Perjuangan Profesi Tradisional Di Tengah Gelombang Digitalisasi

Jalanan kota yang dulu riuh oleh klakson angkot dan deru becak kini semakin sepi, digantikan oleh deru motor layanan daring. Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, para pelaku profesi tradisional mencoba bertahan bukan dengan teknologi, tapi dengan keyakinan dan ketekunan. Modernisasi menjanjikan kecepatan, efisiensi, dan kemudahan. Namun di balik aplikasi canggih dan algoritma pintar, ada profesi-profesi lama yang pelan-pelan terpinggirkan. Tukang becak, sopir angkot, pengojek pangkalan mereka bukan hanya menghadapi perubahan zaman, tapi juga risiko kehilangan identitas, pendapatan, dan masa depan. Melalui proyek ini, kami ingin menyuarakan kisah mereka, bukan untuk mengundang rasa iba, tapi untuk memantik empati dan membuka ruang diskusi tentang keadilan sosial di era digital.

Salah satu suara yang mewakili perjuangan itu datang dari Bapak Mudjiono, seorang sopir angkot senior di Malang. “Saya narik angkutan umum sudah sangat lama, sebelum adanya mobil tipe carry ini,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa lalu. “Mulai dari mobil citul hijet 55, hijet 1000, hijet super.” Pengalamannya menjadi saksi perubahan moda transportasi dari waktu ke waktu, hingga pada akhirnya menghadapi tantangan paling berat: kehadiran transportasi online.

Dulu, ia dan rekan-rekan sopir bisa menyetor Rp100.000 per hari kepada pemilik angkot dan tetap memiliki cukup penghasilan untuk menabung atau merawat kendaraan. Bahkan ada program pemerintah berupa “keremajaan kendaraan”, yang membantu sopir memperpanjang surat-surat kendaraan secara cicilan. “Waktu itu dapat uang seratus ribu dalam satu hari sangat mudah,” kenangnya. “Kami menyisihkan setengah untuk perawatan mobil.” Tapi kini, itu tinggal kenangan.

Sejak aplikasi ojek online merajalela, banyak sopir kehilangan penumpang. “Kami dikatakan mati dalam artian sepi adalah saat munculnya aplikasi ojek online,” ucapnya. Mobil yang dulu dibeli dengan harga fantastis, kini tak lebih mahal dari sepeda motor bekas. Surat-surat kendaraan dibiarkan mati karena tak ada cukup uang untuk memperpanjang. “Banyak mobil teman-teman sopir saya yang surat-suratnya sudah mati karena minimnya penumpang,” lanjutnya.

Namun tak semua perubahan membawa luka. Ada secercah harapan dalam regulasi baru yang diterapkan pemerintah. “Sekarang kerja sangat enak,” ujar Pak Mudjiono. “Karena pemerintah membuat peraturan bahwa bus tidak boleh menaikkan dan menurunkan penumpang di area angkutan umum secara bersamaan, dan rutenya dibedakan.” Aturan ini sedikit membantu mempertegas ruang gerak angkot yang kian tergerus.

Meski begitu, harapan yang ia sandarkan tidak muluk. “Pun seperti saat ini, walaupun sepi ya saya diam. Saya berpikir insyaallah besok masih dapat, daripada jika tidak kerja bagaimana, mas? Mau kerja lain juga sudah tidak bisa karena umur dan fisik saya.” Kalimat itu sederhana, namun menggambarkan ketegaran. “Kalau sehari dapat beras 1–2 kg ya saya syukuri, mas. Karena Allah tidak tidur, saya masih dapat rejeki halal”. Kisah Pak Mudjiono hanyalah satu dari ribuan suara yang nyaris tak terdengar. Mereka tidak menginginkan belas kasihan, hanya pengakuan dan kesempatan. Pengakuan bahwa mereka pernah dan masih berkontribusi besar dalam mobilitas kota. Kesempatan untuk beradaptasi, bukan disingkirkan.

Digitalisasi semestinya bukan tentang menggantikan, tetapi menggabungkan. Memadukan kecepatan teknologi dengan kearifan lokal. Pemerintah, perusahaan teknologi, dan masyarakat luas harus duduk bersama mencari jalan tengah: memberikan pelatihan digital, menciptakan sistem integrasi transportasi, atau bahkan sekadar memastikan bahwa para pekerja tradisional tidak tersisih oleh modernitas.

Karena kota yang berkeadilan bukan hanya kota yang serba cepat dan canggih, tapi juga kota yang merawat manusianya termasuk mereka yang masih setia bekerja di pinggiran jalan, dengan keyakinan bahwa esok masih ada harapan. Profesi tradisional bukan sekadar pekerjaan; mereka adalah warisan budaya, tulang punggung sejarah kota, dan simbol ketekunan dalam kesederhanaan. Melalui proyek ini, kami berharap dapat memberikan gambaran nyata tentang perjuangan mereka, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta membuka diskusi mengenai bagaimana profesi-profesi tradisional dapat beradaptasi di tengah perubahan zaman.

Modernisasi yang sehat bukan yang menyingkirkan, melainkan yang memeluk dan memanusiakan. Karena di balik setir angkot tua dan becak lusuh, tersimpan kisah perjuangan yang layak dihargai. Mari kita tidak hanya bergerak maju, tapi juga menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang tertinggal dalam perjalanan kita menuju masa depan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top