Artikel/Opini

Artikel/Opini

”Sekar Lodra Menjadi Tren Terkini: Ekspresi Generasi Z Dalam Meningkatkan Tarian Klasik”

Pada era ketika globalisasi digital berkembang sangat pesat, Generasi Z hidup dalam kebudayaan yang berubah secepat informasi di media sosial. Tren muncul dan lenyap dalam sekejap. TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini bukan sekadar platform hiburan, melainkan “panggung utama” yang menunjukkan tolok ukur popularitas dan relevansi budaya. Apa yang viral hari ini bisa jadi sudah usang keesokan harinya.
Dalam dunia yang bergerak cepat ini, kebudayaan lokal sering kali berada di posisi yang kurang diunggulkan. Tarian tradisional, misalnya, kerap dianggap kaku, formal, dan sesungguhnya kurang menarik. Persepsi ini muncul bukan tanpa alasan. Terdapat jurang perbedaan estetika dan bahasa antara cara tradisional menampilkan tari dan cara Generasi Z mengonsumsi media yang lebih visual, cepat, serta interaktif. Penari K-pop dengan gerakan energik atau tantangan tari yang viral tampak lebih cocok dengan jati diri masa kini mereka.
Akibatnya, tarian tradisional sering dianggap sebagai warisan yang “perlu dijaga”, namun jarang dirasakan sebagai sesuatu yang bisa dinikmati, diadaptasi, dan terlebih dibanggakan. Hal ini menimbulkan krisis identitas tersembunyi: apakah warisan leluhur masih punya tempat di kehidupan anak muda sekarang?

Artikel/Opini

“Tradisi Manganan (Sedekah Bumi) Di Bojonegoro: Menjaga Budaya Warisan Ditengah Modernisasi”

Mengenal Tradisi Manganan di Bojonegoro

Indonesia memiliki beragam budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Bojonegoro adalah Manganan. Tradisi ini merupakan kegiatan sedekah bumi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat desa.
Pelaksanaan Manganan biasanya diawali dengan doa bersama yang kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Setiap warga membawa makanan dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Artikel/Opini

“Permainan Tradisional Engklek Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Lingkungan Sekitar”

Permainan tradisional merupakan bagian dari budaya Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. Selain menjadi sarana hiburan, permainan tradisional juga memiliki manfaat bagi perkembangan fisik, sosial, dan emosional anak. Namun, perkembangan teknologi membuat banyak anak lebih memilih bermain gadget dibandingkan bermain bersama teman di lingkungan sekitar.
Salah satu permainan tradisional yang masih dikenal hingga saat ini adalah engklek. Permainan yang dilakukan dengan melompat pada kotak-kotak tertentu menggunakan satu kaki ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga melatih keseimbangan, sportivitas, dan interaksi sosial. Melalui artikel ini, penulis ingin memberikan gambaran mengenai permainan engklek pada anak usia sekolah dasar serta pentingnya melestarikan permainan tradisional di era modern.

Artikel/Opini

“Wisata Kampung Keramik Dinoyo Sebagai Identitas Budaya Dan Potensi Ekonomi Kreatif Kota Malang”

Di tengah perkembangan Kota Malang yang semakin modern, masih terdapat kawasan budaya yang mempertahankan identitas lokalnya melalui karya kerajinan tradisional. Salah satu kawasan tersebut adalah Kampung Keramik Dinoyo, sebuah sentra kerajinan keramik yang telah dikenal masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat produksi berbagai jenis keramik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Malang.

Kampung Keramik Dinoyo berlokasi di kawasan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Kawasan ini dikenal sebagai sentra kerajinan keramik yang menghasilkan berbagai produk seperti vas bunga, guci, peralatan makan, hiasan rumah, hingga cenderamata khas Malang. Selain memiliki nilai ekonomi, keberadaan keramik Dinoyo juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kota Malang.

Artikel/Opini

“Petirtaan Watugede: Antara Warisan Yang Tersisa dan Masa Depan Yang Belum Pasti”

Tersembunyi di Watugede, sebuah desa di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, terdapat sebuah situs bersejarah yang telah ada selama lebih dari delapan ratus tahun. Petirtaan Watugede, kolam mandi kuno berasal dari zaman Kerajaan Singhasari, diyakini pernah menjadi tempat mandi bagi Ken Dedes, ratu agung yang namanya diabadikan dalam Sejarah Jawa. Namun, sayangnya, kemegahan warisan sejarah ini kini berjuang untuk bertahan akibat keterbatasan finansial, minimnya kesadaran di kalangan generasi muda, serta ketidakpastian mengenai keberlangsungan program pelestariannya. Situs ini menggambarkan isu yang lebih luas: bagaimana Indonesia bersikap terhadap kekayaan budayanya sendiri.

Artikel/Opini

“Batik Sebagai Identitas Seni Dan Budaya Bangsa”

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Salah satu warisan budaya yang menjadi kebanggaan bangsa adalah batik. Batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan karya seni yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaan batik menjadi bukti kreativitas masyarakat Indonesia dalam menciptakan karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna. Oleh karena itu, batik memiliki peran penting dalam memperkuat jati diri bangsa di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Artikel/Opini

“Kesenian Ondel-Ondel Sebagai Indentitas Budaya Betawi Di Jakarta”

Di Jakarta, budaya Betawi menjadi salah satu identitas khas Masyarakat ibu kota. Salah satu kesenian tradisional yang paling paling dikenal Adalah ondel-ondel. Ondel-Ondel menupakan boneka raksasa yang biasanya dimainkan secara berpasangan dan ditampilkan dalam acara adat, festival budaya, maupun hiburan Masyarakat. Keberadaan ondel-ondel tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga memiliki nilai Sejarah dan filosofi yang erat dengan keidupan Masyarakat Betawi pada masa lalu. Hingga saat ini, ondel-ondel masih menjadi symbol budaya Betawi yang sering dijumpai di berbagai sudut Jakarta, mulai dari acara pemerintahan hingga pertunjukan jalanan.

Artikel/Opini

“Negeri Rempah yang Lupa Rasa Jamu”

Indonesia dan rempah-rempah memiliki ikatan historis yang sangat kuat, bahkan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika kita melihat kembali catatan sejarah berabad-abad lalu, aroma pala, cengkih, dan kapulaga dari Nusantara sukses mengguncang dunia serta mengubah peta perdagangan global. Kekayaan alam inilah yang menggerakkan armada-armada besar Eropa untuk rela bertaruh nyawa menembus badai samudra selama berbulan-bulan demi bisa mencapai kepulauan ini. Menariknya, dari kelimpahan bumi yang luar biasa tersebut, leluhur kita tidak hanya menggunakannya sebagai bumbu dapur menambah cita rasa masakan, melainkan juga meraciknya menjadi jamu. Sebuah ramuan tradisional yang terbukti ampuh menjaga kesehatan masyarakat Nusantara dari generasi ke generasi, jauh sebelum obat-obatan modern berbentuk pil dan kapsul menguasai pasar domestik.
Namun nyatanya terdapat sebuah ironi besar yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Pada akhir tahun 2023 lalu, jamu resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage). Pencapaian internasional yang sangat membanggakan ini sayangnya berbanding terbalik dengan kondisi riil di dalam negeri. Generasi muda kita saat ini jauh lebih akrab dengan aroma kopi susu gula aren, matcha latte, atau segelas boba yang manis ketimbang kehangatan kunyit asam dan beras kencur. Jamu pelan-pelan terpinggirkan dari konsumsi harian, bahkan dianggap sebagai minuman kuno, pahit, dan ketinggalan zaman. Kita seolah-olah menjadi “Negeri Rempah yang Lupa Rasa Jamu”—sebuah bangsa yang tanahnya kaya akan bahan baku herbal terbaik, tetapi masyarakatnya sendiri mendadak asing dengan rasa ramuannya.

Artikel/Opini

“Kepunahan Permainan Nyai Puthut Rakyat: Salah Siapa Teknologi, Lingkungan, atau Generasi Muda?”

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari bahasa daerah, kesenian, hingga permainan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Permainan tradisional bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mengajarkan nilai kerja sama, sportivitas, komunikasi, dan interaksi sosial kepada anak-anak (Kurniati, 2016). Sayangnya, keberadaan permainan tradisional saat ini semakin terpinggirkan oleh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Salah satu permainan rakyat yang mulai kehilangan eksistensinya adalah Nyai Puthut, permainan tradisional yang pernah dikenal oleh masyarakat Malang. Berbeda dengan permainan populer seperti congklak atau gobak sodor yang masih sesekali dimainkan, Nyai Puthut justru semakin sulit ditemukan. Tidak sedikit generasi muda yang bahkan belum pernah mendengar nama permainan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa warisan budaya lokal tidak hanya menghadapi tantangan untuk dilestarikan, tetapi juga menghadapi risiko dilupakan oleh generasi penerusnya.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan yang menarik untuk dikaji. Apakah hilangnya permainan Nyai Puthut merupakan dampak dari perkembangan teknologi yang semakin pesat, perubahan lingkungan sosial masyarakat, atau justru karena rendahnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya lokal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dipahami berbagai faktor yang memengaruhi keberlangsungan permainan tradisional di tengah kehidupan modern.

Artikel/Opini

“Menari Bersama Identitas: Upaya Generasi Muda Menjaga Eksistensi Tari Jalak Lawu Di Era Digital”

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki identitas budaya yang menjadi ciri khas sekaligus kebanggaan masyarakatnya. Salah satu bentuk kekayaan budaya tersebut adalah seni tari. Tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, seni tari juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, sejarah, dan karakter suatu daerah. Oleh karena itu, pelestarian seni tari menjadi hal yang penting agar warisan budaya bangsa tidak hilang akibat perkembangan zaman.
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, seni tari termasuk salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina secara berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa seni tari memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat jati diri bangsa.
Salah satu karya seni tari yang lahir sebagai representasi budaya lokal adalah Tari Jalak Lawu dari Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Meskipun tergolong sebagai tari yang relatif baru, Tari Jalak Lawu telah berkembang menjadi simbol budaya yang membanggakan masyarakat Magetan. Tarian ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga berperan dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Scroll to Top