembali tali silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus meneguhkan identitas lokal masyarakat Sugio di era kontemporer.
Eksistensi kupatan sebagai cara merawat Silahturahmi dikecamatan Sugio, Lamongan
Eksistensi tradisi Kupatan yang terus terjaga hingga saat ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Lamongan menolak larut dalam arus individualisme zaman. Di tengah gempuran budaya luar, ritual ini hadir sebagai jangkar sosial yang tidak hanya merawat tali silaturahmi antarwarga, tetapi juga meneguhkan kembali identitas budaya lokal agar tidak asing di tanahnya sendiri. Kesetiaan masyarakat dalam merayakan Kupatan mencerminkan adanya kesadaran kolektif bahwa kemajuan zaman tidak harus dibayar dengan kehilangan jati diri. Melalui ruang kultural inilah, nilai-nilai kebersamaan dirajut kembali, sekaligus menjadi fondasi penting bagi generasi muda Sugio untuk mengenali, mencintai, dan melestarikan warisan leluhur mereka di tengah dunia yang terus berubah. Keberadaan tradisi ini menegaskan bahwa menjadi modern bukan berarti melupakan akar budaya, melainkan bagaimana membawa kearifan lokal tersebut tetap hidup dan relevan sebagai identitas yang membanggakan.
Anatomi Filosofis Ketupat dan Nilai Sosial
Secara historis, tradisi Kupatan tidak dapat dilepaskan dari dakwah kultural Islam di tanah Jawa. Istilah “ketupat” atau “kupat” secara filosofis diidentikkan dengan frasa bahasa Jawa “ngaku lepat” (mengaku salah) dan “laku papat” (empat tindakan: lebaran, luberan, leburan, labisan). Melalui simbolisasi hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur kelapa ini, masyarakat diajak untuk melakukan refleksi spiritual dan sosial. Tradisi ini menjadi momentum transisi setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa dan merayakan kemenangan di Hari Kemenangan.
Kekuatan utama dari Tradisi Kupatan di Sugio terletak pada dimensi sosialnya. Proses pembuatan ketupat dan lepet yang melibatkan interaksi antartetangga menunjukkan adanya asas gotong royong yang masih kental. Puncaknya, masyarakat berkumpul di tempat peribadatan (masjid atau mushala) maupun balai dusun membawa berkat berupa ketupat, lepet, serta aneka lauk-pauk tradisional seperti sayur lodeh, ayam bumbu rujak, dan rempeyek. Acara kenduri atau doa bersama ini menyatukan seluruh strata sosial tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun status fungsional individu di dalam struktur masyarakat.
“Di atas hamparan daun pisang, di hadapan puluhan piring berisi ketupat yang berjejer rapi, perbedaan status sosial melebur. Semua duduk bersila dengan derajat yang sama, melangitkan doa syukur yang serupa kepada Sang Pencipta.”
Kupatan sebagai Penangkal Individualisme Modern
Kondisi sosiologis masyarakat hari ini cenderung mengarah pada pola hidup individualistis akibat penetrasi teknologi informasi. Kehadiran gawai sering kali menjauhkan yang dekat. Dalam konteks ini, Tradisi Kupatan hadir sebagai counter-culture atau penangkal runtuhnya modal sosial (social capital). Saat kenduri Kupatan berlangsung, interaksi tatap muka secara langsung (face-to-face interaction) kembali terjalin dengan hangat. Kelakar ringan, saling mencicipi hidangan, hingga prosesi bersalaman memicu sirkulasi energi positif yang mempererat kohesi sosial antargenerasi.
Gambar pelaksanaan kenduri di salah satu mushala di Sugio mencerminkan realitas sosiologis tersebut secara gamblang. Tampak para tokoh agama, orang tua, remaja, hingga anak-anak membaur di ruang yang sama. Hidangan ketupat yang melimpah bukan sekadar representasi ketahanan pangan lokal, melainkan simbol dari konsep “luberan” yaitu melimpahnya berkah dan sedekah yang harus dibagikan kepada sesama. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kerelaan untuk berbagi dan kemauan untuk saling memaafkan.
Tantangan Regenerasi dan Strategi Pelestarian
Meskipun saat ini Tradisi Kupatan masih rutin digelar, kita tidak boleh menutup mata terhadap ancaman kepunahan secara perlahan di masa depan. Tantangan terbesar kebudayaan lokal adalah alienasi generasi muda terhadap budayanya sendiri. Banyak generasi milenial dan generasi Z yang mahir mengoperasikan teknologi digital, namun kehilangan keterampilan dasar dalam merajut janur ketupat atau bahkan tidak memahami nilai transendental di balik ritual yang mereka ikuti. Oleh karena itu, upaya pelestarian (konservasi budaya) tidak boleh mandek pada level seremonial belaka.
Pendokumentasian melalui AI namun tetap menggambarkan tradisi kupatan didesa Sugio, publikasi media massa, dan pembuatan konten kreatif berbasis budaya lokal menjadi langkah strategis yang harus digalakkan. Kebudayaan harus dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman agar tetap menarik bagi generasi muda. Kupatan di Sugio Lamongan harus dinarasikan bukan sebagai ritual kuno yang kolot, melainkan sebagai sebuah identitas kultural yang membanggakan dan sarat akan nilai-nilai humanisme yang universal.
Daftar Pustaka:
Geertz, Clifford. (1983). Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.
Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Mulder, Niels. (2007). Mistisisme Jawa: Ideologi di Jawa. Yogyakarta: LKIS.
Suharjo, dkk. (2021). “Revitalisasi Kearifan Lokal Tradisi Kupatan di Pantai Utara Jawa Timur”. Jurnal Kebudayaan dan Islam, Vol. 9, No. 2, hal. 145-158.
Suryadi, A. (2019). “Nilai-Nilai Sosial Ekonomi dalam Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Agrareis”. Jurnal Sosiologi Nusantara, Vol. 5, No. 1, hal. 34-47.
Oleh: Gita Mayla Sari (Universitas Brawijaya)




