“Dari Lapangan ke Layar: Krisis Permainan Tradisional dalam Era Gadget dan Relevansinya dengan Pancasila”

A. Pendahuluan
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, penggunaan gadget telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Kehadiran berbagai permainan modern berbasis teknologi menawarkan hiburan yang praktis, menarik, dan mudah diakses kapan saja. Berdasarkan laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, tingkat penggunaan internet pada anak dan remaja di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola interaksi sosial generasi muda yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan bermain di luar rumah.
Di sisi lain, permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat perlahan mulai ditinggalkan. Aktivitas seperti gobak sodor, engklek, congklak, hingga petak umpet semakin jarang ditemukan di lingkungan sekitar. Padahal, permainan tradisional bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sarana pembentukan karakter dan penanaman nilai sosial. Melalui permainan tradisional, anak-anak belajar bekerja sama, menghargai teman, bersikap jujur, disiplin, dan membangun rasa kebersamaan.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip dalam Pancasila, terutama sila kedua dan ketiga yang menekankan kemanusiaan serta persatuan. Namun, dominasi gadget dan permainan digital yang cenderung bersifat individual menyebabkan interaksi sosial secara langsung semakin berkurang. Oleh karena itu, penting untuk membahas krisis permainan tradisional di era gadget serta relevansinya terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

B. Pembahasan
Perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bidang hiburan dan pendidikan. Akan tetapi, penggunaan gadget yang berlebihan juga memberikan dampak terhadap pola kehidupan sosial anak-anak. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), anak-anak Indonesia menghabiskan waktu yang cukup tinggi untuk mengakses internet dan bermain game digital setiap harinya. Hal ini menyebabkan aktivitas bermain di luar rumah semakin berkurang.
Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya eksistensi permainan tradisional di lingkungan masyarakat. Permainan tradisional yang dahulu menjadi media interaksi sosial kini mulai tergantikan oleh permainan daring yang dapat dimainkan secara individual. Padahal, permainan tradisional memiliki banyak manfaat dalam membangun keterampilan sosial dan emosional anak. Sebagai contoh, permainan gobak sodor mengajarkan kerja sama tim dan strategi, sedangkan congklak melatih kemampuan berpikir dan kesabaran.
Selain itu, permainan tradisional juga memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai Pancasila. Dalam permainan tradisional, anak-anak belajar menghormati aturan, bekerja sama, dan menjaga sportivitas. Nilai gotong royong yang muncul dalam permainan kelompok mencerminkan implementasi sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Sementara itu, sikap adil dan menghargai sesama pemain mencerminkan sila kedua dan kelima.
Sebaliknya, permainan digital yang dimainkan secara berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial secara langsung. Anak-anak cenderung lebih fokus pada layar dibandingkan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat memengaruhi kemampuan sosial dan konsentrasi anak. Oleh sebab itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pelestarian budaya lokal.
Upaya pelestarian permainan tradisional dapat dilakukan melalui lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Sekolah dapat mengadakan kegiatan permainan tradisional dalam pembelajaran atau acara tertentu. Selain itu, orang tua juga memiliki peran penting dalam mengenalkan permainan tradisional kepada anak sejak dini agar budaya tersebut tidak hilang akibat perkembangan zaman.

C. Refkelsi dan Solusi
Krisis permainan tradisional di era gadget merupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian serius. Perkembangan teknologi memang memberikan kemudahan dan hiburan bagi masyarakat, tetapi penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan menurunnya interaksi sosial dan lunturnya budaya bermain tradisional. Padahal, permainan tradisional memiliki banyak manfaat dalam membentuk karakter anak dan menanamkan nilai-nilai Pancasila seperti kerja sama, gotong royong, sportivitas, dan persatuan.
Oleh karena itu, pelestarian permainan tradisional perlu dilakukan secara bersama-sama oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan menjaga keberadaan permainan tradisional, generasi muda tidak hanya mempertahankan warisan budaya bangsa, tetapi juga dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di tengah perkembangan teknologi modern.

DAFTAR RUJUKAN
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). 2024. Laporan Survei Internet APJII 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2023. Statistik Telekomunikasi Indonesia.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2022. Permainan Tradisional sebagai Media Pembentukan Karakter Anak.
Kaelan. 2016. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Rahmawati, D. 2021. “Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Interaksi Sosial Anak.” Jurnal Pendidikan Sosial, Vol. 8 No. 2.

Oleh: Ryandra Ghani Firmansyah-Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melawan Hegemoni Pemuda Pasar Owo Owo

Hegemoni adalah suatu bentuk dominasi yang tidak selalu dilakukan secara paksa, tetapi seringkali berlangsung secara halus dan ideologis, melalui kontrol budaya, nilai, dan cara berpikir masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, hegemoni dapat terlihat dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya yang dianggap wajar oleh masyarakat luas.

Kebudayaan Mengkeramatkan Pantangan Makan Lele di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan

Penduduk di setiap wilayah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, seperti di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten lamongan. Kabupaten lamongan yang kerap dijuluki kota soto ini memiliki keunikan tersendiri, dengan ikon bandeng lele kabupaten lamongan ini eksis dan menarik. Kebudayaan di wilayah ini masih sangat dipegang teguh dan kental, salah satunya adalah pantangan makan lele.

Musisi Jalanan Di Kayu Tangan

Pinggiran jalan Kayu Tangan terdapat seniman musik jalanan yang biasa menampilkan pertunjukan musik di Kayu Tangan. Uniknya di sepanjang jalan Kayu Tangan terdapat 4-7 grup musik. Mereka biasa terdiri dari 5-6 anggota di setiap grup musik. Pertunjukan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan tersebut bisa dinikmati masyarakat yang singgah di sepanjang Kayu Tangan dan hanya membayar sukarela atau bisa gratis

Musik Remix dan Kesenian Bantengan: Pergeseran Nilai atau Pembaruan?

Lebih dari sekadar tarian, Bantengan adalah jantung budaya masyarakat Malang, sebuah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan keberanian. Kesenian ini menampilkan sosok banteng sebagai tokoh utama, yang dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum menyerupai banteng. Gerakan tarinya menggambarkan karakter seekor banteng liar, kuat, dan penuh energi.

UMKM Viral di Masa Sekarang : Maraknya Cafe Hidden Gems di Kota Malang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menunjukkan peran vital dalam perekonomian Indonesia, terlebih di era digital yang memudahkan penyebaran informasi dan promosi. Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, UMKM yang bergerak di bidang kuliner, khususnya kafe, mulai mengambil langkah inovatif dengan menghadirkan konsep hidden gem

Scroll to Top