
BOJONEGORO – Dalam upaya membedah realitas sejarah dan budaya masyarakat Jawa, sebuah tim peneliti yang beranggotakan 4 orang sukses melaksanakan rangkaian riset lapangan (fieldwork) mendalam mengenai praktisi khitan tradisional. Riset ini difokuskan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, guna mengkaji dinamika sosial, sistem pengetahuan lokal, serta relasi antara medis tradisional dan modern langsung dari penuturan masyarakat setempat.
Rangkaian kegiatan lapangan ini dibagi ke dalam tiga tahapan waktu yang terstruktur demi mendapatkan data yang valid, komprehensif, dan mendalam dengan pendekatan etnohistori.
Pemetaan Wilayah Melalui Observasi Awal
Riset diawali dengan Tahap Observasi Awal yang berlangsung pada tanggal 16–19 Mei 2026. Selama empat hari, tim peneliti yang berjumlah 4 orang melakukan pemetaan wilayah dan penjajakan awal di berbagai titik di Bojonegoro.
Proses observasi awal ini menjadi langkah krusial untuk melihat langsung realitas empiris di lapangan, membangun kepercayaan (rapport) dengan komunitas lokal, serta mengidentifikasi keberadaan para aktor kunci seperti praktisi khitan tradisional (dukun calak), mantri, hingga komunitas adat yang relevan dengan fokus kajian etnografis ini.
Penggalian Data dan Verifikasi Lapangan
Setelah memetakan wilayah, tim peneliti melanjutkan riset ke tahap pendalaman data yang dibagi menjadi dua gelombang:
• Tahap Penelitian Lapangan I (29 Mei – 1 Juni 2026): Pada gelombang pertama ini, keempat peneliti membagi tugas untuk melakukan wawancara mendalam (in-depth interview). Langkah ini ditujukan untuk menangkap perspektif lokal dan pengalaman langsung dari masyarakat yang mengalami atau mempraktikkan tradisi tersebut, termasuk aspek kultural dan spiritual yang melingkupinya.
• Tahap Penelitian Lapangan II & Verifikasi Data (8–9 Juni 2026): Tahap akhir dari riset lapangan ini difokuskan pada pengayaan data, pelacakan dokumen pendukung, serta verifikasi temuan dari tahap pertama. Proses ini memastikan seluruh model adaptasi dan dinamika penyesuaian tradisi di tengah arus modernisasi tergambarkan secara objektif.
Seluruh data primer yang berhasil dihimpun oleh tim peneliti—mulai dari rekaman wawancara hingga catatan lapangan (fieldnotes)—diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi akademis yang kuat. Hasil riset di Bojonegoro ini akan menjadi pilar utama dalam menyusun strategi pelestarian serta pemberdayaan warisan budaya yang penting bagi masyarakat luas.




