
MALANG – Dalam upaya membedah realitas sejarah dan budaya masyarakat Jawa, sebuah diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Eksistensi dan Dinamika Khitan Dukun Calak” sukses digelar pada Senin, 27 April 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 12.00–13.30 WIB ini dilaksanakan secara bauran (hybrid).
Secara luring (offline), diskusi bertempat di D’Fresh Guesthouse & Resto, Malang, dengan dihadiri oleh 20 peserta terbatas yang terdiri dari peneliti, dosen sejarah, dan mahasiswa. Sementara itu, antusiasme peserta yang lebih luas diakomodasi secara daring (online) melalui platform Zoom Meeting. Acara dipandu oleh Muhammad ‘Afwan Mufti selaku moderator dan Nurisha Rayhan Vareno sebagai notulis.
Menjembatani Tradisi dan Modernitas Medis
FGD ini bertujuan untuk menelesik dinamika khitan tradisional pada masyarakat Jawa, menganalisis peranan dukun calak serta mantri, dan mengkaji relasi pengetahuan medis tradisional versus modern melalui perspektif etnohistori. Diskusi menghadirkan para ahli di bidangnya, dimulai dengan pengantar dari Firza Azzam Fadilla, M.Pd.
Sesi pemaparan pertama dibuka oleh Prof. Dr. Moh. Rosyid (UIN Sunan Kudus) yang membedah konsistensi dan dinamika komunitas Samin di Blora beserta nilai-nilai kejujuran dan kesederhanaannya. Selanjutnya, Martina Safitry, M.A. (UIN Raden Mas Said) memaparkan sejarah kesehatan di Jawa. Ia menyoroti bahwa posisi khitan tradisional kini berada pada fase negosiasi dan hibriditas yang saling melengkapi dengan medis modern, bukan saling berselisih.
Perspektif metodologi diperdalam oleh Agus Danugroho, M.Sc. (Universitas Airlangga) yang menjelaskan pentingnya pendekatan etnohistori untuk menangkap pengalaman serta pandangan mendalam masyarakat lokal terkait praktik dukun calak. Terakhir, Dr. Daya Negri Wijaya (Universitas Negeri Malang) mengupas transformasi dukun di Jawa. Ia menjelaskan bahwa meski mengalami penurunan eksistensi, para dukun saat ini bertahan dengan melakukan improvisasi dan hibridisasi pengetahuan bersama medis modern.
Rekomendasi Akademis bagi Warisan Budaya
FGD ini menghasilkan kesimpulan penting bahwa perubahan peranan dukun calak memerlukan perhatian khusus dari para akademisi. Pendekatan etnohistori menjadi kunci penting untuk mengungkap makna keberadaan mereka di tengah masyarakat. Diperlukan upaya pemberdayaan kebudayaan agar praktik tradisional ini tetap eksis secara relevan di tengah arus modernisasi global, sekaligus mengukuhkannya sebagai bagian dari warisan budaya.
Di akhir sesi, seluruh hasil diskusi ini ditegaskan akan menjadi landasan penting bagi penelitian lanjutan guna menuntaskan kajian historis dan kultural tersebut.




