“Kenapa Fujoshi Bersembunyi Saat Membaca?”

Fujoshi dan Dunia yang Mereka Bangun

Fujoshi adalah istilah dari Jepang yang merujuk pada perempuan penggemar karya bertema hubungan romantis antar laki-laki atau Boys’ Love (BL). Istilah ini berasal dari kata fujōshi yang secara harfiah berarti ”perempuan busuk”, sebuah label satir yang awalnya digunakan untuk mengejek perempuan penggemar genre tersebut. Dalam perkembangannya, istilah itu justru direbut kembali menjadi identitas kultural yang dipakai secara terbuka oleh komunitasnya sendiri. Fujoshi bukan sekadar penikmat cerita romantis alternatif, melainkan bagian dari kultur pembaca yang membangun ruang imajinasi, diskusi, hingga komunitas lintas negara (McLelland, 2006). Perkembangan media populer memberi ruang bagi pembaca untuk menikmati cerita di luar pola romansa heteronormatif. Banyak pembaca BL mengaku menemukan kenyamanan emosional karena cerita yang mereka baca terasa lebih bebas dari stereotip gender perempuan yang sering muncul dalam kisah romansa konvensional. Artikel dari Binus University menyebut bahwa fujoshi memandang dunia melalui sudut yang berbeda, terutama dalam cara mereka membaca relasi emosional dan dinamika karakter (Farah, 2020). Komunitas ini juga berkembang pesat di internet karena adanya ruang aman untuk berbagi rekomendasi, karya fanfiction, dan diskusi tanpa takut dihakimi.

Fujoshi sering disalahpahami sebagai bentuk penyimpangan moral atau orientasi seksual tertentu. Padahal, konsumsi media tidak selalu identik dengan identitas pribadi pembacanya. Fanlore menjelaskan bahwa fujoshi lebih tepat dipahami sebagai identitas fandom, bukan identitas seksual. Seseorang dapat menikmati karya BL tanpa mengaitkannya dengan kehidupan nyata ataupun preferensi seksual pribadi. Persepsi publik yang mencampuradukkan dua hal tersebut membuat banyak pembaca BL memilih diam dan menyembunyikan kebiasaan membaca mereka. Fenomena itu memperlihatkan bagaimana masyarakat masih sulit membedakan antara konsumsi budaya dan penghakiman moral. Ketika genre bacaan tertentu langsung diasosiasikan dengan penyimpangan, pembaca kehilangan ruang aman untuk menjadi diri sendiri. Padahal membaca merupakan aktivitas personal yang sejak lama dipahami sebagai hak individu. Buku, komik, dan media digital adalah medium konsumsi publik yang seharusnya dapat diakses tanpa rasa takut selama tidak merugikan orang lain.

Ketika Membaca Menjadi Aktivitas yang Disembunyikan

Realitas paling menarik dari fenomena fujoshi bukan hanya soal apa yang mereka baca, melainkan bagaimana mereka membaca. Banyak pembaca BL mengaku memilih menutup layar ponsel saat berada di ruang publik, mengganti sampul bacaan, hingga memakai akun anonim agar tidak diketahui orang lain. Pengamatan yang saya lakukan menunjukkan bahwa pembaca BL merasa takut dihakimi karena selera mereka dianggap tabu oleh lingkungan sekitar. Bahkan kepada teman dekat sendiri, sebagian dari mereka membutuhkan waktu lama untuk terbuka mengenai jenis bacaan yang mereka nikmati. Ketakutan itu lahir dari budaya sosial yang masih gemar mengawasi preferensi pribadi orang lain. Ruang publik hari ini tidak selalu memberi rasa aman bagi individu untuk menikmati media secara bebas. Aktivitas membaca yang semestinya bersifat personal justru berubah menjadi objek penilaian sosial. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kebebasan modern sering kali tampak luas di permukaan, tetapi sempit dalam praktik keseharian.

Penelitian mengenai komunitas fujoshi di Indonesia menunjukkan bahwa banyak anggota fandom membangun identitas ganda di ruang sosial. Mereka dapat terlihat biasa di lingkungan keluarga atau kampus, tetapi menjadi sangat aktif di komunitas daring tempat mereka merasa aman. Strategi itu dilakukan untuk menghindari stigma dan stereotip negatif yang melekat pada penggemar BL. Dalam sejumlah kasus, pembaca bahkan mengalami ejekan, dianggap “aneh”, atau dicurigai memiliki orientasi seksual tertentu hanya karena genre bacaan mereka. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kontrol sosial bekerja sangat kuat terhadap pilihan konsumsi budaya masyarakat. Kondisi itu menjadi ironi di tengah era digital yang sering dipromosikan sebagai era kebebasan informasi. Internet memungkinkan siapa pun mengakses jutaan jenis bacaan, tetapi akses tidak selalu dibarengi rasa aman untuk menikmatinya. Kebebasan akhirnya berhenti sebatas kemampuan membuka konten, bukan kebebasan untuk mengonsumsinya tanpa intimidasi sosial.

Kebebasan seharusnya tidak berhenti pada hak berbicara, tetapi juga mencakup hak membaca dan menikmati media. Membaca adalah tindakan intelektual yang sangat personal. Negara maupun masyarakat tidak memiliki hak menentukan jenis bacaan apa yang boleh dinikmati seseorang selama tidak melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain. Ketika seseorang merasa harus “bersembunyi” hanya untuk membaca komik di kereta, perpustakaan, atau ruang tunggu, ada persoalan sosial yang lebih besar daripada sekadar selera fandom. Fenomena fujoshi memperlihatkan bahwa masyarakat masih cenderung menerima keberagaman secara setengah hati. Publik mengagungkan kebebasan selama kebebasan itu sesuai dengan norma mayoritas. Ketika preferensi seseorang dianggap tidak lazim, penghakiman muncul lebih cepat daripada upaya memahami. Situasi ini membuat banyak individu akhirnya membangun ruang aman sendiri di internet karena ruang sosial nyata terasa terlalu sempit bagi ekspresi personal mereka.

Kebebasan Tidak Selalu Berarti Persetujuan

Kebebasan membaca tidak identik dengan kewajiban untuk menyukai semua jenis bacaan. Masyarakat tetap memiliki hak untuk tidak tertarik pada genre tertentu, termasuk BL. Namun kebebasan individu akan kehilangan makna ketika seseorang dipaksa menyembunyikan aktivitas personalnya hanya demi menghindari stigma sosial. Dalam titik itu, persoalannya bukan lagi soal komik atau fandom, melainkan tentang bagaimana masyarakat memandang hak privat seseorang. Saya memandang bahwa selera adalah wilayah pribadi selama tidak membawa dampak buruk bagi orang lain. Tidak ada alasan untuk menghakimi seseorang hanya karena pilihan media yang mereka konsumsi berbeda dari mayoritas. Membela hak baca fujoshi bukan berarti tunduk pada sistem homonormatif ataupun mengampanyekan orientasi seksual tertentu. Sikap tersebut justru lahir dari pemahaman bahwa setiap manusia memiliki hak dasar untuk memilih, menikmati, dan mengakses media sesuai preferensinya sendiri. Masyarakat yang sehat tidak dibangun dari keseragaman selera, melainkan kemampuan menghormati perbedaan tanpa rasa terancam. Kebebasan yang dewasa adalah kebebasan yang memberi ruang bagi orang lain untuk hidup tanpa rasa takut, termasuk takut saat membuka halaman bacaan favoritnya di tempat umum. Dalam konteks itu, fujoshi yang bersembunyi saat membaca sesungguhnya sedang menunjukkan satu hal penting: kebebasan hari ini masih sering bergantung pada penerimaan sosial, bukan pada penghormatan terhadap hak individu.

Daftar Pustaka

Farah. 2020. Fujoshi memandang dunia secara berbeda. Diakses dari Binus Psychology
Hitoshi. 2022. Fujoshi. Fanlore Fujoshi
McLelland. 2006. Female readers of male homoerotic narratives in Japan. Transformative Works and Cultures.
Nugraha. 2024. Kajian komunitas dan identitas pembaca Boys’ Love di Indonesia. Repository Unhas
Mopashari. 2019. Naskah penelitian terkait komunitas fujoshi dan konsumsi media. Scribd Naskah

Oleh : Zulfa Meutia Putri (Universitas Negeri Malang)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top