PENDAHULUAN
Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional Indonesia karena menjadi penopang utama ketahanan pangan, penyedia lapangan kerja, dan sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat pedesaan. Pertanian tidak hanya berfungsi sebagai sektor ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi dalam menjaga stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat. Namun, sektor ini masih menghadapi berbagai permasalahan yang kompleks, seperti alih fungsi lahan pertanian, keterbatasan akses terhadap sarana produksi, rendahnya kesejahteraan petani, dampak perubahan iklim, serta menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pertanian di Indonesia tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, dan kebijakan yang memerlukan solusi secara menyeluruh.
Dalam menghadapi berbagai persoalan tersebut, nilai-nilai Pancasila memiliki peran penting sebagai landasan strategis dalam pembangunan pertanian. Menurut Sirojudin et al., (2025) setiap sila dalam Pancasila mengandung prinsip yang relevan untuk menjawab tantangan pertanian, mulai dari tanggung jawab moral dalam pengelolaan sumber daya alam, penghormatan terhadap martabat petani, penguatan persatuan melalui gotong royong, pengambilan kebijakan yang demokratis, hingga pencapaian keadilan sosial bagi seluruh pelaku sektor pertanian. Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam sektor pertanian dapat menjadi pedoman untuk menciptakan sistem pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan pemerataan kesejahteraan.
Sinaga, (2024) juga menjelaskan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila dalam bidang pertanian mampu memperkuat kerja sama antarpelaku pertanian, mendorong inovasi yang berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui prinsip keadilan sosial dan gotong royong. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai dasar pemikiran dalam menghadapi dinamika pertanian modern. Oleh karena itu, esai ini bertujuan untuk mengkaji implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai landasan strategis dalam penyelesaian berbagai permasalahan pertanian di Indonesia guna mewujudkan sistem pertanian yang adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
PERMASALAHAN
- Alih Fungsi Lahan Pertanian

Gambar 1. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan nonpertanian
Sumber: Eticon, 2022
Salah satu permasalahan utama dalam sektor pertanian di Indonesia adalah meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri, perumahan, dan pembangunan infrastruktur. Menurut Saputro et al., (2024) kondisi ini menyebabkan luas lahan produktif semakin berkurang sehingga produksi pangan nasional berpotensi menurun. Selain itu, pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat membuat kebutuhan pangan juga semakin besar dari tahun ke tahun. Jika alih fungsi lahan terus terjadi tanpa pengendalian yang baik, maka ketahanan pangan nasional dapat terancam di masa depan (Heryadi et al., 2025). Oleh karena itu, perlindungan terhadap lahan pertanian produktif menjadi hal yang sangat penting dalam pembangunan nasional.
Menurut saya, alih fungsi lahan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab moral dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Banyak lahan pertanian yang produktif dialihkan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan petani dan kebutuhan pangan masyarakat. Dalam sila pertama Pancasila, manusia diajarkan untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana sebagai amanah dari Tuhan. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pembangunan harus tetap memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, sektor pertanian tetap dapat mendukung kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.
Pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih tegas dalam mengendalikan alih fungsi lahan pertanian melalui kebijakan tata ruang yang berkelanjutan. Selain itu, kerja sama antara pemerintah, petani, dan masyarakat juga sangat diperlukan untuk menjaga keberadaan lahan pertanian produktif. Penggunaan teknologi pertanian modern dapat menjadi solusi untuk meningkatkan hasil produksi pada lahan yang masih tersedia (Food and Agriculture Organization, 2023).. Menurut saya, pembangunan yang baik bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Dengan adanya sinergi yang kuat, sektor pertanian Indonesia dapat berkembang secara lebih berkelanjutan dan berdaya saing.
- Rendahnya Kesejahteraan Petani

Gambar 2. Aktivitas bertani menggunakan alat sederhana
Sumber: Pemerintah Desa Sedang, 2024
Kesejahteraan petani hingga sekarang masih menjadi persoalan yang cukup serius di Indonesia. Banyak petani harus menghadapi harga hasil panen yang sering berubah-ubah, sementara biaya produksi seperti pupuk dan pestisida terus meningkat. Keadaan tersebut membuat keuntungan yang diperoleh petani menjadi tidak menentu. Tidak sedikit pula petani kecil yang kesulitan memperoleh modal usaha maupun akses teknologi pertanian modern. Akibatnya, kehidupan sebagian petani masih jauh dari kata sejahtera meskipun mereka memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Jika dilihat dari nilai Pancasila, kondisi tersebut sebenarnya bertentangan dengan sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Petani seharusnya memperoleh perlakuan yang layak karena mereka merupakan salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Menurut saya, perhatian terhadap petani tidak boleh hanya dilakukan ketika terjadi krisis pangan saja, tetapi harus menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Bantuan pemerintah juga perlu diberikan secara merata agar petani kecil tidak tertinggal dibandingkan pelaku usaha besar. Dengan adanya perhatian yang lebih serius, kesejahteraan petani dapat meningkat secara bertahap.
Selain bantuan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia petani juga sangat penting dilakukan. Pelatihan mengenai teknologi pertanian modern, pemasaran digital, hingga pengelolaan usaha tani dapat membantu petani meningkatkan pendapatannya. Di sisi lain, stabilitas harga hasil panen juga perlu dijaga agar petani tidak mengalami kerugian saat musim panen tiba. Menurut saya, pembangunan pertanian tidak akan berhasil apabila petani sebagai pelaku utama masih hidup dalam keterbatasan. Karena itu, peningkatan kesejahteraan petani harus menjadi tujuan utama dalam pembangunan sektor pertanian.
- Pentingnya Gotong Royong dalam Pertanian

Gambar 3. Gotong royong masyarakat dalam pengelolaan lahan pertanian
Sumber: Desa Atu Lintang, 2025
Pembangunan pertanian tidak dapat berjalan dengan baik apabila dilakukan secara sendiri-sendiri. Dalam kenyataannya, petani membutuhkan dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah, akademisi, penyuluh pertanian, dan masyarakat sekitar. Budaya gotong royong yang sudah lama berkembang di Indonesia menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendukung keberhasilan sektor pertanian. Melalui kerja sama, petani dapat saling membantu dalam pengolahan lahan, distribusi air irigasi, maupun berbagi informasi terkait teknologi pertanian. Kebersamaan seperti ini membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dan hubungan sosial antarmasyarakat semakin kuat.
Nilai gotong royong sangat berkaitan dengan sila ketiga Pancasila, yaitu persatuan Indonesia. Menurut saya, semangat persatuan sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan pertanian modern yang semakin kompleks. Saat petani bekerja bersama dalam kelompok tani atau koperasi, mereka memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dibandingkan bekerja secara individual. Selain mempermudah akses bantuan, kerja sama juga dapat meningkatkan kemampuan petani dalam menghadapi perubahan iklim dan persaingan pasar. Oleh karena itu, budaya gotong royong perlu terus dipertahankan di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Pemerintah juga dapat mendukung semangat gotong royong melalui pembinaan kelompok tani dan penguatan komunitas pertanian desa. Kegiatan bersama seperti penyuluhan, pelatihan, dan pengembangan usaha tani dapat mempererat hubungan antarpetani. Menurut saya, keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh solidaritas dan rasa kebersamaan di masyarakat. Jika kerja sama terus dijaga, maka sektor pertanian Indonesia akan menjadi lebih tangguh dan mampu berkembang secara berkelanjutan. Dengan demikian, nilai persatuan dalam Pancasila dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Kebijakan Pertanian yang Demokratis

Gambar 4. Kondisi kesejahteraan petani dan akses pasar hasil pertanian
Sumber: Desa Bhuana Jaya, 2024
Kebijakan pertanian memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan sektor pertanian di Indonesia. Namun, masih terdapat beberapa program pertanian yang kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Salah satu penyebabnya adalah minimnya keterlibatan petani dalam proses penyusunan kebijakan. Padahal, petani merupakan pihak yang paling memahami kondisi pertanian secara langsung. Akibatnya, tidak sedikit program yang sulit diterapkan dan kurang memberikan manfaat secara maksimal bagi masyarakat.
Sila keempat Pancasila mengajarkan pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan. Menurut saya, nilai tersebut seharusnya diterapkan dalam penyusunan kebijakan pertanian agar keputusan yang diambil lebih tepat sasaran. Pemerintah perlu membuka ruang diskusi bersama petani sebelum menetapkan suatu program pertanian. Dengan adanya komunikasi yang baik, berbagai permasalahan di lapangan dapat dipahami secara lebih jelas. Selain itu, keterlibatan petani juga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dalam menjalankan program yang telah disepakati bersama.
Kebijakan yang demokratis akan menciptakan hubungan yang lebih baik antara pemerintah dan masyarakat. Transparansi dalam penyaluran bantuan maupun pelaksanaan program juga penting agar tidak menimbulkan ketimpangan di lapangan. Menurut saya, pembangunan pertanian akan berjalan lebih efektif apabila masyarakat merasa dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, kerja sama dan komunikasi yang baik harus terus diperkuat demi menciptakan kebijakan pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan begitu, pembangunan pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
- Keadilan Sosial dalam Pertanian

Gambar 5. Upaya pemerintah mencari solusi utang petani dan nelayan
Sumber: Berita Nasional, 2024
Kesenjangan dalam sektor pertanian masih sering ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Petani kecil terkadang mengalami kesulitan memperoleh pupuk, modal usaha, teknologi, maupun akses pasar dibandingkan pelaku usaha pertanian berskala besar. Kondisi tersebut menyebabkan hasil dan pendapatan yang diperoleh petani kecil menjadi lebih rendah. Selain itu, distribusi bantuan pertanian juga belum sepenuhnya merata sehingga masih ada masyarakat yang belum merasakan manfaat pembangunan pertanian secara maksimal. Jika situasi ini terus terjadi, maka kesejahteraan petani akan sulit tercapai secara menyeluruh.
Nilai keadilan sosial yang terdapat dalam sila kelima Pancasila memiliki peran penting dalam pembangunan pertanian nasional. Menurut saya, setiap petani seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa memandang skala usaha yang dimiliki. Pemerataan akses terhadap pupuk, teknologi, dan bantuan pertanian perlu dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan yang terlalu besar. Selain itu, petani kecil juga membutuhkan dukungan agar mampu bersaing di tengah perkembangan pertanian modern. Dengan adanya pemerataan tersebut, pembangunan pertanian dapat berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.
Upaya mewujudkan keadilan sosial dapat dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan petani dan peningkatan akses pasar hasil pertanian. Pemerintah juga perlu memperhatikan kualitas pendidikan dan pelatihan bagi petani agar kemampuan mereka semakin meningkat. Menurut saya, pembangunan pertanian yang berhasil bukan hanya dilihat dari tingginya produksi pangan, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan seluruh petani secara merata. Jika keadilan sosial dapat diwujudkan, maka sektor pertanian Indonesia akan menjadi lebih kuat dan mampu mendukung ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa sektor pertanian di Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti alih fungsi lahan, rendahnya kesejahteraan petani, kurangnya kerja sama dalam pengembangan pertanian, kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada petani, serta ketimpangan akses terhadap sumber daya pertanian. Permasalahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan keberlanjutan pembangunan. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang mampu mengintegrasikan nilai moral, sosial, dan kebijakan dalam pembangunan pertanian nasional.
Nilai-nilai Pancasila memiliki peran penting sebagai landasan strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan pertanian di Indonesia. Sila pertama mengajarkan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan, sila kedua menekankan pentingnya kesejahteraan petani, sila ketiga memperkuat semangat gotong royong, sila keempat mendorong kebijakan yang demokratis, dan sila kelima mengarah pada terciptanya keadilan sosial. Menurut saya, penerapan nilai-nilai tersebut dapat membantu menciptakan sistem pertanian yang lebih adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Dengan adanya kerja sama antara pemerintah, petani, akademisi, dan masyarakat, pembangunan pertanian Indonesia diharapkan mampu berkembang menjadi lebih maju dan berdaya saing. Selain meningkatkan produktivitas pertanian, penerapan nilai-nilai Pancasila juga dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan menjaga keseimbangan lingkungan. Oleh sebab itu, implementasi nilai-nilai Pancasila dalam sektor pertanian perlu terus diterapkan agar pertanian Indonesia mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Berita Nasional. (2024). Pemerintah cari solusi bagi utang petani dan nelayan. https://beritanasional.com/detail/84433/pemerintah-cari-solusi-bagi-utang-petani-dan-nelayan
Desa Atu Lintang. (2025). Gotong royong perangkat desa Atu Lintang wujudkan lahan produktif. https://atulintang.desa.id/berita/gotong-royong-perangkat-desa-atu-lintang-wujudkan-lahan-produktif
Desa Bhuana Jaya. (2024). Kesejahteraan petani melalui kolaborasi: Peran gapoktan dalam meningkatkan akses pasar dan nilai tambah. https://www.bhuanajaya.desa.id/kesejahteraan-petani-melalui-kolaborasi-peran-gapoktan-dalam-meningkatkan-akses-pasar-dan-nilai-tambah/
Eticon. (2022). Alih fungsi lahan pertanian. https://eticon.co.id/alih-fungsi-lahan-pertanian/
Food and Agriculture Organization. (2023). The state of food and agriculture 2023: Revealing the true cost of food to transform agrifood systems. FAO.
Heryadi, D. Y., Khaswarina, S., Aprilia, M., Mustaqim, Idawati, Sinaga, H., Erlina, Y., Effran, E., Wahyuni, I., Sitanggang, A., dan Nasruddin. (2025). Sosial ekonomi pertanian. CV HEI Publishing Indonesia.
Pemerintah Desa Sedang. (2018). Usia hanyalah angka, berbekal alat sederhana sudah cukup untuk bertani. https://desasedang.badungkab.go.id/berita/31427-usia-hanyalah-angka-berbekal-alat-sederhana-sudah-cukup-untuk-bertani
Saputro, W. A., Budiyoko, Susilo, E., Da Rato, Y. Y., Anwar, M. F., Wibowo, A., Adriani, D., Muala, B., Suciati, L. P., Setyarini, A., dan Sulistyowati, L. (2024). Pembangunan pertanian berkelanjutan. Padang: CV HEI Publishing Indonesia.
Sinaga, A. (2024). Peran Pancasila dalam bidang pertanian. Journal of Social, Justice and Policy, 3(4), 1–4.
Sirojudin, M. H., Rabbani, W. M., Al Farizi, M. F., Syafara, A. F., dan Supriyono. (2025). Penerapan Pancasila sebagai alat untuk mendorong ketahanan pangan ekonomi di era krisis geopolitik. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(3), 36777–36781.
Oleh: Farrel Pratama Adelly-Universitas Brawijaya




