
Manila, 15 Juni 2026 — Pameran Batik Indonesia bertajuk From Java to Manila: Batik Terang Bulan as Living Heritage resmi dibuka pada Senin, 15 Juni 2026, di Learning Commons Exhibition Area, Lantai 6 Henry Sy Sr. Hall, De La Salle University, Manila. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Soendari Batik and Art dengan dukungan pendanaan dari Dana Indonesiana Tahun 2025 pada skema Pendayagunaan Ruang Publik. Melalui pameran ini, Batik Terang Bulan dihadirkan bukan hanya sebagai karya tekstil yang indah, tetapi juga sebagai warisan budaya hidup yang membawa pesan persahabatan, perdamaian, dan diplomasi budaya Indonesia.
Acara pembukaan berlangsung pukul 14.30–16.00 waktu Manila dengan menghadirkan sejumlah tokoh dari De La Salle University, Universitas Negeri Malang, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina, serta para mitra budaya Indonesia. Sambutan pembuka disampaikan oleh Dr. Fernando A. Santiago, Jr., Director of DLSU Southeast Asia Research Center and Hub, dilanjutkan dengan sambutan Prof. Dr. Raymond Girard Tan, Vice President for Research and Innovation De La Salle University, serta Prof. Dr. Anthony Chiu, Vice President for External Relations and Internationalization De La Salle University.
Dari Universitas Negeri Malang, sambutan disampaikan oleh Dr. Daya Negri Wijaya, M.A., Kepala Pusat Ekonomi Humaniora dan Pariwisata (PEHP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang. Kegiatan ini juga mendapatkan kehormatan melalui sambutan Victorina H. Dewayani, Chargé d’Affaires Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina, yang menyampaikan pandangan tentang batik sebagai aset diplomasi budaya Indonesia. Turut memberikan pesan kebudayaan ialah Satrya Paramanandana, M.Sos., Direktur Soendari Batik & Art Gallery; KRRA Hardjosuwarno, Pemilik Generasi Kedua Ndalem Hardjonegaran Batik Gallery; serta Endah Budi Heryani, S.S., M.M., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.
Di sela-sela acara, Presiden De La Salle University, Br. Bernard S. Oca FSC, turut mengunjungi area pameran. Kehadiran beliau menjadi bentuk apresiasi penting terhadap kerja sama kebudayaan Indonesia–Filipina, sekaligus memperkuat hubungan akademik dan budaya yang telah terbangun antara berbagai lembaga yang terlibat.
Pameran ini menghadirkan beragam koleksi yang dirancang agar pengunjung dapat memahami batik dari sisi sejarah, makna, proses, dan fungsi diplomatiknya. Pada bagian awal, pengunjung disambut oleh stan Kedutaan Besar Republik Indonesia yang menampilkan benda budaya dan suvenir khas Indonesia. Di area tengah, dipamerkan udeng, selendang, dan slayer bermotif Batik Terang Bulan. Udeng sebagai ikat kepala tradisional Jawa tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap busana, tetapi juga mengandung harapan agar pemakainya menjadi pribadi yang bijaksana.
Pengunjung kemudian diajak melihat empat infografik yang menjelaskan perjalanan Batik Indonesia, mulai dari gagasan Presiden Soekarno tentang batik sebagai simbol persatuan nasional, peran Go Tik Swan dalam menciptakan Batik Indonesia, filosofi Nunggak Semi, hingga posisi batik sebagai instrumen diplomasi budaya. Bagian lain menampilkan instalasi ruang keluarga dengan sarung bantal bermotif Terang Bulan, buku-buku budaya Indonesia, serta koleksi kain Batik Terang Bulan dengan tiga motif utama: Atma Asia-Afrika, Modhang Hayati, dan Dove of Peace. Ketiganya membawa pesan tentang solidaritas Asia-Afrika, kemandirian, kehidupan, dan perdamaian dunia.
Pameran ini juga memperlihatkan kain batik yang belum selesai sebagai media edukasi tentang proses mencanting, tahap penting yang membedakan batik tulis dari kain bermotif biasa. Selain itu, pengunjung dapat melihat foto-foto bersejarah pameran batik di Istana Negara pada era 1960-an, termasuk dokumentasi Presiden Soekarno, Go Tik Swan, dan Raja Norodom Sihanouk dari Kamboja. Bagian lintas budaya turut dihadirkan melalui tekstil Filipina, keris Moro, serta keris Jawa karya KRRA Hardjosuwarno. Sebagai penutup pengalaman pameran, pengunjung dapat menyaksikan dokumenter Terang Bulan: The Harmony of the World. Film ini memperlihatkan bahwa batik bukan hanya warisan masa lalu, melainkan cahaya budaya yang terus hidup, bergerak, dan menjalin persaudaraan dunia dari akar tradisi Indonesia.




