Author name: admin

Artikel/Opini

“Ketika Layar Menggantikan Lapangan: Pudarnya Gobak Sodor di Era Digital”

Coba ingat kapan terakhir kali kamu melihat anak-anak bermain gobak sodor di lapangan. Kalau susah mengingatnya, mungkin memang sudah sangat lama. Permainan yang dulu selalu ramai dimainkan setiap sore itu kini hampir tidak pernah terlihat lagi. Lapangannya masih ada, anak-anaknya juga masih ada, tapi mereka lebih memilih duduk di dalam rumah sambil memegang gawai. Pemandangan yang dulu terasa biasa itu kini justru menjadi sesuatu yang langka, dan kita hampir tidak menyadarinya.

Artikel/Opini

“Getir Andaliman: Jejak Rasa dan Identitas Batak di Tanah Rantau”

Pendahuluan

Kuliner bukan hanya sekadar pengisi perut, tetapi juga cara sebuah budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman dan sering kali menjadi hal pertama yang dirindukan seseorang ketika jauh dari rumah. Di balik aroma dan rasa sebuah masakan, tersimpan identitas budaya yang sulit tergantikan. Bagi masyarakat Batak, salah satu rasa yang paling lekat dengan identitas tersebut hadir melalui andaliman. Keberadaan andaliman bahkan sering dianggap sebagai penanda utama yang membedakan kuliner Batak dengan kuliner Nusantara lainnya.

Artikel/Opini

“Ngaben: Lebih dari Sekadar Ritual, Sebuah Bakti Tulus untuk Leluhur”

Mengutip dari (Sakka & Reski, 2025) dalam ajaran Agama Hindu terdapat suatu ajaran yang secara umum menjelaskan tentang 5 macam persembahan yang biasa disebut sebagai Panca Yadnya. Panca Yadnya ini terdiri dari Dewa Yadnya (persembahan kepada dewa), Pitra Yadnya (persembahan kepada leluhur), Rsi Yadnya (persembahan kepada orang suci), Manusia Yadnya (persembahan kepada manusia), dan Bhuta Yadnya (persembahan kepada bhuta kala). Upacara Ngaben adalah salah satu bagian dari Panca Yadnya itu yang masuk dalam kategori Pitra Yadnya yaitu bentuk penghormatan bagi para leluhur. Upacara Ngaben sering kali memicu rasa takjub sekaligus heran. Bagaimana mungkin sebuah ritual kematian momen yang biasanya diselimuti oleh isak tangis dan duka mendalam justru dirayakan dengan begitu megah dan meriah. Tidak jarang terlihat arak-arakan wadah yang megah membumbung tinggi, diiringi tabuhan gamelan yang tak kalah meriah, bukannya kesedihan yang tampak di wajah anggota keluarga yang ditinggalkan melainkan raut gembira bahkan seringkali juga tawa bahagia. Fenomena visual ini kerap melahirkan miskonsepsi bahwa Ngaben hanyalah sekadar festival pembakaran jenazah yang mengerikan atau bahkan ajang pamer kekayaan dan strata sosial di masyarakat lokal. Namun, jika kita menyelami lebih dalam makna dari prosesi ini, Ngaben sejatinya adalah sebuah manifestasi bentuk cinta kasih, akulturasi budaya, spiritual, dan wujud bakti paling tulus dari seorang anak kepada leluhurnya.

Artikel/Opini

“Ironi di Jantung Kampus Perjuangan: Ketika Calon Penegak Hukum Justru Menjadi Pelaku”

Ironi terjadi ketika kampus yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran keadilan, hak asasi manusia, dan etika justru menjadi tempat lahirnya praktik yang merendahkan martabat manusia. Kasus grup chat mesum yang melibatkan mahasiswa hukum bukan sekadar pelanggaran norma sosial, melainkan cerminan kegagalan internalisasi nilai kemanusiaan dalam pendidikan tinggi. Padahal, mahasiswa hukum dipersiapkan sebagai calon penegak hukum yang kelak memikul tanggung jawab menjaga keadilan.

Artikel/Opini

“Menjaga Eksistensi Candi Badut Sebagai Warisan Budaya di Tengah Modernisasi”

Candi Tertua di Tengah Kota

Tidak jauh dari pusat Kota Malang, di antara perumahan warga dan hiruk pikuk kendaraan, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang sudah ada jauh sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah negara. Namanya Candi Badut, candi yang telah berdiri sejak tahun 760 Masehi dan menjadi saksi perjalanan sejarah selama lebih dari seribu tahun.
Candi Badut adalah bangunan suci Hindu-Buddha tertua di Jawa Timur, peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang pernah berjaya di wilayah Malang Raya. Berlokasi di Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, bangunan ini tersusun dari batu andesit dengan teknik kuncian yang menunjukkan kemampuan arsitektur maju pada masanya. Keberadaannya di tengah Kota Malang yang terus berkembang menjadi bukti nyata adanya peradaban besar pada masa lampau. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui, apalagi mengunjunginya.

Artikel/Opini

“Digitalisasi Manuskrip Serat Centhini: Menghidupkan Kuliner Kuno Nusantara di Era Media Sosial”

Setiap hari, jutaan aplikasi resep di internet menawarkan resep rendang dalam 30 menit, ayam goreng krispi tujuh langkah mudah, atau sop buntut tanpa ribet. Apa yang kita temui saat ini serba praktis dan instan. Namun, jauh sebelum dunia modern ini lahir, nenek moyang kita sudah mempunyai sistem memasak yang luar biasa. Semua itu tercatat dalam Serat Centhini, karya sastra klasik yang menyimpan bukan sekedar kuliner Jawa, tetapi merupakan ensiklopedia mengenai kehidupan masyarakatnya.

Sumber ilustrasi : Pinterest / https://pin.it/WjRp5IicW
Artikel/Opini

“PertaminaGate 2025: Menggugat Runtuhnya Fondasi Filosofis Bangsa di Tengah Megaskandal Korupsi”

Belakangan ini, publik kembali dikejutkan dengan berbagai laporan mengenai praktik korupsi yang merambah hingga ke sektor-sektor strategis pemerintah. Indeks persepsi korupsi indonesia yang masih stagnan menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan oknum, melainkan telah menjadi masalah struktural yang berakar kuat. Seringkali kita mendengar pembelaan bahwa tindakan tersebut dilakukan demi “kepentingan kelompok” atau “tuntutan politik sebuah narasi yang mencoba menjustifikasi pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.

Scroll to Top