Artikel/Opini

Artikel/Opini

“Di Bawah Cahaya Layar, Cerita Rakyat Nusantara Kian Meredup Bahkan Di Tempat Lahirnya”

Pergeseran Pola Hiburan Anak di Era Digital

Sejak jauh sebelum hadirnya televisi, gawai, dan media digital, masyarakat nusantara telah memiliki tradisi bertutur yang menjadi sarana hiburan sekaligus pendidikan antargenerasi. Cerita rakyat hidup di ruang-ruang sederhana, di beranda rumah, di bawah sinar samar lampu minyak, atau di sela malam yang sunyi, ketika seorang nenek atau kakek menuturkan kisah dengan suara yang hangat. Tanpa listrik, tanpa jaringan internet, dan tanpa teknologi modern, dongeng mampu membawa imajinasi anak-anak melintasi batas ruang, memperkenalkan nilai kehidupan, keberanian, kejujuran, hingga kearifan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Namun kenyataan di era sekarang telah membalikkan segalanya dengan kecepatan yang sulit dibayangkan sebelumnya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat bahwa 78,19% penduduk Indonesia telah mengakses internet, dengan penetrasi yang kini merambah hingga ke pedesaan seiring program perluasan infrastruktur digital pemerintah. Survei UNICEF Indonesia (2020) mengungkap bahwa anak-anak usia 7–12 tahun rata-rata menghabiskan 4–5 jam per hari di depan layar angka yang melampaui total waktu mereka untuk bermain di luar dan berinteraksi langsung dengan anggota keluarga.

Platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan berbagai aplikasi game online menawarkan stimulasi visual dan auditif yang intens, cepat, dan terus-menerus diperbarui. Konten yang disajikan dirancang secara algoritmis untuk menjaga perhatian pengguna selama mungkin sebuah mekanisme yang dalam ilmu komunikasi dikenal sebagai attention economy. Dalam persaingan memperebutkan perhatian anak, cerita rakyat yang linier, lambat, dan tidak interaktif tentu kalah telak melawan konten digital yang penuh efek kejutan. Ironisnya, pergeseran ini terjadi paling tajam di kalangan anak-anak pedesaan yang kini mendapatkan akses gawai lebih luas. Berbeda dengan kota besar yang memiliki perpustakaan, sanggar seni, dan komunitas budaya, anak-anak desa sering kali langsung melompat dari tradisi lisan ke layar sentuh, tanpa melewati tahap transisi literasi yang memadai.

Artikel/Opini

“Ketika Sila Pertama Diuji: Intoleransi Berbasis Agama dan Krisis Ideologi Pancasila”

Indonesia adalah negara yang berdiri di atas fondasi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menjamin hak setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Namun, realitas di lapangan seringkali bertolak belakang dengan cita-cita luhur tersebut. Kasus pembubaran paksa retret pelajar Kristen di Sukabumi (Juni 2025) dan perusakan rumah doa di Padang (Juli 2025) menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Artikel opini ini mengkaji fenomena intoleransi berbasis agama tersebut dari perspektif Pancasila sebagai ideologi negara. Permasalahan yang diangkat adalah: bagaimana kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama mencerminkan krisis penerapan Pancasila, serta apa yang seharusnya dilakukan oleh negara dan masyarakat untuk mengembalikan semangat ideologi Pancasila ke dalam praktik kehidupan berbangsa dan beragama?

Artikel/Opini

“Tari Jaipong Sebagai Warisan Budaya: Menjaga Identitas Sunda Dalam Pusaran Global Dan Pembentukan Karakter Generasi Muda”

Pendahuluan

Tari Jaipong adalah seni tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat, Indonesia. Tarian ini memadukan gerak yang dinamis, ekspresif, dan energik dengan iringan musik tradisional yang ritmis. Sebagai identitas budaya masyarakat Sunda, Jaipong telah dikenal luas baik di tingkat nasional maupun internasional karena keunikan gerak dan estetika penyajiannya. Tari Jaipong dikembangkan oleh Gugum Gumbira pada tahun 1970-an. Tarian ini merupakan pengembangan dari seni tari Ketuk Tilu dan perpaduan dengan unsur pencak silat serta tari tradisional lainnya. Nama “Jaipong” sendiri diambil dari bunyi kendang yang mengiringi tarian tersebut, yaitu “jai” dan “pong”. Sejak kemunculannya, Jaipong menjadi fenomena budaya yang sangat populer dan menjadi simbol kreativitas seni tari rakyat yang modern namun tetap berakar pada tradisi.

Artikel/Opini

“Eksistensi Kesenian Bantengan Di Kalangan Generasi Muda Kota Malang”

Eksistensi yang Perlu Diperjuangkan Bersama

Kesenian Bantengan bukan sekadar warisan masa lalu, ia adalah cermin identitas dan kekayaan budaya Kota Malang yang terus relevan jika dirawat dengan sungguh-sungguh. Eksistensinya di kalangan generasi muda bukan sesuatu yang dapat diserahkan begitu saja pada mekanisme pasar atau arus zaman. Ia membutuhkan komitmen aktif dari komunitas adat yang membuka diri, dari pemerintah yang berpihak pada kebudayaan, dari lembaga pendidikan yang mengintegrasikan tradisi, dan dari generasi muda yang berani mengklaim identitas lokalnya di tengah derasnya globalisasi.
Bantengan tidak akan punah hanya karena zaman berubah. Ia akan punah jika kita berhenti peduli. Maka, pilihan ada di tangan kita terutama generasi muda Kota Malang untuk memutuskan apakah warisan ini layak diwariskan kembali?

Artikel/Opini

“Di Balik Kesunyian Bromo, Ada Kekhidmatan Yang Menyatu Dengan Lantunan Doa Para Leluhur”

Di balik hamparan lautan pasir yang membentang luas dan megahnya Gunung Bromo yang selama ini menjadi ikon pariwisata Jawa Timur, tersimpan sebuah ritual sakral yang telah diwariskan lintas generasi. Ritual tersebut adalah Yadnya Kasada, tradisi tahunan masyarakat Suku Tengger yang menjadi wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi sekaligus penghormatan kepada leluhur atas kehidupan dan hasil bumi yang mereka peroleh. Demi menjaga kekhidmatan prosesi ini, kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara mulai 30 Mei pukul 09.00 WIB hingga 2 Juni 2026 pukul 10.00 WIB, sehingga masyarakat adat dapat menjalankan seluruh rangkaian upacara tanpa gangguan aktivitas wisata. Penutupan ini menjadi bukti bahwa di balik keindahan alam Bromo yang memikat jutaan wisatawan, terdapat nilai-nilai budaya dan spiritual yang masih dijaga dengan penuh penghormatan oleh masyarakat Tengger.

Artikel/Opini

“Pancasila Dan Pertanian Ramah Lingkungan: Bukan Sekadar Teori Di Ruang Kelas”

Pertanian dan Tantangan Lingkungan

Kerusakan lingkungan akibat praktik pertanian konvensional semakin menjadi perhatian. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan dapat menurunkan kualitas tanah, mencemari air, serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak hanya dituntut menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Artikel/Opini

“Batik Topeng Malangan: Menjadi Barang Fashion Di Industri Kain”

Pemilihan motif batik topeng:wajah asli Kota Malang

Kota Malang merupakan kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Malang, dengan destinasi yang sering dipilih oleh masyarakat Indonesia. Menurut wijaya et al. 2023, Pada tahun 2016, ada sekitar 9.535 Wisatawan mancanegara serta 3,9 juta wisatawan nasional yang mengunjungi kota Malang. Selain itu, kota Malang merupakan salah-satu Kota yang menyimpan kekayaan sejarah dan warisan budaya. Salah satu wujud warisan dari budaya Malang yaitu batik tulis Malangan, dengan representasi media seni yang menunjukan visual dari corak dan motif pada kain. Batik tulis Malangan memiliki motif dan pewarnaan yang memiliki makna di dalamnya, dengan diantaranya ada Tugu Malang, singa, bunga teratai, dan yang paling umum topeng Malang (Fillahnda, 2022).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bu Aulya, pemilik toko batik, motif batik Malangan sudah menjadi ikon batik dengan batuan peran pemerintah kota Malang pada tahun 2016. Hal ini berkaitan dengan tradisi di Kota Malang yang masih erat dengan tari Topeng Malangan. Dikenal sebagai item budaya yang hadir setiap acara formal, tarian, dan souvenir khas daerah, Itu salah satu sebab mengapa batik di Malang menghilight motif topeng sebagai wajah ikonik di Kota Malang. Hal tersebut tidak lewat dari kontribusi pengrajin batik yang bekerja sama dalam mengembangkan ide motif topeng Malang.

Artikel/Opini

“Makna Lompat Batu Di Pulau Nias Dalam Era Modern Antara Simbol Kejantanan Dan Atraksi Wisata”

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Budaya menjadi identitas suatu daerah sekaligus mencerminkan nilai sosial masyarakatnya. Salah satu budaya yang masih dikenal hingga saat ini adalah Fahombo Batu atau lompat batu dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Tradisi ini menampilkan aksi melompati susunan batu setinggi kurang lebih dua meter oleh para pemuda Nias. Pada masa lalu, Fahombo Batu memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat Nias. Tradisi ini digunakan sebagai simbol keberanian, kedewasaan, dan kesiapan seorang laki-laki dalam menghadapi peperangan. Selain itu, kemampuan melompati batu juga menjadi bentuk penghormatan sosial bagi pemuda yang berhasil melakukannya. Tradisi ini lahir dari kondisi kehidupan masyarakat Nias yang dahulu sering menghadapi

konflik antarkampung sehingga diperlukan latihan fisik dan mental bagi para pemuda. Namun, perkembangan zaman membawa perubahan terhadap keberadaan Fahombo Batu. Saat ini, tradisi tersebut lebih sering ditampilkan sebagai atraksi wisata budaya untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pergeseran fungsi ini menunjukkan adanya perubahan makna dari simbol budaya menjadi hiburan wisata dan komoditas ekonomi. Menurut Lase et al. (2021), tradisi Hombo Batu telah mengalami perubahan fungsi akibat pengaruh modernisasi dan pariwisata. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, tradisi termasuk dalam objek pemajuan kebudayaan yang perlu dilindungi dan diwariskan. Akan tetapi, di era media sosial saat ini, Fahombo Batu lebih sering dikenal melalui konten wisata dibandingkan nilai filosofisnya. Banyak generasi muda hanya memahami tradisi ini sebagai pertunjukan budaya tanpa mengetahui sejarah dan makna aslinya.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ishak Putra Telaumbanua, David Charles Telaumbanua, Anelius Hulu, Gatilina Tafonao, Primus Ndruru, dan Peres Laoli, sebagian besar responden menyatakan bahwa Fahombo Batu sekarang lebih dikenal sebagai atraksi wisata dibandingkan simbol kejantanan atau tradisi pendewasaan laki-laki. Bahkan, beberapa responden mengaku belum pernah mendengar secara langsung penjelasan mengenai Fahombo Batu sebagai simbol kesiapan perang pada masa lalu. Oleh karena itu, artikel ini membahas makna asli Fahombo Batu, perubahan fungsi tradisi tersebut di era modern, pandangan generasi muda terhadap keberadaannya, serta relevansinya sebagai identitas budaya masyarakat Nias saat ini.

Artikel/Opini

“Grebeg Pancasila: Tradisi yang Menghidupkan Pancasila atau Sekadar Seremonial?”

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan budaya populer, berbagai tradisi lokal di Indonesia menghadapi tantangan dalam mempertahankan makna dan eksistensinya. Tidak sedikit tradisi budaya yang pada akhirnya hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial tahunan tanpa pemahaman mendalam terhadap nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Padahal, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sarana pembentukan identitas, karakter, dan nilai kehidupan masyarakat.
Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga saat ini adalah Grebeg Pancasila yang diselenggarakan setiap tahun di Kota Blitar untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebagai kota yang memiliki keterkaitan erat dengan Bung Karno, pelaksanaan Grebeg Pancasila tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah lahirnya dasar negara Indonesia.

Artikel/Opini

“Pandangan Generasi Muda Terhadap Tradisi Selametan Sebagai Warisan Budaya Lokal”

Makna Selamtean Bagi Generasi Muda

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Masuknya budaya luar melalui media sosial, perubahan gaya hidup, hingga meningkatnya kesibukan generasi muda membuat sebagian tradisi mulai jarang dilakukan. Salah satu tradisi yang masih bertahan di beberapa daerah adalah tradisi selametan. Tradisi ini dikenal sebagai kegiatan berkumpul masyarakat untuk berdoa bersama, mengungkapkan rasa syukur, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Selametan biasanya dilakukan dalam berbagai momen seperti syukuran rumah, kelahiran, tahlilan, hingga acara adat tertentu.
Bagi sebagian orang, tradisi selametan mungkin terlihat sebagai budaya lama yang mulai tertinggal oleh zaman. Namun, di balik kesederhanaannya, selametan memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan masyarakat di tengah kehidupan modern yang semakin individualis. Kehadiran selametan mampu menciptakan suasana kebersamaan, mempererat hubungan antar tetangga, serta menjadi sarana untuk menjaga rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Tidak heran jika sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi tersebut hingga sekarang.

Scroll to Top