Di tengah era globalisasi dan kemajuan teknologi yang terus melesat, perhatian generasi muda terhadap budaya tradisional Indonesia mulai menurun. Banyak anak muda lebih memilih menghabiskan waktu dengan perangkat elektronik dan media sosial daripada mendalami budaya lokal yang merupakan identitas bangsa. Situasi ini menjadi tantangan besar dalam menjaga kelestarian budaya Indonesia, termasuk pencak silat, yang merupakan warisan budaya asli dari Nusantara. Sebenarnya, pencak silat tak hanya dikenal sebagai seni pertarungan, tetapi juga mengandung akan nilai-nilai penting seperti disiplin, tanggung jawab, persaudaraan, keberanian, dan spiritualitas.
Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, pencak silat memainkan peran signifikan dalam pembentukan karakter generasi muda. Melalui latihan yang konsisten, individu tidak hanya dilatih secara fisik, tetapi juga diajarkan untuk mengembangkan mental yang tangguh, menghormati orang lain, serta mengendalikan emosi. Oleh karena itu, pencak silat dapat berfungsi sebagai alat pendidikan karakter yang relevan di tengah berbagai pengaruh negatif dari perkembangan zaman.
Salah satu organisasi yang secara aktif melestarikan dan mengembangkan pencak silat adalah Pagar Nusa. Organisasi ini tidak hanya fokus pada latihan seni bela diri, tetapi juga mengandung nilai-nilai agama, budaya, dan persaudaraan di antara anggotanya. Melalui beragam kegiatan latihan, kompetisi, dan pengembangan karakter, Pagar Nusa berusaha mempertahankan keberadaan pencak silat agar tetap dikenal dan diminati oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Pertumbuhan pencak silat melalui Pagar Nusa menjadi salah satu langkah krusial dalam menjaga budaya Indonesia dan sekaligus membentuk kepribadian generasi muda agar lebih patuh, bertanggung jawab, dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi.
Berdasarkan wawancara dengan pelatih Pagar Nusa, Siti Maesa Putri, perkembangan Pagar Nusa di Jawa Timur menunjukkan kemajuan yang cukup cepat. Banyak pelatih yang mulai mendirikan tempat latihan baru di sekolah, pesantren, serta di tengah masyarakat, sehingga seni bela diri pencak silat semakin dikenal oleh generasi muda. Selain itu, kemajuan media sosial juga memberikan dampak besar terhadap promosi Pagar Nusa. Dulu, informasi hanya disebarkan dari individu ke individu, tetapi sekarang, kegiatan dan pencapaian Pagar Nusa bisa dengan mudah diakses oleh publik melalui platform media sosial. Namun, kemajuan ini juga dihadapkan pada berbagai kendala. Salah satu hambatan terbesar adalah berkurangnya minat sebagian generasi muda dalam beraktivitas fisik karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Hal ini menyebabkan banyak anak muda merasa cepat lelah dan kurang bersemangat untuk berlatih secara teratur. Situasi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tradisional memerlukan dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat agar minat generasi muda terhadap pencak silat tetap terjaga.
Selain sebagai bela diri, pencak silat juga memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter. Dalam latihan Pagar Nusa, peserta diajarkan untuk disiplin mengenai waktu, menghormati pelatih, menjaga perilaku, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan rekan-rekannya. Bahkan, beberapa peserta merasakan perubahan positif setelah mengikuti latihan, seperti kemampuan yang lebih baik untuk mengelola emosi, menjaga sikap, serta meningkatkan rasa percaya diri.
Selain itu, Pagar Nusa turut menanamkan nilai-nilai agama dan budaya kepada para anggotanya. Cara ini dilakukan melalui doa bersama sebelum latihan, memperkenalkan adab kepada pelatih, dan menekankan bahwa ilmu bela diri harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk menciptakan masalah. Dengan begitu, pencak silat tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga membentuk mental dan moral generasi muda.
Pagar Nusa dikenal di kalangan masyarakat karena dianggap sebagai organisasi pencak silat yang mengedepankan nilai-nilai agama, budaya, dan persaudaraan. Organisasi ini semakin meluas di sekolah-sekolah, pesantren, dan lingkungan setempat sehingga semakin populer di kalangan generasi muda.
Selain rutin mengadakan latihan, Pagar Nusa juga aktif dalam menjaga warisan budaya pencak silat lewat kompetisi, pertunjukan seni, dan kegiatan sosial. Pandangan masyarakat terhadap Pagar Nusa adalah bukan hanya sebagai lembaga bela diri, tetapi juga sebagai tempat untuk membentuk karakter serta melestarikan budaya bangsa.
Perkembangan Pagar Nusa menggambarkan bahwa pencak silat tetap memainkan fungsi signifikan di zaman sekarang. Melalui pelatihan dan pembentukan karakter, Pagar Nusa dapat mempertahankan budaya Indonesia sambil menciptakan generasi muda yang memiliki disiplin, akhlak yang baik, dan rasa tanggung jawab. Oleh sebab itu, dukungan dari orang tua, institusi pendidikan, serta komunitas sangat penting agar pencak silat dapat terus maju dan tidak lenyap oleh kemajuan zaman.
Daftar Pustaka :
Muhyi, M., & Purbojati, P. (2014). Penguatan olahraga pencak silat sebagai warisan budaya nusantara. Jurnal Budaya Nusantara, 1(2), 141–147.
Santika, D. A., Irhamudin, I., & Arifin, M. Z. (2024). Peran pencak silat Pagar Nusa di dalam penanaman karakter generasi muda. Berkala Ilmiah Pendidikan, 4(1), 143–152.
Pagar Nusa Official Website. (2023). Sejarah Pagar Nusa. Diakses pada 20 April 2026, dari https://pagarnusa.or.id/sejarah/
Wikipedia. (2026). Pencak silat. Wikipedia bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Pencak_silat
Oleh : Ridva Malhan Darmawan (Universitas Brawijaya)




