Kota Malang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia yang setiap tahunnya menerima ribuan mahasiswa dari berbagai daerah, suku, bahasa, dan latar belakang budaya yang berbeda. Banyaknya perguruan tinggi di kota ini menjadikan Malang sebagai tujuan utama bagi para pelajar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kehadiran mahasiswa perantau dari berbagai wilayah di Indonesia menciptakan lingkungan kampus yang multikultural, di mana terjadi interaksi yang intens antara budaya lokal Arek Malang dengan budaya dari luar daerah. Interaksi tersebut berlangsung dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kegiatan akademik, organisasi kampus, lingkungan tempat tinggal, hingga aktivitas sosial sehari-hari.
Keberagaman budaya yang ada di lingkungan kampus membuat mahasiswa saling mengenal dan mempelajari kebiasaan, bahasa, serta cara berkomunikasi dari daerah lain. Mahasiswa perantau yang datang ke Kota Malang secara tidak langsung melakukan proses adaptasi terhadap budaya lokal masyarakat Malang yang dikenal memiliki karakter terbuka, santai, dan mudah bergaul. Di sisi lain, mahasiswa lokal juga mulai terbiasa berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya sehingga tercipta hubungan sosial yang lebih luas dan dinamis. Selain itu, kondisi ini juga menunjukkan bahwa budaya lokal Arek Malang terus mengalami dinamika, baik dalam mempertahankan identitasnya maupun menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial dan budaya di era modern.
Bedasarkan informasi yang disampaikan oleh seorang narasumber, budaya Arek Malang yang masih terlihat di lingkungan kampus dapat dilihat dari banyaknya mahasiswa yang masih menggunakan logat Malang atau bahasa walikan saat berbicara dengan teman-temannya ii merupakan salah satu cara Arek Malang mempertahankan budaya asli Malang. Namun, jika diperhatikan sekarang, karakteristik khusus tersebut sudah tidak terlalu menonjol selain dari penggunaan logat bahasa. Hal ini karena lingkungan kampus sudah sangat beragam dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, sehingga cara bergaul dan kebiasaan sehari-hari juga semakin mirip satu sama lain. Meski begitu, penggunaan logat atau bahasa Malangan masih cukup terasa, terutama saat berbincang dengan teman dekat.
Kondisi ini lebih menunjukkan adanya proses adaptasi terhadap keberagaman di lingkungan kampus. Karena memiliki teman dari banyak daerah, mahasiswa cenderung menyesuaikan cara berbicara dan bergaul agar lebih mudah berkomunikasi dan membangun kedekatan dengan semua orang. Ia menegaskan bahwa ”menurutku lebih ke beradaptasi sama keberagaman yang ada. karena punya teman dari banyak daerah, jadi cara ngobrol dan bergaul juga ikut menyesuaikan biar lebih nyambung sama semua orang. tapi beberapa hal atau kebiasaan kadang masih kebawa juga, jadi bukan benar-benar hilang, cuma lebih menyesuaikan situasi aja” sebagai contohnya ada yang mulai mengikuti bahasa atau logat luar Malang, bahkan menggunakan gaya bicara seperti “lu-gue”.
Hal ini terjadi karena anak muda zaman sekarang cenderung lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Selain itu, bahasa atau logat Jakarta sudah cukup familiar didengar karena sering muncul di media sosial, film, musik, maupun percakapan sehari-hari. Akibatnya, banyak mahasiswa yang secara sadar maupun tidak sadar mulai ikut menggunakan gaya bahasa tersebut agar lebih mudah berkomunikasi, merasa lebih nyambung dengan lingkungan pertemanan, atau karena sudah terbiasa mendengarnya dalam keseharian.
Meski demikian, penggunaan bahasa atau logat luar daerah bukan berarti menghilangkan identitas asli seseorang. Dalam situasi tertentu, terutama saat berbicara dengan keluarga atau teman yang berasal dari daerah yang sama, logat dan kebiasaan berbahasa Malang biasanya tetap muncul dan tetap menjadi bagian dari identitas mereka.
Selain itu, dilihat dari segi perilaku cara bergaul warga lokal Malang cenderung santai, mudah akrab, dan tidak terlalu kaku. Mereka juga biasanya suka bercanda dan mengobrol sehingga suasana terasa lebih hangat. Untuk kebiasaannya sendiri, banyak yang senang nongkrong atau berkumpul bersama teman sebagai bagian dari interaksi sehari-hari. Namun disisi lain ada seorang narasumber berpendapat bahwa perilaku tertentu kurang terlihat secara langsung karena sifatnya lebih pribadi dan juga penampilan fisik atau bentuk wajah juga tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan apakah seseorang berasal dari Malang atau bukan.
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa, keberagaman mahasiswa di Kota Malang menciptakan lingkungan kampus yang multikultural dan mendorong terjadinya interaksi serta adaptasi budaya antara mahasiswa lokal dan perantau. Budaya Arek Malang masih terlihat melalui logat Malang, bahasa walikan, serta cara bergaul yang santai dan mudah akrab. Namun, pengaruh budaya luar membuat mahasiswa mulai menyesuaikan cara berbicara dan berinteraksi, termasuk mengikuti bahasa atau logat lain. Meski demikian, adaptasi tersebut tidak menghilangkan identitas budaya Malang, melainkan menunjukkan bahwa budaya lokal tetap bertahan sambil menyesuaikan diri dengan keberagaman dan perkembangan sosial di lingkungan kampus.
Sumber wawancara:
Narasumber mahasiswa (wawancara pribadi, 2026)
https://www.semanticscholar.org/paper/Dinamika-Interaksi-Antarbudaya-di-Media-Sosial-dan-Mikraj-Primayana/bf5963d017bd28a3cf7b796232a82a491d8b4d75?utm_source=direct_link
https://jurnalp4i.com/index.php/community/article/view/2728
Oleh: Michelle Alzena Claudia Ginting-Universitas Brawijaya




