Artikel/Opini

Artikel/Opini

“Mengenal Sejarah Malang Tahun 935 M Melalui Batik Tulis Bunulrejo”

Letak dan Lokasi Strategis Kampung Batik Bunulrejo

Kampung Wisata Batik Bunulrejo terletak di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Pusat pemberdayaan ekonomi kreatif ini berlokasi di kawasan Kampung Edukasi RW 10. Sentra ini menjadi daya tarik wisata budaya karena lokasinya yang strategis di tengah kota dan mudah diakses. Berdasarkan hasil observasi pada minggu pertama pengumpulan data, kawasan ini memiliki tata ruang pemukiman urban yang asri, bersih, dan tertata rapi. Di sepanjang koridor kampung, terdapat atmosfer edukasi budaya sebagai penghias galeri pameran produk. Perpaduan fungsi sebagai basis produksi usaha mikro (UMKM) batik tulis sekaligus destinasi wisata edukasi interaktif merupakan nilai tawar kompetitif bagi komunitas lokal. Potensi ekonomi ini akan berdampak optimal jika didukung oleh perluasan pasar serta sistem informasi digital yang terintegrasi.

Artikel/Opini

“Candi Wonorejo Madiun: Warisan Sunyi Yang Menunggu Diakui”

Ketika Sejarah Tidur di Bawah Tanah

Ada sesuatu yang ganjil sekaligus menyentuh ketika kita berdiri di hadapan sebuah situs purbakala yang tersembunyi di antara hamparan sawah dan rumah warga. Tidak ada papan reklame besar, tidak ada sorot lampu dramatis, tidak ada antrean wisatawan yang berselfie. Yang ada hanyalah keheningan, batu-batu tua yang masih berdiri tegak, dan pertanyaan yang menggantung di udara: mengapa tempat sepenting ini begitu jarang dibicarakan?
Itulah yang saya rasakan pertama kali menginjakkan kaki di Candi Wonorejo, sebuah situs arkeologi yang berlokasi di Dusun Santan, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Jarak tempuhnya tidak jauh dari pusat kota, sekitar 25 kilometer ke arah timur dari kota Madiun dan sekitar 7 kilometer di selatan Kantor Bupati Madiun di Caruban. Namun secara perhatian publik, situs ini terasa jauh, jauh sekali, dari pusat kesadaran masyarakat.
Madiun selama ini lebih banyak dikenal lewat satu narasi yang berat: tragedi pemberontakan PKI tahun 1948. Narasi itu memang nyata dan patut dikenang. Tetapi, sejarah Madiun jauh lebih panjang dan kaya dari sekedar satu babak kelam. Di bawah ini tanah dusun kecil bernama Santan, tersimpan bukti bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari peradaban besar Nusantara, jauh sebelum nama Madiun dikenal.
Tulisan ini lahir kunjungan langsung ke lokasi, percakapan dengan warga sekitar, serta kegelisahan pribadi terhadap nasib warisan budaya yang terlalu sering dianggap urusan akademisi semata. Ini bukan kajian ilmiah. Ini adalah suara warga biasa yang merasa bahwa peninggalan leluhur Adalah tanggung jawab kita semua.

Artikel/Opini

“Pandangan Generasi Muda Terhadap Bahasa Jawa”

Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa asing dalam percakapan sehari-hari, patut dipertanyakan apakah generasi muda benar-benar mulai melupakan bahasa Jawa? Faktanya, penggunaan bahasa di kalangan anak muda sering kali memperlihatkan kecenderungan untuk memilih bahasa yang dianggap lebih praktis dan universal. Namun, ada pertimbangan fungsional mengapa bahasa Jawa tidak selalu menjadi pilihan utama. Dalam ruang akademik atau formal, bahasa ini kerap tergeser oleh bahasa lain yang dianggap lebih universal. Hal ini membuat bahasa Jawa kalah dalam hal jangkauan, tetapi bukan berarti kehilangan makna. Generasi muda sebenarnya tidak menolak bahasa Jawa, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan komunikasi yang lebih luas. Bahasa Jawa tetap dipandang sebagai identitas, tetapi penggunaannya terbatas pada konteks tertentu yang dianggap sesuai.

Artikel/Opini

“Kupatan Kecamatan Sugio: Merawat Silaturahmi, Menjaga Identitas Budaya Lamongan”

LAMONGAN – Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi yang mengikis sekat-sekat sosial, masyarakat Kabupaten Lamongan, khususnya di wilayah Kecamatan Sugio, masih memegang teguh warisan leluhur yang sarat akan makna. Salah satu manifestasi budaya yang tetap eksis dan hidup di tengah masyarakat adalah Tradisi Kupatan (Lebaran Ketupat). Lebih dari sekadar ritual tahunan pasca-Hari Raya Idulfitri, Kupatan merupakan sebuah medium kultural yang efektif dalam merajut kembali tali silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, sekaligus meneguhkan identitas lokal masyarakat Sugio di era kontemporer.

Artikel/Opini

“Di Bawah Cahaya Layar, Cerita Rakyat Nusantara Kian Meredup Bahkan Di Tempat Lahirnya”

Pergeseran Pola Hiburan Anak di Era Digital

Sejak jauh sebelum hadirnya televisi, gawai, dan media digital, masyarakat nusantara telah memiliki tradisi bertutur yang menjadi sarana hiburan sekaligus pendidikan antargenerasi. Cerita rakyat hidup di ruang-ruang sederhana, di beranda rumah, di bawah sinar samar lampu minyak, atau di sela malam yang sunyi, ketika seorang nenek atau kakek menuturkan kisah dengan suara yang hangat. Tanpa listrik, tanpa jaringan internet, dan tanpa teknologi modern, dongeng mampu membawa imajinasi anak-anak melintasi batas ruang, memperkenalkan nilai kehidupan, keberanian, kejujuran, hingga kearifan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Namun kenyataan di era sekarang telah membalikkan segalanya dengan kecepatan yang sulit dibayangkan sebelumnya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat bahwa 78,19% penduduk Indonesia telah mengakses internet, dengan penetrasi yang kini merambah hingga ke pedesaan seiring program perluasan infrastruktur digital pemerintah. Survei UNICEF Indonesia (2020) mengungkap bahwa anak-anak usia 7–12 tahun rata-rata menghabiskan 4–5 jam per hari di depan layar angka yang melampaui total waktu mereka untuk bermain di luar dan berinteraksi langsung dengan anggota keluarga.

Platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan berbagai aplikasi game online menawarkan stimulasi visual dan auditif yang intens, cepat, dan terus-menerus diperbarui. Konten yang disajikan dirancang secara algoritmis untuk menjaga perhatian pengguna selama mungkin sebuah mekanisme yang dalam ilmu komunikasi dikenal sebagai attention economy. Dalam persaingan memperebutkan perhatian anak, cerita rakyat yang linier, lambat, dan tidak interaktif tentu kalah telak melawan konten digital yang penuh efek kejutan. Ironisnya, pergeseran ini terjadi paling tajam di kalangan anak-anak pedesaan yang kini mendapatkan akses gawai lebih luas. Berbeda dengan kota besar yang memiliki perpustakaan, sanggar seni, dan komunitas budaya, anak-anak desa sering kali langsung melompat dari tradisi lisan ke layar sentuh, tanpa melewati tahap transisi literasi yang memadai.

Artikel/Opini

“Ketika Sila Pertama Diuji: Intoleransi Berbasis Agama dan Krisis Ideologi Pancasila”

Indonesia adalah negara yang berdiri di atas fondasi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menjamin hak setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Namun, realitas di lapangan seringkali bertolak belakang dengan cita-cita luhur tersebut. Kasus pembubaran paksa retret pelajar Kristen di Sukabumi (Juni 2025) dan perusakan rumah doa di Padang (Juli 2025) menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Artikel opini ini mengkaji fenomena intoleransi berbasis agama tersebut dari perspektif Pancasila sebagai ideologi negara. Permasalahan yang diangkat adalah: bagaimana kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama mencerminkan krisis penerapan Pancasila, serta apa yang seharusnya dilakukan oleh negara dan masyarakat untuk mengembalikan semangat ideologi Pancasila ke dalam praktik kehidupan berbangsa dan beragama?

Artikel/Opini

“Tari Jaipong Sebagai Warisan Budaya: Menjaga Identitas Sunda Dalam Pusaran Global Dan Pembentukan Karakter Generasi Muda”

Pendahuluan

Tari Jaipong adalah seni tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat, Indonesia. Tarian ini memadukan gerak yang dinamis, ekspresif, dan energik dengan iringan musik tradisional yang ritmis. Sebagai identitas budaya masyarakat Sunda, Jaipong telah dikenal luas baik di tingkat nasional maupun internasional karena keunikan gerak dan estetika penyajiannya. Tari Jaipong dikembangkan oleh Gugum Gumbira pada tahun 1970-an. Tarian ini merupakan pengembangan dari seni tari Ketuk Tilu dan perpaduan dengan unsur pencak silat serta tari tradisional lainnya. Nama “Jaipong” sendiri diambil dari bunyi kendang yang mengiringi tarian tersebut, yaitu “jai” dan “pong”. Sejak kemunculannya, Jaipong menjadi fenomena budaya yang sangat populer dan menjadi simbol kreativitas seni tari rakyat yang modern namun tetap berakar pada tradisi.

Artikel/Opini

“Eksistensi Kesenian Bantengan Di Kalangan Generasi Muda Kota Malang”

Eksistensi yang Perlu Diperjuangkan Bersama

Kesenian Bantengan bukan sekadar warisan masa lalu, ia adalah cermin identitas dan kekayaan budaya Kota Malang yang terus relevan jika dirawat dengan sungguh-sungguh. Eksistensinya di kalangan generasi muda bukan sesuatu yang dapat diserahkan begitu saja pada mekanisme pasar atau arus zaman. Ia membutuhkan komitmen aktif dari komunitas adat yang membuka diri, dari pemerintah yang berpihak pada kebudayaan, dari lembaga pendidikan yang mengintegrasikan tradisi, dan dari generasi muda yang berani mengklaim identitas lokalnya di tengah derasnya globalisasi.
Bantengan tidak akan punah hanya karena zaman berubah. Ia akan punah jika kita berhenti peduli. Maka, pilihan ada di tangan kita terutama generasi muda Kota Malang untuk memutuskan apakah warisan ini layak diwariskan kembali?

Artikel/Opini

“Di Balik Kesunyian Bromo, Ada Kekhidmatan Yang Menyatu Dengan Lantunan Doa Para Leluhur”

Di balik hamparan lautan pasir yang membentang luas dan megahnya Gunung Bromo yang selama ini menjadi ikon pariwisata Jawa Timur, tersimpan sebuah ritual sakral yang telah diwariskan lintas generasi. Ritual tersebut adalah Yadnya Kasada, tradisi tahunan masyarakat Suku Tengger yang menjadi wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi sekaligus penghormatan kepada leluhur atas kehidupan dan hasil bumi yang mereka peroleh. Demi menjaga kekhidmatan prosesi ini, kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara mulai 30 Mei pukul 09.00 WIB hingga 2 Juni 2026 pukul 10.00 WIB, sehingga masyarakat adat dapat menjalankan seluruh rangkaian upacara tanpa gangguan aktivitas wisata. Penutupan ini menjadi bukti bahwa di balik keindahan alam Bromo yang memikat jutaan wisatawan, terdapat nilai-nilai budaya dan spiritual yang masih dijaga dengan penuh penghormatan oleh masyarakat Tengger.

Artikel/Opini

“Pancasila Dan Pertanian Ramah Lingkungan: Bukan Sekadar Teori Di Ruang Kelas”

Pertanian dan Tantangan Lingkungan

Kerusakan lingkungan akibat praktik pertanian konvensional semakin menjadi perhatian. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan dapat menurunkan kualitas tanah, mencemari air, serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak hanya dituntut menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Scroll to Top