Setiap hari, jutaan aplikasi resep di internet menawarkan resep rendang dalam 30 menit, ayam goreng krispi tujuh langkah mudah, atau sop buntut tanpa ribet. Apa yang kita temui saat ini serba praktis dan instan. Namun, jauh sebelum dunia modern ini lahir, nenek moyang kita sudah mempunyai sistem memasak yang luar biasa. Semua itu tercatat dalam Serat Centhini, karya sastra klasik yang menyimpan bukan sekedar kuliner Jawa, tetapi merupakan ensiklopedia mengenai kehidupan masyarakatnya.
Kenali Serat Centhini
Serat Centhini, atau yang kerap disebut Cethini atau Pitik Cethin, adalah sebuah manuskrip klasik Jawa yang mulai ditulis pada tahun Jawa 1742 (1814 M) dengan judul Suluk Tambangraras. Nama Centhini diambil dari nama abdi tokoh bernama Niken Tambangraras yang kemudian menjadi istri Seh Amongraga. Naskah aslinya disimpan di Sono Pustaka Kraton Surakarta, sementara salinannya dapat ditemukan di Perpustakaan di Rekso Pustaka Mangkunegaran, Radya Pustaka Sriwedari, Museum Sono Budaya Yogyakarta, Perpustakaan Nasional dan lembaga-lembaga yang lain.
Yang menarik, Serat Centhini bukan hanya karya sastra atau catatan perjalanan spiritual, tetapi memiliki isi yang sangat banyak dan lengkap. Di dalamnya tercatat ratusan jenis makanan dan minuman tradisional. Mulai dari kudapan pasar yang sederhana hingga hidangan keraton yang rumit, lengkap dengan filosofi dan cara penyajiannya.
Salah satu yang menarik perhatian adalah kuliner di Wirasaba. Ketika pertunjukan singir yang dipertunjukkan oleh Mas Cebolang dan rombongan, ada beberapa macam kuliner yang disajikan sebagai sesaji yaitu: sekul tumpeng megana, dan jajan pasar lengkap. Selain itu, ada juga kuliner yang disajikan: wedang teh memanisan, puwan roti, wedang kopi, berbagai macam lah-olahan, guguriyan manis-manis, pepak di-adi ingolah, serta aneka woh-wohan. Dapat dilihat bahwa kuliner bukan sekadar pengisi perut, melainkan elemen penting dalam penghormatan tamu dan kelengkapan ritual.
Keberadaan Serat Centhini Saat Ini
Ironisnya, warisan budaya ini perlahan pudar ditelan zaman, justru di saat informasi seharusnya paling mudah diakses. Di era yang serba canggih ini, sudah seharusnya kita memanfaatkan teknologi dengan baik dan optimal. Manuskrip digital Centhini kini dapat diakses melalui situs Khastara (Perpustakaan Nasional RI). Namun, karena keterbatasan akses dan kendala bahasa (aksara Jawa kuno), hanya segelintir orang yang dapat memahami isi sesungguhnya dari manuskrip ini. Oleh karena itu, dibutuhkan cara baru untuk merangkul masyarakat agar mengenal lebih dalam tentang Serat Centhini.
Upaya Mempertahankan Eksistensi Serat Centhini
Di sinilah digitalisasi manuskrip Serat Centhini bisa menjadi game changer. Maksudnya bukan sekedar memindai kertas tua dan menjadikannya sebuah file digital, melainkan tentang memperkenalkan kembali warisan masa lalu melalui cara yang relevan bagi audiens masa kini. Masyarakat zaman sekarang adalah makhluk visual yang digerakkan oleh algoritma. Menghidupkan kembali Serat Centhini berarti berani mengubah narasi puitis yang kaku menjadi konten digital yang baru, menarik, dan mudah dicerna.
Media sosial memainkan peran kunci dalam hal ini. Mengapa? Pertama, memiliki jangkauan tanpa batas. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube punya pengguna yang jumlahannya mencapai ratusan juta. Tidak ada museum atau perpustakaan yang bisa menyaingi jangkauan semacam itu. Kedua, cocok untuk generasi Z atau Alpha yang lebih nyaman dengan video 30 detik dibanding membaca halaman-halaman teks. Konten visual yang menarik dan storytelling yang relatable adalah bahasa yang mudah mereka pahami.
Kesimpulan
Serat Centhini adalah bukti nyata bahwa bangsa ini punya kekayaan budaya yang luar biasa. Resep-resep yang sudah teruji selama berabad-abad, teknik-teknik yang kini justru relevan sebagai alternatif terhadap makanan cepat saji, dan filosofi-filosofi yang menyertainya. Media sosial dan teknologi memungkinkan kebudayaan Indonesia yang sudah rapuh untuk terus hidup dan tetap eksis di tangan generasi mendatang.
Daftar Pustaka
Sunjata, W., Sumarno, & Mumfangati, T., (2014). Kuliner Jawa dalam Serat Cethini. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2016). Ramuan Obat Tradisional Indonesia: Serat Centhini, Buku Jampi dan Kitab Tibb. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Oleh : Shamira Raliana (Universitas Brawijaya)




