Pemilihan motif batik topeng: wajah asli Kota Malang
Kota Malang merupakan kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Malang, dengan destinasi yang sering dipilih oleh masyarakat Indonesia. Menurut wijaya et al. 2023, Pada tahun 2016, ada sekitar 9.535 Wisatawan mancanegara serta 3,9 juta wisatawan nasional yang mengunjungi kota Malang. Selain itu, kota Malang merupakan salah-satu Kota yang menyimpan kekayaan sejarah dan warisan budaya. Salah satu wujud warisan dari budaya Malang yaitu batik tulis Malangan, dengan representasi media seni yang menunjukan visual dari corak dan motif pada kain. Batik tulis Malangan memiliki motif dan pewarnaan yang memiliki makna di dalamnya, dengan diantaranya ada Tugu Malang, singa, bunga teratai, dan yang paling umum topeng Malang (Fillahnda, 2022).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bu Aulya, pemilik toko batik, motif batik Malangan sudah menjadi ikon batik dengan batuan peran pemerintah kota Malang pada tahun 2016. Hal ini berkaitan dengan tradisi di Kota Malang yang masih erat dengan tari Topeng Malangan. Dikenal sebagai item budaya yang hadir setiap acara formal, tarian, dan souvenir khas daerah, Itu salah satu sebab mengapa batik di Malang menghilight motif topeng sebagai wajah ikonik di Kota Malang. Hal tersebut tidak lewat dari kontribusi pengrajin batik yang bekerja sama dalam mengembangkan ide motif topeng Malang.
Visual dalam motif batik topeng
Motif pada kain topeng Malang terinspirasi dari sebuah pementasan tari topeng Malangan, karakter topeng Malang yang kaya sejarah dipindahkan ke media kain dua dimensi (kain batik tulis). Dalam mengaplikasikan seni topeng 3D ke sebuah media kain 2D, terdapat sebuah kesulitan sendiri. Hasil dari wawancara dengan Bu Aulya mengatakan, Topeng Malangan dibuat pengrajin secara detail dan memiliki makna di dalamnya. Namun dalam mengaplikasikan visualnya ke batik, visualisasi topeng tidak bisa penuh ke dalam kain, sehingga perlu adanya penyesuaian (Pratiwi et al., 2021).
Dalam desain batik ada perbedaan antara desain klasik dan modern. Desain batik klasik memiliki aturan yang harus ditaati, sedangkan pada batik pembatik modern, Pembatik lebih leluasa dalam mengekspresikan diri dalam sebuah kain. Pemaknaan dalam batik topeng Malangan berbeda dari topeng Malangan.Pemaknaan dalam batik lebih menekankan desain secara keseluruhan sedangkan topeng malangan memiliki penekanan yang lebih detail dan memiliki makna setiap ornamennya demi memunculkan karakter dalam sebuah pementasan.
Perbedaan antara batik modern dan klasik sangat terlihat jelas. Dimana desain dalam batik modern lebih leluasa bagi pembantik dalam mengekspresikan diri di sebuah media kain. Terutama dalam pemakaian dalam pewarnaan kain yang digunakan, dalam pewarnaan batik topeng Malangan diterapkan dengan warna beragam karena menginginkan variasi warna untuk kebutuhan secara global. Tentu ini berbeda dengan budaya dari topeng Malangan. Dimana topeng Malangan salah satunya seperti topeng Panji Asmorobangun, memiliki makna warna tumbuhan, kesejukan, kedamaian, dan kesuburan (Ariawan Ida et al., 2020).
Sehingga begitu karakter-karakter topeng dimasukkan ke dalam bentuk visual kain, warna yang digunakan menjadi sebuah estetika yang bebas, sesuai dengan adaptasi kebutuhan. Di sini, permainan warna menjadi sebuah kreativitas dan kebebasan bagi para pengrajin yang bersifat fashion, dengan menyesuaikan pada kebutuhan produk diterapkan bisa seperti kain batik, tote bag, baju, dan lain sebagainya. Dengan demikian, aspek pada pewarnaan batik pada kain, lebih dibebaskan dan dikembangkan mengikuti perkembangan zaman. Bentuk transformasi ini menjadi sebuah bukti bahwa dalam pelestarian budaya lokal pada modernisasi tidak saling berbenturan, melainkan dapat saling berdampingan dan dapat dipakai oleh masyarakat modern tanpa aturan yang kaku.
Perbedaan 2D VS 3D
Dalam memindahkan bentuk topeng ke atas kain, tantangan terbesar tidak hanya sekedar menonjolkan visual, tetapi juga bagaimana mempertahankan nilai dari budaya lokal dan makna filosofis. Menurut Krisanti et al. (2025), Menciptakan motif batik kontemporer memiliki fokus untuk mencari pendekatan dalam merancang motif. Tidak hanya inovatif secara visual tetapi dapat mempertahankan nilai-nilai budaya lokal, dengan perencanaan bertujuan dalam mengeksplorasi bentuk, warna, dan simbol yang tepat.
Pada fisik 3D atau topeng, dimana merupakan sebuah artefak seni pertunjukan yang memiliki sebuah aura spiritual dalam seni pertunjukan tari. Topeng merupakan media ikat yang menghubungkan watak dari suatu karakter dari tokoh yang dimainkan. Seperti tokoh Klana Sewandana, yang memiliki 12 elemen bentuk dan dengan pewarnaannya terdiri dari hijau, hitam, kuning, merah muda, dan merah. Bentuk dari topeng Malangan juga terbuat dari kayu tebal dan berat, dibentuk dengan bagian dagu lebih persegi, tulang pipi yang cukup menonjol, dan kaya akan ukiran (Nirwana, 2016).
Sedangkan implementasinya pada seni 2D, ada keterbatasan di dalamnya. Pada hasil wawancara, bahwa dalam bentuk topeng Malangan memiliki 76 karakter yang kemudian terbagi lagi, tentu penciptaan visual dalam kain tidak dapat dilakukan secara menyeluruh secara motif. Oleh karena itu, agar tetap menjaga keaslian dari sebuah topeng Malangan dari 3D ke 2D, pengrajin melakukan penyederhanaan bentuk tapi tetap menjaga keaslian dari topeng Malangan dengan menonjolkan motif mahkota pada topeng yang terdiri dari tiga elemen, yaitu cula, sumping, dan urna.
Perubahan fisik ini dari 3D ke 2D membawa pandangan baru mengenai cara pandang seni tradisional di masyarakat. Dimana topeng Malang yang tadinya hanya untuk pementasan bisa dikembangkan menjadi bentuk fungsional seperti fashion, Yang dapat didistribusikan ke berbagai dunia sesuai perkembangan zaman. Dimana fenomena ini menjadi sebuah bukti bahwa budaya tradisional dapat hidup dan membaur terhadap gaya modern. Batik patung Malangan menjadi bukti dari sebuah seni tradisional yang kaku menjadi sebuah estetika yang dapat dinikmati semua kalangan dengan masih mempertahankan elemen asli dari topeng Malangan, dan dapat terus berkembang pada eksistensi dunia fashion.
Daftar Pustaka :
Ariawan, E. I., & Patriani, S. R. (2020). Studi Analisis Makna Pada Warna Topeng Malangan Sanggar Asmorobangun Karya Karimun Di Dusun Kedungmonggo Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaiji Kabupaten Malang. Racana: Jurnal Pendidikan Seni dan Budaya, 1(1), 9-17.
Fallahnda, B. (2022, Desember 19). Sejarah Batik Malangan: Ciri Khas, Motif, dan Maknanya. Tirto.id. https://tirto.id/sejarah-batik-malangan-ciri-khas-motif-dan-maknanya-gzKU
Kristanti, K., Budiyanto, A. E., & Prasetya, W. R. R. (2025). Penciptaan Motif Batik Dengan Ide Topeng Bali. SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, 8(1), 85-91.
Nirwana, A. (2016). Kajian estetik topeng malangan (studi kasus di sanggar asmorobangun, desa Kedungmonggo, Kec. Pakisaji, kab. Malang). Imaji.
Pratiwi, N. M., & Murwandani, N. G. (2021). Batik Motif “Topeng Malangan” Rumah Batik Blimbing Kota Malang. Jurnal Seni Rupa, 9(2), 318–332. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/va/article/view/39109
Wijaya, D. N., Lutfi, I., Hudiyanto, R. R., Wahyudi, D. Y., & Ariska, F. (2023). Daya tarik wisata sejarah budaya di Malang Raya. Historiography: Journal of Indonesian History and Education, 2, 401-410.
Oleh : Aura Nabila Adawiyah (Universitas Brawijaya)




