Regenerasi Petani sebagai Urusan Kebangsaan, Bukan Sekadar Urusan Profesi

Oleh: Muhammad ‘Azizul Muttaqin (Universitas Brawijaya)

Pendahuluan
Indonesia suka berbicara tentang kedaulatan pangan, tetapi sering lupa pada orang yang membuat pangan itu tetap ada, yaitu petani. Di Jawa Tengah misalnya, survei lokal menunjukkan rata-rata usia petani sudah mencapai 52 tahun. Di Sulawesi Selatan, hampir 60 persen petani berusia di atas 50 tahun. Sementara itu, anak muda justru berpindah ke kota demi pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan. Regenerasi petani karena itu bukan sekadar urusan profesi, melainkan urusan kebangsaan. Yang dipertaruhkan bukan hanya sawah yang sepi, tetapi keberlanjutan hidup 270 juta jiwa yang bergantung pada produksi pangan domestik. Masalah regenerasi petani sudah terlihat nyata dan mengkhawatirkan. Data Sensus Pertanian 2023 mencatat petani usia 19–39 tahun hanya 6,18 juta orang, atau 21,93 persen dari total 28,16 juta petani nasional (Badan Pusat Statistik, 2023). Artinya, hampir 80 persen petani berada pada kelompok usia menengah ke atas yang produktivitasnya akan menurun dalam 10–15 tahun ke depan. Di saat yang sama, jumlah usaha pertanian menurun dari 29,3 juta pada 2013 menjadi 28,16 juta pada 2023. Tren ini menandakan sektor pertanian sedang mengalami penyusutan secara keseluruhan (Badan Pusat Statistik, 2023).

Isi
Penyebab utamanya adalah citra pertanian yang belum berubah di mata generasi muda. Bagi banyak anak muda, bertani berarti kerja fisik berat dari subuh hingga senja, pendapatan yang tidak pasti karena fluktuasi harga, dan risiko gagal panen akibat cuaca atau hama. Di desa-desa, anak petani lebih memilih menjadi buruh pabrik atau sopir ojek online yang menawarkan penghasilan harian langsung ketimbang menunggu panen tiga bulan sekali. Citra petani miskin dan jorok yang melekat puluhan tahun masih menghantui, meskipun kenyataannya petani modern sudah menggunakan drone, aplikasi cuaca, dan analisis tanah berbasis AI. Padahal, pertanian hari ini jauh berbeda dari masa lalu. Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa generasi milenial memiliki potensi besar dalam membawa perubahan melalui pemanfaatan teknologi digital, dan pemerintah mendorong keterlibatan mereka dalam berbagai program ketahanan pangan nasional (Kementerian Pertanian, 2024).
Di Lampung, petani muda seperti yang tergabung dalam PADI 2025 sudah memanfaatkan IoT untuk irigasi otomatis dan marketplace digital untuk menjangkau pembeli langsung tanpa tengkulak. Di Yogyakarta, kelompok AgriGenZ mengelola lahan organik dengan sertifikasi ekspor ke Jepang. Mereka membuktikan bahwa pertanian bisa jadi bisnis cerdas yang menguntungkan. Namun, kisah sukses ini masih terbatas pada segelintir orang yang beruntung mendapat akses modal, pelatihan, dan pasar. Sebagian besar anak muda tetap terhalang oleh lahan warisan yang terpecah-belah, KUR yang rumit, dan infrastruktur desa yang minim. Karena itu, regenerasi petani harus ditingkatkan menjadi agenda kebangsaan. Negara yang ingin swasembada pangan tidak boleh membiarkan 70 persen lahan sawah dikelola oleh petani yang dalam satu dekade lagi sudah memasuki usia pensiun. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras di gudang Bulog, tetapi juga soal keberlanjutan manusia yang menanam, memelihara, dan memanen. Ketika petani muda tidak hadir, Indonesia berisiko jadi raja impor yang bergantung pada Thailand, Vietnam, atau India untuk kebutuhan beras dasar.
Pancasila memberikan kerangka moral yang tegas untuk mengatasi krisis ini. Sila kedua menuntut martabat petani sebagai profesi yang terhormat dan layak secara ekonomi. Sila ketiga mengingatkan bahwa ketahanan pangan adalah kepentingan persatuan nasional, bukan urusan individu atau daerah. Sila kelima menekankan keadilan sosial dalam akses lahan garapan, subsidi pupuk yang transparan, harga pembelian yang adil, dan perlindungan dari praktik kartel perdagangan. Jika nilai-nilai ini tidak diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata, maka Pancasila di bidang pertanian hanya jadi slogan seremonial.
Solusi tidak boleh berhenti pada ajakan moral atau pelatihan seminggu. Anak muda tidak akan bertani hanya karena diminta mengabdi pada desa. Mereka membutuhkan ekosistem konkret redistribusi lahan idle yang dikuasai korporasi, KUR mikro dengan bunga nol persen untuk startup tani, buyback guarantee dari Bulog untuk komoditas strategis, dan agricultural co-working space di desa untuk kolaborasi antar-petani muda. Jepang berhasil membalikkan krisis petani dengan program Young Farmer Support yang menjamin pendapatan minimum selama lima tahun pertama. Indonesia bisa belajar dari sana. Pemerintah memang sudah meluncurkan berbagai program petani milenial. Program PADI 2025 dan Smart Tani menunjukkan komitmen yang baik, tetapi tantangannya ada pada skala dan konsistensi. Dari target 320 ribu petani muda yang digarap Kementan hingga 2025, berapa yang benar-benar bertahan setelah tiga tahun? Petani muda tidak butuh pelatihan sekali pakai, tetapi pendampingan berkelanjutan yang menjamin mereka bisa bertahan di tahun pertama, kedua, hingga kelima. Mereka juga butuh ruang untuk gagal, bereksperimen, dan bangkit, sesuatu yang saat ini masih langka di pertanian Indonesia.

Penutup
Bangsa ini perlu mengubah narasi besar tentang pertanian. Pertanian bukan lagi cangkul dan kerbau, melainkan smart agriculture, circular economy, dan export-oriented farming. Petani muda adalah agripreneur, bukan buruh tani. Jika narasi ini berhasil, regenerasi tidak lagi jadi program tersendat, melainkan movement yang menarik generasi Z dan Alpha untuk kembali ke akar rumput dengan cara modern. Sekolah vokasi pertanian harus jadi tech campus, bukan sekadar politeknik usang. Pada akhirnya, regenerasi petani adalah ujian serius bagi Indonesia. Jika gagal, kita tidak hanya kehilangan petani, tetapi juga kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi, dan martabat sebagai bangsa agraris. Sebaliknya, jika berhasil, Indonesia bisa jadi model regenerasi petani tropis yang menginspirasi dunia. Pertanyaannya sederhana: apakah kita mau jadi negara yang sawahnya sepi atau negara yang ladangnya penuh harapan? Jawabannya ada pada keberanian mengubah pertanian dari profesi terakhir menjadi profesi pertama pilihan generasi baru.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2023, Desember 4). Hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2023-Tahap I.bps.go.id
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2024, Oktober 28). Wamentan Sudaryono ajak milenial berperan dalam ketahanan pangan nasional di era digital.pertanian.go.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top