“Karikatur sebagai Kritik Filsafat Pancasila terhadap Nilai Pancasila : Bukan Hanya Dihafalkan, Tetapi Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari”

Sumber Gambar: (Olahan Penulis, 2026)

Kehidupan berbangsa dan bernegara pada era kontemporer menempatkan Pancasila tidak hanya sebagai rangkaian sila yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, tetapi sebagai sistem nilai yang seharusnya menjiwai seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Lahirnya Pancasila merupakan hasil dari proses panjang para pendiri bangsa dalam merumuskan dasar filosofis yang mampu merangkul keberagaman. Wiratraman (2016) menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara tidak cukup dipahami secara simbolik, melainkan perlu diwujudkan sebagai komitmen etis yang tampak nyata dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat Indonesia.

Kenyataan yang berkembang justru memperlihatkan adanya jarak yang cukup tajam antara pemahaman terhadap Pancasila dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak individu, termasuk kalangan terdidik, mampu menghafalkan kelima sila, tetapi tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut saat menghadapi realitas konkret. Latif (2018) menyebut bahwa krisis kebangsaan yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mengenai Pancasila, melainkan kegagalan bersama dalam menginternalisasi nilai-nilainya ke dalam tindakan nyata. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya intoleransi, melemahnya semangat gotong royong, serta rendahnya kesadaran hukum, padahal semua itu bertentangan dengan esensi Pancasila.

Kesenjangan antara pengetahuan dan penghayatan nilai Pancasila menuntut pendekatan komunikasi yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Metode konvensional yang cenderung normatif dan indoktrinatif sering kali kurang efektif karena terasa jauh dari realitas sehari-hari. Pada titik ini, karikatur menjadi medium yang relevan sekaligus efektif. Nugroho (2019) menjelaskan bahwa karikatur sebagai bentuk komunikasi visual mampu menyampaikan pesan sosial yang kompleks secara ringkas dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, bahkan lebih luas jangkauannya dibandingkan teks akademik. Karikatur tidak berhenti pada fungsi hiburan, melainkan juga menjadi sarana refleksi filosofis yang mendorong masyarakat untuk meninjau kembali nilai-nilai yang selama ini diakui, tetapi belum sepenuhnya dijalankan.

Perspektif filsafat menunjukkan bahwa Pancasila memiliki dimensi aksiologis yang mendalam. Prasetyo dan Muis (2017) menyatakan bahwa nilai-nilai dalam Pancasila bersifat hierarkis dan saling berkaitan, sehingga pengabaian terhadap satu sila akan berdampak pada melemahnya makna sila lainnya. Pancasila hanya akan bermakna apabila dipahami sebagai satu kesatuan utuh, bukan sebagai bagian-bagian terpisah yang dihafalkan semata. Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan, misalnya ketika seseorang mengaku beriman tetapi merendahkan sesama, atau pemimpin yang berbicara tentang keadilan namun bertindak diskriminatif, mencerminkan inkonsistensi ideologis yang dalam kajian filsafat moral dipandang sebagai jurang antara pengakuan dan praktik nyata.

Wahyudi dan Santoso (2020) menambahkan bahwa menurunnya penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari juga dipengaruhi oleh arus globalisasi serta masuknya budaya asing yang mendorong pergeseran nilai generasi muda ke arah individualisme dan pragmatisme. Kondisi tersebut menuntut kehadiran media alternatif yang mampu menghidupkan kembali kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya Pancasila sebagai pedoman hidup, bukan sekadar simbol historis yang diperingati secara seremonial. Pendekatan berbasis seni dan humor visual dinilai lebih efektif karena mampu menembus hambatan psikologis yang sering muncul ketika masyarakat berhadapan dengan wacana ideologis yang kaku.

Berangkat dari kegelisahan filosofis tersebut, karya karikatur berjudul “Karikatur sebagai Kritik Filsafat Pancasila: Bukan Hanya di hafal Tetapi di Terapkan untuk Sehari-hari” hadir sebagai bentuk respons kreatif sekaligus kritik sosial. Karikatur ini menampilkan percakapan sederhana antar tokoh di sebuah kelas yang secara langsung menunjukkan bagaimana nilai pancasila dijalankan atau justru diabaikan dalam keseharian. Lingkup sekolah dipilih sebagai latar karena merupakan ruang sosial yang paling alami dalam kehidupan siswa//i, Satir yang disajikan secara ringan namun tajam mengajak pembaca untuk merefleksikan diri: apakah Pancasila benar-benar telah dihayati, atau hanya menjadi slogan dan hafalan semata. Pesan yang ingin disampaikan menegaskan bahwa nilai-nilai luhur bangsa tidak cukup diucapkan, melainkan harus diwujudkan dalam setiap tindakan, pilihan, dan sikap sehari-hari.

Oleh: Ainun Salsabila, Muhammad Fahmi Rijal Musthofa, Alfandy Nurfaiz, Ivana Lorna Olivia, & Reza Aura Wulan Rizky-Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Univertas Brawijaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top