“RELEVANSI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DI ERA MODERN”

Kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi mengalir tanpa henti, dan pengaruh budaya dari luar negeri masuk dengan begitu mudah. Di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang cukup penting: apakah Pancasila masih relevan sebagai dasar negara kita?

Sebagian orang merasa Pancasila sudah ketinggalan zaman dan tidak mampu menjawab persoalan modern. Namun, jika kita mau menelaah lebih dalam, justru sebaliknya yang benar. Tantangan-tantangan baru yang muncul di era ini semakin memperjelas mengapa bangsa Indonesia membutuhkan Pancasila bukan sebagai simbol, tetapi sebagai pedoman hidup yang nyata.

Pancasila Bukan Sekadar Hafalan

Banyak dari kita mengenal Pancasila sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kita hafal lima silanya, tahu lambangnya, dan bisa menyebutkannya satu per satu. Namun, seberapa jauh kita benar-benar memahami dan menghayati isinya?

Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan setiap upacara bendera. Ia adalah pandangan hidup bangsa Indonesia yang lahir dari nilai-nilai yang sudah ada jauh sebelum negara ini berdiri. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Kelima nilai itu bukan hal asing. Hal tersebut tumbuh dari budaya dan kearifan lokal masyarakat Nusantara sejak berabad-abad lalu.

Yang membuat Pancasila istimewa adalah sifatnya yang terbuka dan tidak kaku. Para pendiri bangsa tidak merancang Pancasila sebagai ideologi yang beku dan tertutup, melainkan sebagai panduan yang mampu tumbuh dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ini berarti Pancasila tidak menolak kemajuan, pancasila justru memberi arah agar kemajuan tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Tantangan Nyata yang Kita Hadapi

Era modern membawa banyak kemudahan, tetapi juga membawa tantangan serius bagi kehidupan berbangsa kita. Setidaknya ada tiga tantangan yang paling penting untuk kita perhatikan. Pertama, perpecahan di media sosial. Setiap hari kita menyaksikan perdebatan sengit di berbagai platform digital. Perbedaan pendapat yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah, justru sering berujung pada permusuhan, ujaran kebencian, dan penyebaran berita bohong. Budaya saling menghormati perlahan terkikis, digantikan oleh budaya “siapa keras, dia menang.” Nilai musyawarah mufakat dalam sila keempat seolah tidak lagi memiliki tempat di ruang digital kita.

Kedua, masuknya ideologi asing. Globalisasi membuat kita terpapar berbagai paham dari luar, mulai dari paham yang terlalu bebas dan mengabaikan nilai moral, hingga paham yang kaku, intoleran, dan bertentangan dengan semangat keberagaman Indonesia. Tanpa pemahaman Pancasila yang kuat sebagai pegangan, generasi muda mudah terombang-ambing dan kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Ketiga, kesenjangan antara nilai dan kenyataan. Ini adalah tantangan yang paling memprihatinkan sekaligus paling berbahaya. Korupsi masih terjadi di berbagai lini, ketidakadilan masih dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat, dan hukum tidak selalu berpihak pada yang benar. Ketika kenyataan sehari-hari begitu jauh dari cita-cita Pancasila, wajar jika sebagian masyarakat mulai meragukan makna dan kegunaannya. Inilah yang kemudian melahirkan sikap skeptis dan apatis terhadap ideologi negara.

Mengapa Pancasila Masih Relevan?.

Justru karena tantangan-tantangan itu nyata dan berat, Pancasila semakin relevan bukan semakin usang. Sila pertama mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi harus tetap dilandasi nilai-nilai moral dan etika. Kecerdasan buatan, media sosial, dan berbagai inovasi digital seharusnya digunakan untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk menipu, memanipulasi, atau memecah belah masyarakat.

Sila kedua mengajarkan bahwa pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang tidak meninggalkan siapa pun. Pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati segelintir orang, sementara sebagian besar rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya, jelas bertentangan dengan semangat kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sila ketiga menunjukkan bahwa keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya yang kita miliki adalah kekuatan, bukan kelemahan. Di saat banyak negara justru dirobek-robek oleh konflik identitas dan intoleransi, Indonesia punya Pancasila sebagai perekat yang sudah teruji selama puluhan tahun.

Sila keempat dan kelima mengingatkan bahwa demokrasi kita harus benar-benar mewujudkan musyawarah yang jujur dan terbuka, serta bahwa keadilan sosial bukan sekadar kalimat indah di atas kertas, melainkan tanggung jawab nyata yang harus diwujudkan oleh setiap elemen bangsa.

Apa yang Harus Kita Lakukan ?.

Relevansi Pancasila tidak bisa hanya diklaim dengan kata-kata. Ia harus dibuktikan melalui tindakan nyata dari semua pihak. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Penegakan hukum yang adil dan konsisten adalah salah satu cara paling konkret untuk membuktikan bahwa Pancasila bukan sekadar slogan. Dunia pendidikan perlu mengubah pendekatan dalam mengajarkan Pancasila. Bukan sekadar menghafal butir-butirnya, tetapi mendorong siswa dan mahasiswa untuk memahami maknanya, mendiskusikan penerapannya dalam kehidupan nyata, dan terbiasa mengamalkannya sejak dini.

Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, peran ini sangat strategis. Dalam setiap kegiatan organisasi, dalam cara berdiskusi dan menyampaikan pendapat, dalam sikap menghargai perbedaan, diisitulah nilai-nilai Pancasila bisa dihidupkan secara autentik. Bukan pada peringatan hari besar saja, tetapi dalam pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.

Pancasila tetap relevan di era modern. Bukan karena kita dipaksa untuk percaya, tetapi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memang dibutuhkan untuk menjawab persoalan nyata yang kita hadapi hari ini. Yang perlu diperbarui bukan Pancasilanya, melainkan cara kita memahami, mendialogkan, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah ideologi tidak dinilai dari usianya, tetapi dari seberapa nyata ia hadir dan terasa manfaatnya bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

Pusdatin. (2021). Relevansi Pancasila di Tengah Kehidupan Modern Menurut Alissa Wahid.

Bpip.Go.Id. https://bpip.go.id/berita/relevansi-pancasila-di-tengah-kehidupan-modern-menurut-
alissa-wahid

Sasongko, Y. A. T. (n.d.). Di Era Digital, Perlu Strategi Tepat Kenalkan Pancasila ke Generasi
Milenial. Kompas.Com.
Sasongko, Y. A. T. (2020). Tantangan di Masa Depan dan Upaya Merawat Ideologi Pancasila.

Kompas.Com. https://nasional.kompas.com/read/2020/07/27/16572881/tantangan-di-masa-
depan-dan-upaya-merawat-ideologi-pancasila?page=all

Shakila, M., Oktavianita, N. ashwad, & Yustazah, T. (2026). Relevansi Pancasila di Era Modern:
Tantangan, Nilai, dan Upaya Penguatan. Retizen.

https://retizen.republika.co.id/posts/751378/relevansi-pancasila-di-era-modern-tantangan-nilai-dan-upaya-penguatan

Oleh: Khansa Azarine Prameswari, Jessie Bernadette, Muhammad Marcello Latif, Charen Eunike Sinaga, & Naila Ailsya Pradiva-Univeristas Brawijaya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top